Minggu, 04 Januari 2026

Namaku Alam


Dada sesak lantaran merasakan pilu dan mendongkol, sekaligus larut dalam kehangatan hubungan keluarga dan persahabatan dari kehidupan tokoh utama dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Sebegitu emosionalnya membaca novel yang sebetulnya sudah kumulai di akhir tahun 2025 lalu ini, menjadikannya buku fiksi pertama yang kutamatkan di awal tahun 2026. Aku membaca cetakan keduabelas buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2025 yang berisi 438 halaman dengan sampul warna merah bergambar burung nasar.

Segara Alam, tokoh utama dalam novel fiksi ini, adalah anak dari Hananto Prawiro, tahanan politik (tapol) yang ditembak mati pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Hananto seorang wartawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi yang oleh rezim saat itu dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia,  partai yang dituduh melakukan gerakan kudeta itu.

Sebagai anak bungsu yang hidup bersama Ibu dan kedua kakak perempuannya, Segara Alam tidak banyak mengetahui kisah kelam keluarganya. Alam lahir di tahun yang sama saat terjadinya Gerakan 30 September. Alam yang masih bayi turut dibawa ke ruang tahanan bersama kedua kakaknya saat Ibunya diinterogasi, mengalami pelecehan dan penyiksaan lantaran bapaknya menghilang. Bapaknya tertangkap saat Alam berusia tiga tahun. Kemudian ditembak mati saat Alam berusia lima tahun.

Trauma keluarga dan perlakuan diskriminasi rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto terhadap keluarga tapol, membuat keluarga Prawiro harus senantiasa merunduk dalam kehidupan sosial dan menyimpan rapat masa lalu keluarga, semata-mata agar tak menimbulkan kerumitan dalam hidup mereka. 

Segara Alam tumbuh menjadi anak cerdas dan dikaruniai daya ingat luar biasa, namun suka berkelahi. Menjadikan Alam sosok yang menonjol di lingkungannya, termasuk sekolah. Hal itu menimbulkan kecemasan bagi keluarganya, sekaligus menciptakan konflik-konflik yang membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca.

Menurut Leila, sang penulis, novel ini merupakan buku kedua dari trilogi novel Pulang, novel yang sudah kubaca beberapa tahun lalu. Novel Namaku Alam bukan sekuel atau prekuel, tapi sempalan (spin-off) dari novel Pulang

Pada novel Pulang aku bertemu dengan Dimas Suryo sebagai tokoh utama, seorang wartawan yang tak bisa kembali ke Indonesia setelah menghadiri konferensi wartawan di Santiago, Chile. Menjadikannya kaum terbuang atau eksil di luar negeri. Keberangkatan Dimas menggantikan sejawatnya yang batal pergi, Hananto Prawiro, bapaknya Segara Alam.

Membaca novel Pulang dan Namaku Alam, mengajak aku untuk melihat kondisi Indonesia di masa lalu dan selalu mawas diri. Meskipun fiksi novel ini dibalut dengan sejarah. Pun tetap relevan dengan kondisi Indonesia saat ini di bawah kepeminpinan Prabowo Subianto, yang memilki tabiat Orde Baru seperti anti-kritik dan serdadu berpolitik. Bahkan lebih parah, karena mempertontonkan gaya kepemimpinan tidak kompeten yang sulit dipercaya.


-Bekasi, 4 Januari 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar