Kamis, 08 Januari 2026

Madiba, Kayo, dan Buku

 

Awalnya anak bungsuku, Kayo (9 tahun), yang mulai berminat membaca buku-buku fiksi terjemahan karangan Roald Dahl. Seperti Jari Ajaib atau Mr. Fox yang Fantastis. Sementara anak sulungku, Madiba (11 tahun), nampak tak berminat dengan buku-buku itu. Lalu aku mulai mencari beberapa pustaka lewat internet yang kuanggap cocok untuk remaja. Bertemulah dengan serial Bumi karya Tere Liye. Aku membelikan novel Bumi, buku pertama dari serial itu.

Setidaknya ada tiga cara untuk mempertahankan daya tahan mereka membaca buku. Pertama,  novelis Amerika Serikat, James Baldwin, pernah mengatakan "children have never been good at listening to their elder, but they have never failed to imitate them".  Seorang anak tak pernah baik untuk mendengarkan kata-kata orang tua, tapi mereka tak pernah gagal menirunya. Teladan. Itu yang dibutuhkan oleh anak-anak. Maka aku pun harus membaca. Saat itu aku membaca seri Majapahit karangan Langit Kresna Hariadi.

Kedua, menyediakan bukunya. Kubeli dari lokapasar atau meminjam di perpustakaan. Perpustaakan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki dua tempat peminjaman buku yang sering kukunjungi. Ketiga, meminta anak-anakku menceritakan ulang apa yang telah dibacanya. Biasanya untuk setiap satu atau dua bab yang sudah dibaca. Proses ini oleh Charlotte Mason, pendidik asal Inggris, disebut narasi. Tujuannya untuk memastikan anak memahami apa yang mereka baca. Sebaliknya, aku harus memberi perhatian untuk mendengarkan cerita mereka.

Cara itu cukup berhasil. Pada akhirnya aku dan anak-anakku sama-sama belajar dan menikmati setiap buku yang kami baca. Selama kurang lebih 14 bulan (sejak November 2024 sampai dengan penghujung akhir tahun 2025) Madiba telah membaca 18 buku: tujuh belas judul serial Bumi karya Tere Liye (Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz dan Batozar, Komet, Komet Minor, Selena, Nebula, Si Putih, Lumpu, Bibi Gill, SagaraS, Matahari Minor, ILY, Aldebaran Bagian Satu, Hana Tara Hata) dan Dompet Ayah Sepatu Ibu (J.S. Khairen). 

Sementara Kayo telah membaca 32 buku: lima judul buku karya Roald Dahl (Jari Ajaib, Mr. Fox yang Fantastis, James dan Persis Raksasa, Matilda, The Withces), tujuh belas judul serial Bumi  karya Tere Liye, tiga judul buku seri Harry Potter karya J.K. Rowling (Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tahanan Azkaban), Dompet Ayah Sepatu Bunda (J.S. Khairen), Hafalan Shalat Delisa (Tere Liye), dan lima judul buku serial Anak Nusantara karya Tere Liye (Si Anak Pemberani, Si Anak Pintar, Si Anak Spesial, Si Anak Kuat, Si Anak Cahaya).

Aku berhasil menamatkan 22 Buku: empat judul seri Majapahit karangan Langit Kresna Hariadi (Sandyakala Rajawangsa, Bala Sanggarama, Banjir Bandang dari Utara, Surya Wilwatikta), tiga judul pentalogi Gajahmada karya Langit Kresna Hariadi (Gajah Mada, Bergelut dalam Kemelut Takhta dan Angkara, Hamukti Palapa), Dompet Ayah Sepatu Bunda (J.S. Khairen), Orang-Orang Proyek (Ahmad Tohari), Dendam (Gunawan Budi Santoso). 

Juga Teruslah Bodoh Jangan Pintar (Tere Liye), Pulang dan Pergi (Tere Liye), The Sicilian (Mario Puzo), Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan (Nelson Mandela), Sehari dalam Hidup Abed Salama (Nathan Thrall), Sang Alkemis (Paulo Coelho), Novel Pengeran Diponegoro (Remy Sylado), Kerudung Merah Kirmizi (Remy Sylado), Cau Bau Kan (Remy Sylado), Parijs van Java (Remy Sylado), dan Laut Bercerita (Leila S. Chudori).

 

-Bekasi, 5 Januari 2026- 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar