Setiap hari minggu di rumah, Bapak, Ibu,
Biru Laut, dan Asmara Jati makan bersama masakan Ibu sambil memutar piringan
hitam mendengarkan lagu The Beatles. Sebuah tradisi keluarga yang bermukim di
Ciputat. Kelak Bapak selalu menyediakan satu piring yang akan tetap kosong
hingga waktu makan berakhir, karena Biru Laut tak pernah lagi hadir, hilang sejak
Maret 1998.
Novel Laut Bercerita ini buku kedua karya
Leila S. Chudori yang kubaca setelah Pulang. Berkisah tentang sekelompok
mahasiswa yang hilang di penghujung Orde Baru, serta kegetiran keluarga
yang ditinggalkan. Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB
Jassin, buku ini termasuk paling digemari pembaca. Di bulan September-November
2025, status ketersediaannya selalu kosong saat aku melakukan pencarian di mesin
atau menanyakannya kepada petugas penjaga.
Buku setebal 379 halaman terbitan
Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2017 ini berisi dua bagian dari dua
sudut pandang. Bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, sebagai tokoh utama
dalam cerita. Dengan alur cerita yang maju-mundur, bercerita tentang sekolompok
mahasiswa Jogja yang membentuk kelompok diskusi rahasia dan melakukan perlawanan
kepada penguasa bersama buruh dan petani. Kegiatan yang dilakukan di bawah
bayang-bayang militer. Intimidasi dan kekerasan senantiasa menyertai, hingga masa
penculikan, penyekapan, dan penyiksaan itu tiba.
Sementara
bagian kedua dilihat dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Bercerita
tentang upaya keluarga yang tak pernah lelah mencari dan mempertanyakan anggota
keluarganya yang hilang.