Minggu, 25 Januari 2026

Metamorfosa Samsa


Di kehidupan yang serba sulit, apakah keluarga benar-benar menerima dan mencintai kita apa adanya? Persoalan itulah yang menjadi inti cerita dari karya fiksi klasik berjudul Metamorfosa Samsa karangan Franz Kafka, novelis asal Praha, Ceko. Buku yang kubaca merupakan terjemahan Sigit Susanto (orang Kendal, Jawa Tengah, yang bermukim di Jerman) dari karya asli berbahasa jerman berjudul Die Verwandlung

Setelah mengalami mimpi buruk, Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya berubah menjadi kumbang raksasa yang menjijikan di atas kasurnya. Gregor panik. Bukan karena perubahan wujudnya, tapi karena takut terlambat kerja sebagai penjual keliling di sebuah agensi. Pembukaan cerita yang menurutku sangat absurd alias tidak masuk akal.  Tapi bagaimanapun ini fiksi.

Lima tahun sebelumnya bisnis Ayahnya bangkrut, Gregor mengambilalih menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Menghidupi Ayah, Ibu, dan adik perempuannya, Grete. Tentu saja keluarga merasa bingung atas perubahan diri Gregor. Agar tak diketahui orang lain, Gregor diisolasi di kamarnya. Ekonomi keluarga terguncang. Tiga anggota keluarga lain mencari jalan keluar, sambil merawat si kumbang Gregor.

Gregor mengerti seluruh percakapan keluarganya di rumah. Sebaliknya Ayah, Ibu, dan Grete yang menganggap Gregor hanya seekor hewan, tak memahami kesusahan yang mereka alami. Gregor mendengar semua keluh kesah dari kegelapan bawah sofa di kamarnya. Gregor dianggap beban. Apakah keluarga masih menerimanya?


-Bekasi, 25 Januari 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar