Bercerita tentang tujuh orang yang pergi ke hutan untuk mencari dan mengumpulkan damar. Terdiri dari tiga orang yang dituakan di kampung: Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, dan Pak Balam. Serta empat pemuda kampung yang dianggap sopan dan baik: Buyung, Sanip, Sutan, dan Talib.
Di tengah hutan mereka bertemu dan diburu oleh seekor harimau tua lapar. Pak Balam menjadi korban pertama. Sekujur badannya tercabik-cabik, namun berhasil diselamatkan. Peristiwa itu meniciptakan ketakutan sekaligus menjadi awal mula terbongkarnya rahasia mereka masing-masing, yang membuat perseteruan di tengah upaya bertahan hidup di rimba raya.
Pak Haji, misalnya, ternyata pribadi yang senantiasa menaruh curiga pada setiap orang. Meski rajin sembahyang nyatanya telah lama meninggalkan tuhan dalam jiwa dan pikirannya. Sementara Wak Katok yang dikenal sebagai guru pencak silat, dukun banyak ilmu, dan pemburu hebat, ternyata hanya pengecut dan penipu.
Cerita itu membuatku teringat ungkapan Pramoedya Ananta Toer melalui tokoh karangannya dalam novel Bumi Manusia "jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana. Biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput."
Tak mudah untuk menerka dan menyimpulkan siapa itu manusia. Orang yang kita kenal, terkadang tak seperti yang kita kira.
-Bekasi, 10 Januari 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar