Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2026

Namaku Mata Hari


Namaku Mata Hari merupakan judul keenam novel karya Remy Sylado (1945-2022) yang pernah kubaca. Sebelumnya ada Novel Pengeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan, Parijs van Java, dan Malaikat Lereng Tidar. Selalu menyenangkan membaca karya-karya penulis serba bisa yang nyentrik keturunan Minahasa itu. 

Margaretha Geertruida alias Mata Hari, tokoh utama dalam cerita, adalah seorang pelacur. Dia tak pernah merasa terhina dengan sebutan itu. Perempuan Belanda yang telah melakukan sanggama dengan banyak laki-laki, mulai dari jenderal dan pejabat tinggi. Namanya mulai tersohor setelah tampil sebagai penari profesional di Paris, Prancis.

Dia pelacur yang pandai dan berbakat. Menjaga kecerdasannya dengan selalu membaca buku di perpustakaan, serta piawai menari erotis jawa yang dipelajarinya di Borobudur, Magelang, saat dia ikut suaminya, Rudolph MacLeod, tentara Belanda yang berkewarganegaraan Skotlandia, pindah bekerja di Hindia Belanda. Mata Hari juga seorang poliglot yang menguasai tujuh bahasa asing.

Rabu, 18 Maret 2026

Negeri Senja

 

Aku, tokoh utama dalam novel ini, musafir yang telah mengembara selama 30 tahun, melintasi berbagai negara. Tak ada tujuan selain melupakan kesedihan yang tak kunjung redam. Sampai tibalah dia di Negeri Senja, negeri di mana matahari tak pernah benar-benar tenggelam. Langit selalu menyemburatkan warna jingga keemasan, tanpa siang, tanpa malam. 

Negeri yang berada dalam kuasa perempuan buta bernama Tirana, yang bisa membaca pikiran orang dan memenjarakan roh orang mati. Tiada kebebasan, tiada pengetahuan. Rakyatnya hidup dalam kegelapan, kesunyian, dan ketakutan. Setiap protes meski masih dalam pikiran dapat diketahui Tirana dan langsung ditindas, dengan hukuman mati.

Masa lalu membentuk kediktatoran Tirana, yang semula pemberontak terhadap penguasa sebelumnya. Selama 300 tahun Tirana berkuasa, pemberontakan yang menentang kekuasaannya senantiasa hadir dan bergerak di bawah tanah. Semua berhasil ditumpasnya. Muncul penantian rakyat akan kehadiran sang juru selamat, Penunggang Kuda dari Selatan.

Jumat, 13 Maret 2026

Na Willa

 

"Quand je more tourne vers mes souvenirs, je revois la maison où j'ai grandi" sebuah kutipan lagu milik penyanyi perempuan Prancis, Françoise Hardy. Artinya kurang lebih begini: saat aku mengenang masa lalu, aku melihat rumah tempatku dibesarkan. Kutipan itu ada di halaman bagian depan buku Na Willa karya Reda Gaudiamo. Kutipan yang cukup mewakili isi buku setelah kubaca sampai akhir. Bernostalgia. 

Bercerita tentang seorang anak bernama Na Willa, seusia anak Taman Kanak-Kanak (TK), yang menjalani kehidupannya di sebuah gang di Kota Surabaya. Hidup di rumah bersama Mak dan Mbok, sementara Pak kerap pergi berlayar. Bermain bersama Farida, yang tak bisa mengucap huruf 'r', Bud, yang suka mengeluarkan ingus, juga Dul, yang jago main kelereng dan layang-layang. Willa anak paling kecil di antara kawan-kawannya itu.

Jalan cerita diambil dari sudut pandang Na Willa, mengajakku melihat cara pandang anak-anak. Banyak hal lucu, misalnya ketika Willa merasa heran dengan Radio yang bisa mengeluarkan suara orang bernyanyi dan berbincang-bincang. Didorong rasa ingin tahu yang besar, dibongkarnya radio itu menggunakan obeng untuk memastikan apakah ada orang di dalamnya.

Senin, 09 Maret 2026

The Accusation, Kisah Terlarang dari Korea Utara

 

Setelah membaca novel 1984 karya George Orwell yang mencekam itu, membuatku penasaran dengan kehidupan sehari-hari di Korea Utara, negara yang saat ini masih menutup diri dari dunia luar dan penguasanya dikenal menjalankan kepemimpinan dengan tangan besi. Rasa penasaran itu mempertemukanku dengan buku terjemahan berjudul The Accusation, Kisah Terlarang dari Korea Utara

Buku setebal 248 halaman, terbitan Sociality tahun 2018 itu berisi tujuh cerita pendek (cerpen) yang ditulis oleh Bandi, nama pena dari penulis yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan. Bandi dalam bahasa Korea berarti kunang-kunang. Cerita-cerita itu ditulis oleh Bandi dalam rentang waktu sekitar 1989-1995, saat Korea Utara masih dalam kepemimpinan Kim Il-Sung dan masa peralihan ke kepemimpinan Kim Jong Il. Keduanya adalah Kakek dan Ayah dari Kim Jong-Un, Pemimpin Tertinggi Korea Utara saat ini.

Saat buku ini diterbitkan pertama kali di Korea Selatan, Bandi masih berada di Korea Utara. Tinggal bersama istri dan anaknya. Naskah aslinya berhasil diselundupkan berkat kerabat dan kawan-kawannya. Sebab mustahil menerbitkan cerita itu di Korea Utara. Meski fiksi tapi apa yang diceritakan oleh Bandi dipercaya menggambarkan kehidupan nyata di Korea Utara, serta kritik tersurat terhadap rezim yang totaliter.

Jumat, 27 Februari 2026

30 Paspor The Peacekeepers' Journey


Mahasiswa diwajibkan memiliki paspor, kemudian diminta pergi sendirian ke satu atau dua negara yang memiliki bahasa dan budaya berbeda dengan Indonesia. Tidak boleh ditemani. Segala persiapan diurus secara mandiri, tidak boleh dibantu keluarga atau teman. Sebaliknya, di negara tujuan mereka diminta membantu siapa saja yang ditemui. Membawa pesan damai dengan cara sederhana. Hasil berpergian itu dibuat laporan dalam bentuk makalah dan dipresentasikan. 

Metode belajar yang unik dan 'gila' itu diterapkan oleh Rhenald Kasali, untuk mata kuliah Pemasaran Internasional di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tentu saja metode itu diprotes pihak kampus maupun orangtua mahasiswa. Metode itu tidak ada di silabus, mengganggu perkuliahan dosen lain, kecemasan orangtua karena anaknya harus sendirian di luar negeri, dan tentu saja biaya yang tidak sedikit. Itu beberapa hal yang dikeluhkan.

"Ibarat eksplorasi Columbus, anak-anak muda yang pertama kali pergi ke luar negeri seorang diri akan berhadapan dengan banyak ketidakpastian, kegundahan, ketidakberdayaan, dan segala keterbatasan" kata Rhenald Kasali dalam prolog buku ini. Dirinya yakin dalam keterbatasan itu mereka mampu mencari 'pintu keluar' dari kesulitan yang mereka hadapi dan kelak mereka akan menjadi rajawali.

Selasa, 24 Februari 2026

Koloni


Membaca novel Koloni karya Ratih Kumala ini mengingatkan pada buku Animal Farm karya George Orwell. Keduanya sama-sama fabel yang mengangkat soal perebutan kekuasaan. Jika di Animal Farm menggunakan karakter hewan yang beragam dengan karakter utama seekor babi, sementara Koloni menggunakan karakter semut api. 

"Kupersembahkan Koloni, dongeng tentang semut untuk pembaca yang lelah hidup di dunia manusia" ujar Ratih pada unggahan di Instagramnya. Dalam cerita karangannya, Ratih mengelompokkan semut api menjadi empat golongan, yaitu semut ratu, semut pekerja, semut prajurit, dan semut jantan. Semuanya memiliki peran masing-masing.

Semut ratu adalah semut yang bertugas bertelur dan memastikan kehidupan koloni terus berlangsung dan tidak punah. Dari golongan inilah pemimpin koloni berasal dengan sebutan Ratu. Semut pekerja adalah semut yang bertugas mencari dan menyimpan makanan, merawat telur, dan melayani Ratu. Semut prajurit adalah semut yang bertugas menjaga keamanan. Ketiga golongan tersebut diampu oleh semut betina. Sementara golongan terakhir adalah semut jantan, yang tugasnya hanya menghabiskan makanan, kawin sekali di musimnya lalu mati.

Senin, 23 Februari 2026

Mata dan Rahasia Pulau Gapi


Mata dan Rahasia Pulau Gapi adalah novel kedua dari seri cerita petualangan anak bernama Matara atau Mata karya Okky Madasari. Melanjutkan petualangan Mata sebelumnya di buku Mata di Tanah Melus yang bertemu dengan Suku Melus di Kabupaten Beru, Nusa Tenggara Timur. 

Kali ini Mata yang sudah berusia 12 tahun harus pindah dari Jakarta ke  Maluku Utara lantaran Ayahnya diminta menjadi manajer sebuah hotel, setelah berhenti sebagai jurnalis akibat perusahaannya bangkrut. Ibunya yang sempat kecewa karena gagal memasukkan Mata ke SMP favorit, senang bukan main dengan rencana kepindahan itu.

Rumah hunian baru mereka di Pulau Gapi (kini Ternate) dekat pelabuhan dengan pemandangan cantik Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Mata bertemu dengan Molucas atau Molu, seekor kucing hitam yang bisa bicara dan sudah hidup ratusan tahun. Molu mengajak Mata mengunjungi beberapa tempat dan bercerita tentang masa lalunya.

Selasa, 17 Februari 2026

1 9 8 4


Nineteen Eighty-Four atau 1984 merupakan salah satu novel yang membuat nama penulisnya, George Orwell, masyhur. Novel terakhir Eric Arthur Blair (nama sebenarnya dari Orwell) yang terbit pertama kali pada tahun 1949, satu tahun sebelum kematiannya. Buku kedua karya novelis Inggris itu yang kubaca setelah Animal Farm

Winston Smith, tokoh utama dalam novel ini, seorang pegawai pada pemerintahan totaliter di sebuah negara bernama Oceania yang secara ekstrim mengontrol seluruh aspek kehidupan warga negaranya, baik di ruang publik maupun pribadi, termasuk dalam ranah pikiran. Perang adalah Damai, Kebebasan adalah Perbudakan, Kebodohan adalah Kekuatan, merupakan tiga jargon partai tunggal yang berkuasa di Oceania. Dengan kepemimpinan Bung Besar yang dikultuskan. 

Kediktatoran itu dijalankan melalui empat kementerian. Kementerian Kebenaran yang mengurusi  berita, hiburan, pendidikan, dan seni. Kementerian Perdamaian yang mengurusi perang. Kementerian Cinta Kasih yang mengurusi hukum dan ketertiban. Serta Kementerian Tumpah Ruah yang mengurusi perekonomian. Winston bekerja di Kementerian Kebenaran. Dia sehari-hari bekerja memproduksi narasi berita bohong tentang keberhasilan pemerintah.

Sabtu, 07 Februari 2026

#Reset Indonesia


Kenapa di Indonesia air dari keran tak bisa langsung diminum? Kenapa di negara yang sebagian besar laut ini, kita harus mengeluarkan banyak uang untuk menikmati seafood? Dengan kekayaan alam dan keragaman hayati yang melimpah, kenapa masih kerap terjadi kelangkaan bahan pangan dan kekurangan gizi? Pertanyaan yang menggelitik. Mungkin juga klise. Tapi apa akar masalahnya? 

Buku #Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru terbitan Koperasi Indonesia Baru yang ditulis oleh Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu ini memberikan jawaban sekaligus menunjukkan kondisi negara yang karut-marut akibat salah kelola.

Apa yang disampaikan oleh Farid Gaban dan kawan-kawan bukan berasal dari menara gading atau sekadar asumsi mereka, tapi hasil pengamatan langsung melalui tiga kali ekspedisi keliling Indonesia dengan sepeda motor bekas yang dimodali sebuah koperasi. Di beberapa tempat mereka tidur di rumah-rumah warga, kadang mendirikan tenda. Dengan metode ini, denyut nadi kehidupan rakyat serta daya juangnya bertahan hidup dapat diketahui dari dekat.

Rabu, 04 Februari 2026

Tabula Rasa


Tabula Rasa menceritakan kisah Galih, lelaki yang pernah kehilangan cintanya, Krasnaya, gadis rusia dan seorang pelukis yang ditemuinya pertama kali di Red Square, Moskwa. Saat itu Galih dan keluarganya bermukim di Negara yang berada di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev itu lantaran mengikuti dinas bapaknya sebagai duta besar. Dalam situasi politik menjelang bubarnya Uni Soviet, Krasnaya mati terbunuh. 

Sepuluh tahun kemudian, saat Galih menjadi dosen di Yogyakarta, dia bertemu Raras, seorang mahasiswi yang juga pelukis. Raras menyimpan luka masa lalu dan mengalami kegamangan akibat orientasi seksual yang berbeda. Galih dan Raras menjalin kasih.

Tabula Rasa merupakan novel pertama Ratih Kumala, penulis yang juga menulis Gadis Kretek, novel yang telah diadaptasi dalam film oleh sepasang sutradara, Kamila Andini dan Ifa Isfansyah. Ratih juga istri dari penulis Eka Kurniawan, yang bukunya Lelaki Harimau baru selesai kubaca di bulan Januari lalu.

Senin, 02 Februari 2026

Malaikat Lereng Tidar



Malaikat Lereng Tidar ini buku fiksi kelima karya Remy Sylado (1945-2022) yang kutamatkan membacanya, setelah sebelumnya Novel Pangeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah Keringat Airmata. Selalu menyenangkan membaca karya-karya penulis serba bisa ini. 

Buku terbitan Kompas tahun 2014 dengan 544 halaman itu berisi cerita tentang lika-liku kehidupan dua tokoh, Jehezkiel Tambayong dan Toemirah. Jez, panggilan Jehezkiel, seorang pemuda dari Minahasa yang direkrut menjadi marsose oleh Belanda. Sebuah pasukan militer khusus yang terdiri dari orang-orang Jawa, Manado, dan Ambon yang dibentuk pada tahun 1890 untuk menghadapi perlawanan sengit rakyat Aceh dalam Perang Aceh (1873-1904). Perang itu sendiri telah membuat pusing dan menguras keuangan pemerintah kolonial Belanda.

Dari Minahasa, Jez beserta pasukannya dibawa ke Magelang untuk dilatih sebelum diterjunkan ke Aceh. Saat di Magelang inilah Jez bertemu dengan gadis penjaga warung yang rupawan, Toemirah. Keduanya mabuk asmara dan terikat cinta, membuat jengkel Soembino, lelaki kontet dengan muka prongos yang sudah memiliki delapan istri. Pasalnya Soembino yang seorang pengusaha ini telah lama menaksir Toemirah, dan berniat menjadikannya istri ke sembilan. Setelah kepergian Jez dan pasukan ke Aceh meninggalkan Toemirah yang sudah dinikahi secara mendadak, Soembino merencanakan kejahatan yang kelak membuat nestapa hidup Toemirah, bapaknya, Ngatiman, dan ibunya, Soetirah.

Minggu, 25 Januari 2026

Metamorfosa Samsa


Di kehidupan yang serba sulit, apakah keluarga benar-benar menerima dan mencintai kita apa adanya? Persoalan itulah yang menjadi inti cerita dari karya fiksi klasik berjudul Metamorfosa Samsa karangan Franz Kafka, novelis asal Praha, Ceko. Buku yang kubaca merupakan terjemahan Sigit Susanto (orang Kendal, Jawa Tengah, yang bermukim di Jerman) dari karya asli berbahasa jerman berjudul Die Verwandlung

Setelah mengalami mimpi buruk, Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya berubah menjadi kumbang raksasa yang menjijikan di atas kasurnya. Gregor panik. Bukan karena perubahan wujudnya, tapi karena takut terlambat kerja sebagai penjual keliling di sebuah agensi. Pembukaan cerita yang menurutku sangat absurd alias tidak masuk akal.  Tapi bagaimanapun ini fiksi.

Lima tahun sebelumnya bisnis Ayahnya bangkrut, Gregor mengambilalih menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Menghidupi Ayah, Ibu, dan adik perempuannya, Grete. Tentu saja keluarga merasa bingung atas perubahan diri Gregor. Agar tak diketahui orang lain, Gregor diisolasi di kamarnya. Ekonomi keluarga terguncang. Tiga anggota keluarga lain mencari jalan keluar, sambil merawat si kumbang Gregor.

Kamis, 22 Januari 2026

Lelaki Harimau


Margio, pemuda kampung itu telah membunuh Anwar Sadat, lelaki tua yang merupakan tetangganya. Peristiwa itu menggemparkan. Bukan saja menimbulkan tanya kenapa Margio sampai hati melakukan itu? Tapi juga sebuah keanehan, karena terbunuhnya Anwar akibat gigitan Margio yang mengoyak tenggorokannya. 

Terbunuhnya seorang seniman kapiran, Anwar Sadat, menjadi pembuka cerita karangan Eka Kurniawan dalam novelnya Lelaki Harimau. Ini perdana aku membaca karya penulis kelahiran Tasikmalaya itu. Karya-karyanya populer di jagat sastra Indonesia, terutama novel pertamanya Cantik Itu Luka, yang kerap muncul di lini masa media sosialku.

Tadinya kepergianku ke Perpustakaan di Taman Ismail Marzuki Jakarta untuk mengembalikan dua buku yang kupinjam, Si Anak Savana (Tere Liye) dan Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis), sekaligus meminjam dua buku baru, salah satunya Cantik Itu Luka. Namun karena koleksi yang tersedia sedang dipinjam, aku justru mendapatkan judul lain, yaitu novel yang baru saja kutamatkan ini.

Setelah kubaca memang terlihat gaya penulisan Eka Kurniawan sangat menarik. Piawai merinci situasi dan menggunakan diksi yang membuatku larut dalam imajinasi. Alur cerita novel Lelaki Harimau ini mengingatkan pada film Memento garapan sutradara Christopher Nolan. Bergerak mundur ke belakang secara bertahap.

Sabtu, 10 Januari 2026

Harimau! Harimau!


Novel berjudul Harimau! Harimau! ini karangan Mochtar Lubis, wartawan dan sastrawan yang pernah dipenjara oleh dua rezim, era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Ini pertama kalinya aku membaca fiksi karyanya. Ceritanya mengalir dan enak dibaca. Aku membacanya dari buku terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia cetakan kesebelas berisi 214 halaman. Kupinjam dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Bercerita tentang tujuh orang yang pergi ke hutan untuk mencari dan mengumpulkan damar. Terdiri dari tiga orang yang dituakan di kampung: Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, dan Pak Balam. Serta empat pemuda kampung yang dianggap sopan dan baik: Buyung, Sanip, Sutan, dan Talib.

Di tengah hutan mereka bertemu dan diburu oleh seekor harimau tua lapar. Pak Balam menjadi korban pertama. Sekujur badannya tercabik-cabik, namun berhasil diselamatkan. Peristiwa itu meniciptakan ketakutan sekaligus menjadi awal mula terbongkarnya rahasia mereka masing-masing, yang membuat perseteruan di tengah upaya bertahan hidup di rimba raya.

Minggu, 04 Januari 2026

Namaku Alam


Dada sesak lantaran merasakan pilu dan mendongkol, sekaligus larut dalam kehangatan hubungan keluarga dan persahabatan dari kehidupan tokoh utama dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Sebegitu emosionalnya membaca novel yang sebetulnya sudah kumulai di akhir tahun 2025 lalu ini, menjadikannya buku fiksi pertama yang kutamatkan di awal tahun 2026. Aku membaca cetakan keduabelas buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2025 yang berisi 438 halaman dengan sampul warna merah bergambar burung nasar.

Segara Alam, tokoh utama dalam novel fiksi ini, adalah anak dari Hananto Prawiro, tahanan politik (tapol) yang ditembak mati pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Hananto seorang wartawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi yang oleh rezim saat itu dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia,  partai yang dituduh melakukan gerakan kudeta itu.

Sebagai anak bungsu yang hidup bersama Ibu dan kedua kakak perempuannya, Segara Alam tidak banyak mengetahui kisah kelam keluarganya. Alam lahir di tahun yang sama saat terjadinya Gerakan 30 September. Alam yang masih bayi turut dibawa ke ruang tahanan bersama kedua kakaknya saat Ibunya diinterogasi, mengalami pelecehan dan penyiksaan lantaran bapaknya menghilang. Bapaknya tertangkap saat Alam berusia tiga tahun. Kemudian ditembak mati saat Alam berusia lima tahun.

Selasa, 02 Desember 2025

Laut Bercerita


Setiap hari minggu di rumah, Bapak, Ibu, Biru Laut, dan Asmara Jati makan bersama masakan Ibu sambil memutar piringan hitam mendengarkan lagu The Beatles. Sebuah tradisi keluarga yang bermukim di Ciputat. Kelak Bapak selalu menyediakan satu piring yang akan tetap kosong hingga waktu makan berakhir, karena Biru Laut tak pernah lagi hadir, hilang sejak Maret 1998. 

Novel Laut Bercerita ini buku kedua karya Leila S. Chudori yang kubaca setelah Pulang. Berkisah tentang sekelompok mahasiswa yang hilang di penghujung Orde Baru, serta kegetiran keluarga yang ditinggalkan. Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, buku ini termasuk paling digemari pembaca. Di bulan September-November 2025, status ketersediaannya selalu kosong saat aku melakukan pencarian di mesin atau menanyakannya kepada petugas penjaga.  

Buku setebal 379 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2017 ini berisi dua bagian dari dua sudut pandang. Bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, sebagai tokoh utama dalam cerita. Dengan alur cerita yang maju-mundur, bercerita tentang sekolompok mahasiswa Jogja yang membentuk kelompok diskusi rahasia dan melakukan perlawanan kepada penguasa bersama buruh dan petani. Kegiatan yang dilakukan di bawah bayang-bayang militer. Intimidasi dan kekerasan senantiasa menyertai, hingga masa penculikan, penyekapan, dan penyiksaan itu tiba.  

Sementara bagian kedua dilihat dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Bercerita tentang upaya keluarga yang tak pernah lelah mencari dan mempertanyakan anggota keluarganya yang hilang.

Jumat, 28 November 2025

Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata


Buku setebal 592 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia karya Remy Sylado ini sebuah novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama Gertruida van Veen bersama kekasihnya yang seorang pelukis, Rob Verschoor, pergi merantau dari Amsterdam menuju Hindia-Belanda setelah ditawari sebuah pekerjaan melukis untuk seorang bangsawan di Jogja dan sebuah proyek pameran lukisan di Bandung. 

Tanpa mereka sadari tawaran pekerjaan itu upaya manipulatif untuk menjerumuskan Gertruida, yang memang berparas cantik, dalam bisnis prostitusi di Bandung yang dikelola oleh seorang Belanda. Niscaya Gertruida dan Rob harus melalui jalan berliku menghadapi setiap persoalan yang akan mereka alami di Hindia-Belanda.

Belajar sejarah dan memperkaya kosakata. Itu kesanku setelah membaca empat buku karya Remy Sylado (Novel Pengeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata). 

Remy Sylado selalu menyisipkan fakta-fakta sejarah dalam karya fiksinya. Misalnya dalam buku Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata ini yang latar waktu ceritanya di sekitar tahun 1920-1930, selain mengenalkan sejarah gedung dan nama-nama jalan pada masa itu, khususnya di Bandung, Remy Sylado juga memotret tumbuhnya pergerakan kemerdekaan Indonesia, semacam Indische Partij atau Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).

Senin, 17 November 2025

Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa


Setelah membaca dua karyanya Novel Pangeran Diponegoro dan Kerudung Merah Kirmizi, aku langsung menggemari gaya penulisan Remy Sylado yang menurutku lugas, sarat informasi, dan mengenalkanku pada kosakata yang tak lazim. Aku melanjutkan membaca karya lainnya Perempuan Bernama Arjuna. Kisah mahasiswi filsafat yang kuliah di Amsterdam, Belanda. 

Sayangnya aku hanya sanggup membaca sampai setengah buku, lantaran sedang malas dengan topik berat yang diangkat dalam novel itu, yaitu filsafat. Sebenarnya buku menarik, hanya kubaca pada waktu yang tidak tepat. Buku itu serupa Dunia Shopie karya Jostein Gaarder.

Aku kembalikan buku Perempuan Bernama Arjuna ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Perpustakaan Jakarta dan menggantinya dengan Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa, buku yang pada tahun 2002 pernah diadaptasi menjadi film oleh sutradara Nia Dinata.

Bercerita tentang kisah Siti Nurhayati atau Tinung, perempuan Betawi yang buta huruf. Setelah ditinggal mati oleh lelaki yang telah menjadikannya istri kelima, keadaan memaksa Tinung terjerumus dalam dunia prostitusi di Kali Jodo, Batavia. Tinung diajarkan menari dan menyanyi sebagai bekal menjadi perempuan penghibur.

Minggu, 09 November 2025

Pangku, Cinta dan Ketabahan dalam Kemiskinan

 

Kemiskinan begitu lekat dengan masyarakat pesisir atau pinggiran, namun mereka tabah menghadapi persoalan yang silih berganti. Terutama kekuatan seorang Ibu. Kondisi itu digambarkan persis oleh Reza Rahadian dalam debutnya sebagai sutradara di film "Pangku" yang kutonton sore tadi bersama istriku, Afidah, di bioskop dekat rumah, Kota Cinema Mall (KCM) Wisma Asri Bekasi. 

Pangku merujuk pada istilah "Kopi Pangku" praktik prostitusi yang tumbuh dan kembang sejak zaman kolonialisme Belanda di sepanjang Jalan Raya Pos atau Daendles atau Pantura. Ahmad Effendi mengulas itu dengan apik melalui tulisannya "Kopi Pangku, Jejak Kolonial yang Menyala Remang di Pantura" di laman Mojok.

Sartika (Claresta Taufan), yang tak diketahui asal-usulnya, nekat pergi dari rumah seorang diri dalam keadaan hamil 8 untuk mencari pekerjaan. Truk tumpangan menurunkannya di pinggiran Jalan Pantura. Lalu dia singgah di warung kopi yang sepi milik perempuan tua, Maya (Christine Hakim). Lantaran iba hati, Maya mengajak Sartika hidup bersama dan menganggapnya sebagai anak. Sartika bekerja serabutan. Anak yang dikandungnya lahir dan diberi nama Bayu (Shakeel Aisy). Terdesak oleh kebutuhan ekonomi, Sartika pada akhirnya terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi Maya dan jatuh di setiap pangkuan pelanggan lelaki. Warung menjadi ramai. Hingga suatu hari datang Hadi (Fedi Nuril), sopir mobil muatan ikan, pelanggan yang memberi cinta dan harapan kepada Sartika dan Bayu. 

Film itu terbilang minim dialog, tapi peran Claresta Taufan, Fedi Nuril, Shakeel Aisy, dan Christine Hakim menjadikannya begitu nyata dan hidup, membuatku larut dalam suasana haru dan menahan tangis (Bekasi, 8 November 2025).

Sabtu, 25 Oktober 2025

Kerudung Merah Kirmizi


Terkesan akan gaya penulisan Novel Pangeran Diponegoro, aku tertarik membaca karya lain Remy Sylado, nama pena dari Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. 

Saat melakukan peminjaman buku di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Perpustakaan Jakarta, ada tiga pilihan judul buku: Cau Bau Kan, Paris Van Java, dan Kerudung Merah Kirmizi. Aku pilih judul terakhir karena memiliki cerita dengan alur waktu di sekitar era reformasi. Buku dengan tebal 674 halaman terbitan Keputakaan Populer Gramedia.

Bercerita tentang ambisi Sampurno atau Oom Sam, pengusaha pun pensiunan ABRI, yang menginginkan tanah seluas 32 ha di wilayah Gelgel, Bali. Sebab di tanah itu tertanam harta rampasan serdadu Jepang. Tanah itu milik guru besar ekonomi yang terkenal, Luc Sondak dan anaknya, Laksmi.

Melalui Dela Hastuti, orang kepercayaan sekaligus keponakan dan pemuas hasrat seksualnya, Oom Sam mendekati Luc dan Laksmi. Dalam proses negosiasi itu Luc Sondak bertemu dan menjalin kasih dengan Myrna Andriono, penyanyi klub di sebuah hotel di Jakarta.

Laksmi menolak menjual tanahya. Jelas itu membuat marah Oom Sam, orang yang bertabiat menghalalkan segala cara, termasuk menggunakan pesuruh dari kepolisian dan militer untuk melakukan kekerasan.