Tubuh kehilangan kelenturan. Otot-otot mulai kaku.
Ada dua jalan kematian. Dinantikan atau tiba-tiba datang. Kematianku menempuh jalan kedua. Saat sedang berlatih teater di kampus sebagai persiapan pementasan naskah drama Mastodon dan Burung Kondor karya W.S. Rendra, dadaku terasa nyeri dan nafasku sesak, dialog yang seharusnya kuucapkan terhenti. Samar-samar kudengar suara kawanku yang panik "Ris, kamu kenapa?" Tubuhku ambruk tak sadarkan diri.
"Mohon maaf, nyawanya tak bisa diselamatkan. Ia sudah meninggal sebelum tiba di rumah sakit ini" kata dokter perempuan itu kepada kawan-kawanku yang ikut mengantarku ke Rumah Sakit Panti Rapih. Malam itu juga ambulans mengantar jenazahku pulang ke Bekasi.
Kulihat bendera kuning terpasang di gapura gang menuju rumah. Di halaman rumah sudah banyak tetangga-tetangga berkumpul untuk menyambut kedatanganku. Dari dalam rumah ibu keluar sambil menangis histeris dalam pelukan bapak yang berusaha tegar. Anak satu-satunya yang berusia 20 tahun akhirnya pulang.





