Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2026

1 9 8 4


Nineteen Eighty-Four atau 1984 merupakan salah satu novel yang membuat nama penulisnya, George Orwell, masyhur. Novel terakhir Eric Arthur Blair (nama sebenarnya dari Orwell) yang terbit pertama kali pada tahun 1949, satu tahun sebelum kematiannya. Buku kedua karya novelis Inggris itu yang kubaca setelah Animal Farm

Winston Smith, tokoh utama dalam novel ini, seorang pegawai pada pemerintahan totaliter di sebuah negara bernama Oceania yang secara ekstrim mengontrol seluruh aspek kehidupan warga negaranya, baik di ruang publik maupun pribadi, termasuk dalam ranah pikiran. Perang adalah Damai, Kebebasan adalah Perbudakan, Kebodohan adalah Kekuatan, merupakan tiga jargon partai tunggal yang berkuasa di Oceania. Dengan kepemimpinan Bung Besar yang dikultuskan. 

Kediktatoran itu dijalankan melalui empat kementerian. Kementerian Kebenaran yang mengurusi  berita, hiburan, pendidikan, dan seni. Kementerian Perdamaian yang mengurusi perang. Kementerian Cinta Kasih yang mengurusi hukum dan ketertiban. Serta Kementerian Tumpah Ruah yang mengurusi perekonomian. Winston bekerja di Kementerian Kebenaran. Dia sehari-hari bekerja memproduksi narasi berita bohong tentang keberhasilan pemerintah.

Gerak-gerik warga diawasi melalui sebuah alat bernama Teleskrin (serupa kamera pengawas yang bisa menangkap dan mengeluarkan suara dan gambar) yang diletakkan di banyak tempat. Melalui Teleskrin informasi-informasi yang diproduksi pemerintah juga dipropagandakan. Di balik Teleskrin ada Polisi Pikiran yang senantiasa mengawasi. Sesama warga saling mencurigai.

Sabtu, 07 Februari 2026

#Reset Indonesia


Kenapa di Indonesia air dari keran tak bisa langsung diminum? Kenapa di negara yang sebagian besar laut ini, kita harus mengeluarkan banyak uang untuk menikmati seafood? Dengan kekayaan alam dan keragaman hayati yang melimpah, kenapa masih kerap terjadi kelangkaan bahan pangan dan kekurangan gizi? Pertanyaan yang menggelitik. Mungkin juga klise. Tapi apa akar masalahnya? 

Buku #Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru terbitan Koperasi Indonesia Baru yang ditulis oleh Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu ini memberikan jawaban sekaligus menunjukkan kondisi negara yang karut-marut akibat salah kelola.

Apa yang disampaikan oleh Farid Gaban dan kawan-kawan bukan berasal dari menara gading atau sekadar asumsi mereka, tapi hasil pengamatan langsung melalui tiga kali ekspedisi keliling Indonesia dengan sepeda motor bekas yang dimodali sebuah koperasi. Di beberapa tempat mereka tidur di rumah-rumah warga, kadang mendirikan tenda. Dengan metode ini, denyut nadi kehidupan rakyat serta daya juangnya bertahan hidup dapat diketahui dari dekat.

Tak hanya itu, untuk sebuah gagasan mereka menggunakan sumber acuan dari pemikiran seperti Muhammad Hatta, Mahatma Gandhi, Ernst Friedrich Schumacher, atau Vandana Shiva. Dilengkapi dengan penyajian data-data hasil penelitian dari lembaga kredibel. Latar belakang para penulis yang merupakan jurnalis membuat banyak persoalan yang disampailkan dalam tulisan, yang sesungguhnya kompleks, jadi mudah dibaca dan dicerna.

Rabu, 04 Februari 2026

Tabula Rasa


Tabula Rasa menceritakan kisah Galih, lelaki yang pernah kehilangan cintanya, Krasnaya, gadis rusia dan seorang pelukis yang ditemuinya pertama kali di Red Square, Moskwa. Saat itu Galih dan keluarganya bermukim di Negara yang berada di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev itu lantaran mengikuti dinas bapaknya sebagai duta besar. Dalam situasi politik menjelang bubarnya Uni Soviet, Krasnaya mati terbunuh. 

Sepuluh tahun kemudian, saat Galih menjadi dosen di Yogyakarta, dia bertemu Raras, seorang mahasiswi yang juga pelukis. Raras menyimpan luka masa lalu dan mengalami kegamangan akibat orientasi seksual yang berbeda. Galih dan Raras menjalin kasih.

Tabula Rasa merupakan novel pertama Ratih Kumala, penulis yang juga menulis Gadis Kretek, novel yang telah diadaptasi dalam film oleh sepasang sutradara, Kamila Andini dan Ifa Isfansyah. Ratih juga istri dari penulis Eka Kurniawan, yang bukunya Lelaki Harimau baru selesai kubaca di bulan Januari lalu.

Senin, 02 Februari 2026

Malaikat Lereng Tidar



Malaikat Lereng Tidar ini buku fiksi kelima karya Remy Sylado (1945-2022) yang kutamatkan membacanya, setelah sebelumnya Novel Pangeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah Keringat Airmata. Selalu menyenangkan membaca karya-karya penulis serba bisa ini. 

Buku terbitan Kompas tahun 2014 dengan 544 halaman itu berisi cerita tentang lika-liku kehidupan dua tokoh, Jehezkiel Tambayong dan Toemirah. Jez, panggilan Jehezkiel, seorang pemuda dari Minahasa yang direkrut menjadi marsose oleh Belanda. Sebuah pasukan militer khusus yang terdiri dari orang-orang Jawa, Manado, dan Ambon yang dibentuk pada tahun 1890 untuk menghadapi perlawanan sengit rakyat Aceh dalam Perang Aceh (1873-1904). Perang itu sendiri telah membuat pusing dan menguras keuangan pemerintah kolonial Belanda.

Dari Minahasa, Jez beserta pasukannya dibawa ke Magelang untuk dilatih sebelum diterjunkan ke Aceh. Saat di Magelang inilah Jez bertemu dengan gadis penjaga warung yang rupawan, Toemirah. Keduanya mabuk asmara dan terikat cinta, membuat jengkel Soembino, lelaki kontet dengan muka prongos yang sudah memiliki delapan istri. Pasalnya Soembino yang seorang pengusaha ini telah lama menaksir Toemirah, dan berniat menjadikannya istri ke sembilan. Setelah kepergian Jez dan pasukan ke Aceh meninggalkan Toemirah yang sudah dinikahi secara mendadak, Soembino merencanakan kejahatan yang kelak membuat nestapa hidup Toemirah, bapaknya, Ngatiman, dan ibunya, Soetirah.

Minggu, 25 Januari 2026

Metamorfosa Samsa


Di kehidupan yang serba sulit, apakah keluarga benar-benar menerima dan mencintai kita apa adanya? Persoalan itulah yang menjadi inti cerita dari karya fiksi klasik berjudul Metamorfosa Samsa karangan Franz Kafka, novelis asal Praha, Ceko. Buku yang kubaca merupakan terjemahan Sigit Susanto (orang Kendal, Jawa Tengah, yang bermukim di Jerman) dari karya asli berbahasa jerman berjudul Die Verwandlung

Setelah mengalami mimpi buruk, Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya berubah menjadi kumbang raksasa yang menjijikan di atas kasurnya. Gregor panik. Bukan karena perubahan wujudnya, tapi karena takut terlambat kerja sebagai penjual keliling di sebuah agensi. Pembukaan cerita yang menurutku sangat absurd alias tidak masuk akal.  Tapi bagaimanapun ini fiksi.

Lima tahun sebelumnya bisnis Ayahnya bangkrut, Gregor mengambilalih menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Menghidupi Ayah, Ibu, dan adik perempuannya, Grete. Tentu saja keluarga merasa bingung atas perubahan diri Gregor. Agar tak diketahui orang lain, Gregor diisolasi di kamarnya. Ekonomi keluarga terguncang. Tiga anggota keluarga lain mencari jalan keluar, sambil merawat si kumbang Gregor.

Kamis, 22 Januari 2026

Lelaki Harimau


Margio, pemuda kampung itu telah membunuh Anwar Sadat, lelaki tua yang merupakan tetangganya. Peristiwa itu menggemparkan. Bukan saja menimbulkan tanya kenapa Margio sampai hati melakukan itu? Tapi juga sebuah keanehan, karena terbunuhnya Anwar akibat gigitan Margio yang mengoyak tenggorokannya. 

Terbunuhnya seorang seniman kapiran, Anwar Sadat, menjadi pembuka cerita karangan Eka Kurniawan dalam novelnya Lelaki Harimau. Ini perdana aku membaca karya penulis kelahiran Tasikmalaya itu. Karya-karyanya populer di jagat sastra Indonesia, terutama novel pertamanya Cantik Itu Luka, yang kerap muncul di lini masa media sosialku.

Tadinya kepergianku ke Perpustakaan di Taman Ismail Marzuki Jakarta untuk mengembalikan dua buku yang kupinjam, Si Anak Savana (Tere Liye) dan Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis), sekaligus meminjam dua buku baru, salah satunya Cantik Itu Luka. Namun karena koleksi yang tersedia sedang dipinjam, aku justru mendapatkan judul lain, yaitu novel yang baru saja kutamatkan ini.

Setelah kubaca memang terlihat gaya penulisan Eka Kurniawan sangat menarik. Piawai merinci situasi dan menggunakan diksi yang membuatku larut dalam imajinasi. Alur cerita novel Lelaki Harimau ini mengingatkan pada film Memento garapan sutradara Christopher Nolan. Bergerak mundur ke belakang secara bertahap.

Sabtu, 10 Januari 2026

Harimau! Harimau!


Novel berjudul Harimau! Harimau! ini karangan Mochtar Lubis, wartawan dan sastrawan yang pernah dipenjara oleh dua rezim, era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Ini pertama kalinya aku membaca fiksi karyanya. Ceritanya mengalir dan enak dibaca. Aku membacanya dari buku terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia cetakan kesebelas berisi 214 halaman. Kupinjam dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Bercerita tentang tujuh orang yang pergi ke hutan untuk mencari dan mengumpulkan damar. Terdiri dari tiga orang yang dituakan di kampung: Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, dan Pak Balam. Serta empat pemuda kampung yang dianggap sopan dan baik: Buyung, Sanip, Sutan, dan Talib.

Di tengah hutan mereka bertemu dan diburu oleh seekor harimau tua lapar. Pak Balam menjadi korban pertama. Sekujur badannya tercabik-cabik, namun berhasil diselamatkan. Peristiwa itu meniciptakan ketakutan sekaligus menjadi awal mula terbongkarnya rahasia mereka masing-masing, yang membuat perseteruan di tengah upaya bertahan hidup di rimba raya.

Minggu, 04 Januari 2026

Namaku Alam


Dada sesak lantaran merasakan pilu dan mendongkol, sekaligus larut dalam kehangatan hubungan keluarga dan persahabatan dari kehidupan tokoh utama dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Sebegitu emosionalnya membaca novel yang sebetulnya sudah kumulai di akhir tahun 2025 lalu ini, menjadikannya buku fiksi pertama yang kutamatkan di awal tahun 2026. Aku membaca cetakan keduabelas buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2025 yang berisi 438 halaman dengan sampul warna merah bergambar burung nasar.

Segara Alam, tokoh utama dalam novel fiksi ini, adalah anak dari Hananto Prawiro, tahanan politik (tapol) yang ditembak mati pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Hananto seorang wartawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi yang oleh rezim saat itu dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia,  partai yang dituduh melakukan gerakan kudeta itu.

Sebagai anak bungsu yang hidup bersama Ibu dan kedua kakak perempuannya, Segara Alam tidak banyak mengetahui kisah kelam keluarganya. Alam lahir di tahun yang sama saat terjadinya Gerakan 30 September. Alam yang masih bayi turut dibawa ke ruang tahanan bersama kedua kakaknya saat Ibunya diinterogasi, mengalami pelecehan dan penyiksaan lantaran bapaknya menghilang. Bapaknya tertangkap saat Alam berusia tiga tahun. Kemudian ditembak mati saat Alam berusia lima tahun.

Selasa, 02 Desember 2025

Laut Bercerita


Setiap hari minggu di rumah, Bapak, Ibu, Biru Laut, dan Asmara Jati makan bersama masakan Ibu sambil memutar piringan hitam mendengarkan lagu The Beatles. Sebuah tradisi keluarga yang bermukim di Ciputat. Kelak Bapak selalu menyediakan satu piring yang akan tetap kosong hingga waktu makan berakhir, karena Biru Laut tak pernah lagi hadir, hilang sejak Maret 1998. 

Novel Laut Bercerita ini buku kedua karya Leila S. Chudori yang kubaca setelah Pulang. Berkisah tentang sekelompok mahasiswa yang hilang di penghujung Orde Baru, serta kegetiran keluarga yang ditinggalkan. Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, buku ini termasuk paling digemari pembaca. Di bulan September-November 2025, status ketersediaannya selalu kosong saat aku melakukan pencarian di mesin atau menanyakannya kepada petugas penjaga.  

Buku setebal 379 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2017 ini berisi dua bagian dari dua sudut pandang. Bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, sebagai tokoh utama dalam cerita. Dengan alur cerita yang maju-mundur, bercerita tentang sekolompok mahasiswa Jogja yang membentuk kelompok diskusi rahasia dan melakukan perlawanan kepada penguasa bersama buruh dan petani. Kegiatan yang dilakukan di bawah bayang-bayang militer. Intimidasi dan kekerasan senantiasa menyertai, hingga masa penculikan, penyekapan, dan penyiksaan itu tiba.  

Sementara bagian kedua dilihat dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Bercerita tentang upaya keluarga yang tak pernah lelah mencari dan mempertanyakan anggota keluarganya yang hilang.

Jumat, 28 November 2025

Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata


Buku setebal 592 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia karya Remy Sylado ini sebuah novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama Gertruida van Veen bersama kekasihnya yang seorang pelukis, Rob Verschoor, pergi merantau dari Amsterdam menuju Hindia-Belanda setelah ditawari sebuah pekerjaan melukis untuk seorang bangsawan di Jogja dan sebuah proyek pameran lukisan di Bandung. 

Tanpa mereka sadari tawaran pekerjaan itu upaya manipulatif untuk menjerumuskan Gertruida, yang memang berparas cantik, dalam bisnis prostitusi di Bandung yang dikelola oleh seorang Belanda. Niscaya Gertruida dan Rob harus melalui jalan berliku menghadapi setiap persoalan yang akan mereka alami di Hindia-Belanda.

Belajar sejarah dan memperkaya kosakata. Itu kesanku setelah membaca empat buku karya Remy Sylado (Novel Pengeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata). 

Remy Sylado selalu menyisipkan fakta-fakta sejarah dalam karya fiksinya. Misalnya dalam buku Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata ini yang latar waktu ceritanya di sekitar tahun 1920-1930, selain mengenalkan sejarah gedung dan nama-nama jalan pada masa itu, khususnya di Bandung, Remy Sylado juga memotret tumbuhnya pergerakan kemerdekaan Indonesia, semacam Indische Partij atau Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).

Senin, 17 November 2025

Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa


Setelah membaca dua karyanya Novel Pangeran Diponegoro dan Kerudung Merah Kirmizi, aku langsung menggemari gaya penulisan Remy Sylado yang menurutku lugas, sarat informasi, dan mengenalkanku pada kosakata yang tak lazim. Aku melanjutkan membaca karya lainnya Perempuan Bernama Arjuna. Kisah mahasiswi filsafat yang kuliah di Amsterdam, Belanda. 

Sayangnya aku hanya sanggup membaca sampai setengah buku, lantaran sedang malas dengan topik berat yang diangkat dalam novel itu, yaitu filsafat. Sebenarnya buku menarik, hanya kubaca pada waktu yang tidak tepat. Buku itu serupa Dunia Shopie karya Jostein Gaarder.

Aku kembalikan buku Perempuan Bernama Arjuna ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Perpustakaan Jakarta dan menggantinya dengan Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa, buku yang pada tahun 2002 pernah diadaptasi menjadi film oleh sutradara Nia Dinata.

Bercerita tentang kisah Siti Nurhayati atau Tinung, perempuan Betawi yang buta huruf. Setelah ditinggal mati oleh lelaki yang telah menjadikannya istri kelima, keadaan memaksa Tinung terjerumus dalam dunia prostitusi di Kali Jodo, Batavia. Tinung diajarkan menari dan menyanyi sebagai bekal menjadi perempuan penghibur.

Minggu, 09 November 2025

Pangku, Cinta dan Ketabahan dalam Kemiskinan

 

Kemiskinan begitu lekat dengan masyarakat pesisir atau pinggiran, namun mereka tabah menghadapi persoalan yang silih berganti. Terutama kekuatan seorang Ibu. Kondisi itu digambarkan persis oleh Reza Rahadian dalam debutnya sebagai sutradara di film "Pangku" yang kutonton sore tadi bersama istriku, Afidah, di bioskop dekat rumah, Kota Cinema Mall (KCM) Wisma Asri Bekasi. 

Pangku merujuk pada istilah "Kopi Pangku" praktik prostitusi yang tumbuh dan kembang sejak zaman kolonialisme Belanda di sepanjang Jalan Raya Pos atau Daendles atau Pantura. Ahmad Effendi mengulas itu dengan apik melalui tulisannya "Kopi Pangku, Jejak Kolonial yang Menyala Remang di Pantura" di laman Mojok.

Sartika (Claresta Taufan), yang tak diketahui asal-usulnya, nekat pergi dari rumah seorang diri dalam keadaan hamil 8 untuk mencari pekerjaan. Truk tumpangan menurunkannya di pinggiran Jalan Pantura. Lalu dia singgah di warung kopi yang sepi milik perempuan tua, Maya (Christine Hakim). Lantaran iba hati, Maya mengajak Sartika hidup bersama dan menganggapnya sebagai anak. Sartika bekerja serabutan. Anak yang dikandungnya lahir dan diberi nama Bayu (Shakeel Aisy). Terdesak oleh kebutuhan ekonomi, Sartika pada akhirnya terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi Maya dan jatuh di setiap pangkuan pelanggan lelaki. Warung menjadi ramai. Hingga suatu hari datang Hadi (Fedi Nuril), sopir mobil muatan ikan, pelanggan yang memberi cinta dan harapan kepada Sartika dan Bayu. 

Film itu terbilang minim dialog, tapi peran Claresta Taufan, Fedi Nuril, Shakeel Aisy, dan Christine Hakim menjadikannya begitu nyata dan hidup, membuatku larut dalam suasana haru dan menahan tangis (Bekasi, 8 November 2025).

Sabtu, 25 Oktober 2025

Kerudung Merah Kirmizi


Terkesan akan gaya penulisan Novel Pangeran Diponegoro, aku tertarik membaca karya lain Remy Sylado, nama pena dari Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. 

Saat melakukan peminjaman buku di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Perpustakaan Jakarta, ada tiga pilihan judul buku: Cau Bau Kan, Paris Van Java, dan Kerudung Merah Kirmizi. Aku pilih judul terakhir karena memiliki cerita dengan alur waktu di sekitar era reformasi. Buku dengan tebal 674 halaman terbitan Keputakaan Populer Gramedia.

Bercerita tentang ambisi Sampurno atau Oom Sam, pengusaha pun pensiunan ABRI, yang menginginkan tanah seluas 32 ha di wilayah Gelgel, Bali. Sebab di tanah itu tertanam harta rampasan serdadu Jepang. Tanah itu milik guru besar ekonomi yang terkenal, Luc Sondak dan anaknya, Laksmi.

Melalui Dela Hastuti, orang kepercayaan sekaligus keponakan dan pemuas hasrat seksualnya, Oom Sam mendekati Luc dan Laksmi. Dalam proses negosiasi itu Luc Sondak bertemu dan menjalin kasih dengan Myrna Andriono, penyanyi klub di sebuah hotel di Jakarta.

Laksmi menolak menjual tanahya. Jelas itu membuat marah Oom Sam, orang yang bertabiat menghalalkan segala cara, termasuk menggunakan pesuruh dari kepolisian dan militer untuk melakukan kekerasan.

Selasa, 21 Oktober 2025

Alkemis dan Diponegoro


Selasa lalu, 30 September 2025, berkunjung ke Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki. Mengembalikan dan meminjam dua buku baru. Alkemis karya Paulo Coelho dan Novel Pangeran Diponegoro Menggagas Ratu Adil karya Remy Sylado. 

Alkemis bercerita tentang seorang anak penggembala domba di Andalusia atau Spanyol bernama Santiago. Dia bersama domba-dombanya melakukan perjalanan untuk mencari harta karun yang berdasarkan mimpinya ada di Mesir. Paulo Coelho menuturkan kisah Santiago seperti dongeng yang penuh kebijaksanaan yang disampaikan melalui tokoh-tokoh di dalamnya.

Novel Pengeran Diponegoro ditulis mendiang Remy Sylado, orang yang serba bisa. Meskipun sudah lama kutahu sosoknya, juga buku populernya yang sudah diangkat dalam film dengan judul sama Cau Bau Kan, tapi baru kali ini aku membaca karyanya. Lantaran karena aku malas membaca buku. 

Bangsawan keraton Jogja yang melawan Belanda dalam Perang Jawa. Cuma itu yang aku tahu tentang Pangeran Diponegoro sebelum membaca karya Remy Sylado. Melalui tokoh dalam novel, Ratnaningsih, seorang jurnalis yang sedang membuat liputan, Remy Sylado menuturkan fakta-fakta tentang Ontowiryo yang selama ini kukenal sebagai Pangeran Dipenogoro. Buku ini menarik dan menambah wawasan. (Bekasi, 5 Oktober 2025)

Barasuara, Riuh dan Energik


Lantaran gemar memutar video musik Efek Rumah Kaca di Youtube, algoritma menuntunku ke grup Barasuara. Saat itu tahun 2016, aku masih bekerja dan menetap di Semarang. Api dan Lentera lagu pertama yang kudengar. Suara gitar, bass, dan drum begitu hidup, vokalnya pun riuh. Aksi panggungnya energik dengan keunikan vokalisnya yang kerap menggunakan batik.

Saat itu grup dengan personil Iga Massardi (vokal, gitar), Asteriska (vokal), Puti Chitara (vokal, keyboard), Gerald Situmorang (bass), TJ Kusuma (gitar), dan Marco Steffiano (drum) ini ternyata baru merilis satu album debut berjudul Taifun di tahun 2015.

Album Taifun berisi sembilan lagu yaitu Nyala Suara, Sendu Melagu, Bahas Bahasa, Hagia, Api dan Lentera, Menunggang Badai, Tarintih, Mengunci Ingatan, dan Taifun. Semua lirik berbahasa Indonesia dengan pemakaian diksi yang menarik, kebanyakan lagu dinyanyikan secara repetitif.

Jumat, 17 Oktober 2025

Sehari dalam Hidup Abed Salama


Serasa menonton film berdasarkan kisah nyata saat membaca setiap lembar buku non-fiksi Sehari dalam Hidup Abed Salama karya Nathan Thrall, jurnalis berkebangsaan Amerika yang menetap di Yerusalem ini. Sebuah laporan jurnalisme yang dikemas dengan apik dan pilu tentang kondisi warga Palestina, khususnya di wilayah Tepi Barat, di bawah pendudukan Israel. 

Sebuah kecelakaan bus sekolah yang membawa rombongan anak-anak TK dan gurunya. Bus tertabrak truk proyek milik Israel di sebuah jalan pinggir tebing saat cuaca buruk. Salah satu korban peristiwa yang terjadi pada tahun 2012 itu adalah Milad Salama, putra sulung Abed Salama, seorang warga Palestina yang tinggal di Anata, kota kecil di wilayah Al Quds, perbatasan Yerusalem dan Tepi Barat.

Kecelakaan itu menjadi permulaan cerita yang oleh Nathan diungkap melalui kesaksian banyak orang yang diwawancarai. Mulai dari sopir bus, sopir truk, relawan, tenaga kesehatan rumah sakit, otoritas Palestina, tentara Israel, dan tentunya Abed Salama sendiri. Tak sekadar peristiwa kecelakaan, potongan-potongan cerita itu pun mengungkapkan kehidupan bangsa Palestina dalam bayang-bayang Israel.

Buku terjemahan setebal 200 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini membuatku, yang tidak tahu banyak konflik Palestina-Israel, mendapat gambaran lebih dekat kehidupan bangsa Palestina yang terkekang akibat penerapan kebijakan apartheid oleh Israel yang memperlakukan mereka secara diskriminatif semacam penerbitan kartu identitas penduduk (kartu biru dan kartu hijau) dan pembangunan tembok pembatas wilayah.

Malapetaka. Sebuah penindasan dalam bentuk paling primitif, yang ironisnya dilakukan oleh 'bangsa terpilih' yang diakui kecerdasannya dan terjadi di era modern. (Jakarta, 16 Oktober 2025)

Jumat, 10 Oktober 2025

Rangga & Cinta, Mengenang Masa Muda


Karena perkembangan kognitif atau bertambahnya usia dan pengalaman hidup, film yang belasan tahun lalu pernah kutonton, memberikan sensasi berbeda ketika ditonton kembali. Itu kualami kemarin, ketika menonton film "Rangga & Cinta" di bisokop dekat rumah, KCM Wisma Asri. Meski menampilkan pemeran yang seluruhnya baru, tapi alur ceritanya sama dengan "Ada Apa Dengan Cinta?" yang dirilis tahun 2002. 

Hal lain yang membedakan adalah konsep musikal yang memberi kesegaran, walaupun genre film musikal masih sulit diterima di hati penonton, tapi Riri Reza, selaku penulis dan sutradara, cukup berani dan percaya diri menawarkan film demikian. Petualangan Sherina dan Bebas dua film Riri lainnya yang bergenre musikal.

Di Rangga & Cinta, aku paling suka karakter Alya yang diperankan Jasmine Nadya. Peran Leya Princy sebagai Cinta juga menarik karena seperti melihat Dian Satro di layar. Sementara El Putra sebagai Rangga suaranya merdu. Adegan Rangga memainkan piano dan menyanyikan lagu Suara Hari Seorang Kekasih amat elok.

Buku "Aku" karya Sjuman Djaya tetap menjadi perantara kedekatan Rangga dan Cinta. Buku "Gadis Pantai" karya Pramoedya Ananta Toer juga sempat dilirik oleh Cinta dalam salah satu adegan. (Bekasi, 10 Oktober 2025)

Nelson Mandela, Anak Kepala Suku Penentang Apartheid

 

Penerbit Binarupa Aksara menerbitkan buku Jalan Panjang Menuju Kebebasan Otobiografi Nelson Mandela ini pada tahun 1995, terjemahan dari buku Long Walk To Freedom The Autobiography of Nelson Mandela. Terdiri dari 623 halaman dan 8 bagian. Kisah seorang yang kehidupannya menginspirasi pemberian nama untuk anak sulungku. 

Nelson Rolihlahla Mandela lahir pada 18 Juli 1918 di sebuah desa distrik Umtata, Transkei. Transkei pernah menjadi negara saat Afrika Selatan masih berada di bawah rezim apartheid. Saat ini Transkei melebur menjadi bagian wilayah Provinsi Tanjung Timur, Afrika Selatan.

Mandela berasal dari Suku Thembu yang merupakan bagian dari bangsa Xhosa. Bangsa terbesar yang ada di Transkei. Sejak kecil ia dipanggil "Madiba", nama yang diambil dari nama Kepala Suku Thembu di abad 18. Panggilan itu menurutnya sebagai bentuk penghormatan.

Saat usianya 9 tahun, setelah ayahnya yang pernah menjabat sebagai kepala suku meninggal, Mandela kemudian diangkat menjadi anak oleh seorang wali raja, Jongintaba, yang merasa berutang budi pada ayah Mandela. Mandela kemudian akrab dengan Justice, anak laki-laki dari Jongintaba. Saat berada dalam pengasuhan Jongintaba inilah Mandela mendapatkan pendidikan modern yang dikembangkan oleh misionaris gereja. Tujuannya agar kelak Mandela dapat menjadi seorang penasihat raja.

Kamis, 18 September 2025

Rumah Kertas


Buku tipis yang terdiri dari 79 halaman terbitan Marjin Kiri, berjudul Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez yang kubawa dalam perjalanan kerja ke Jayapura, Papua. Buku yang bercerita tentang sosok Aku, sebagai tokoh utama, yang harus menggantikan posisi Blumma Lennon, Profesor pada jurusan sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge, yang meninggal tertabrak mobil saat berjalan sambil membaca buku 'Poems' karya Emily Dickinson. 

Aku menemukan paket yang berasal dari Uruguay (tanpa identitas pengirim) dan dialamatkan kepada mendiang Blumma di ruang kerjanya. Paket tersebut berisi buku 'La linea de sombra' terjemahan spanyol dari 'The Shadow Line' karya Joseph Condrad. Buku lawas yang ternoda serpihan semen.

Aku kemudian mencari tahu siapa pengirimnya dan berniat mengembalikan buku tersebut, itu dia lakukan sembari pulang kampung ke Buenos Aires, Argentina. Dalam pencariannya, Aku bertemu dengan para penggila buku untuk sampai menuju pada sosok Carlos Brauer, sang pengirim buku.

Membaca buku ini seperti membuka kontak pandora yang berisi daftar pustaka sastra karya-karya penulis tersohor. Buku ini juga menceritakan tingkah-tingkah 'aneh' penggila buku. (Jayapura, 4 Desember 2024)

Kamis, 04 September 2025

Siapa Dia, Sejarah Film di Indonesia


Aktor Nicholas Saputra diidolakan banyak perempuan, termasuk istriku, Afidah. Ini bukan catatan lelaki kalem nan tampan itu, tapi film terbarunya "Siapa Dia" garapan sutradara Garin Nugroho, yang semalam kutonton di bioskop di Summarecon Mall Bekasi. Film musikal yang menarasikan sejarah perkembangan seni pertunjukan atau perfilman di Indonesia. Sejak era kolonial belanda sampai pasca reformasi. 

Kisah tentang Layar (Nicholas Saputra) seorang sutradara, yang mengalami kebuntuan ide pasca kesuksesan film sebelumnya. Lalu dia berkunjung ke rumah tantenya, Kenes (Sita Nursanti) dan menemukan koper peninggalan keluarga yang berisi dokumen perjalanan hidup buyut, kakek, dan ayahnya. Dari situlah muncul inspirasi membuat film. 

Film terdiri dari 5 babak, terdiri dari: (1) Prolog yang mengawali cerita tentang isi koper; (2) kisah buyut; (3) kisah kakek; (4) kisah ayah; dan (5) Epilog. Dari film ini aku jadi tahu, ada kelompok teater keliling bernama Komedi Stamboel di era penjajahan kolonial belanda. Tidak sekadar menghibur, kelompok ini memiliki peran politik karena menjadi alat pengalih perhatian pemerintah belanda dari pergerakan buruh kereta dan sarekat islam yang saat itu sedang berkembang. Di dalam film digambarkan Nurlela (Monita Tahalia) aktris dari Komedi Stamboel, kekasih tak sampainya kakek buyut Layar, dihukum mati dengan cara ditembak. 

Di era kolonial belanda juga muncul film Loetoeng Kasaroeng, yang konon merupakan film pertama di Indonesia. Di masa penjajahan jepang, ada upaya pengajaran pembuatan film tapi untuk kepentingan propaganda rezim fasis jepang. Ah, rasanya lebih nikmat menonton langsung daripada menceritakan film bagus ini. (31 Agustus 2025)