Senin, 02 Februari 2026

Malaikat Lereng Tidar



Malaikat Lereng Tidar ini buku fiksi kelima karya Remy Sylado (1945-2022) yang kutamatkan membacanya, setelah sebelumnya Novel Pangeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah Keringat Airmata. Selalu menyenangkan membaca karya-karya penulis serba bisa ini. 

Buku terbitan Kompas tahun 2014 dengan 544 halaman itu berisi cerita tentang lika-liku kehidupan dua tokoh, Jehezkiel Tambayong dan Toemirah. Jez, panggilan Jehezkiel, seorang pemuda dari Minahasa yang direkrut menjadi marsose oleh Belanda. Sebuah pasukan militer khusus yang terdiri dari orang-orang Jawa, Manado, dan Ambon yang dibentuk pada tahun 1890 untuk menghadapi perlawanan sengit rakyat Aceh dalam Perang Aceh (1873-1904). Perang itu sendiri telah membuat pusing dan menguras keuangan pemerintah kolonial Belanda.

Dari Minahasa, Jez beserta pasukannya dibawa ke Magelang untuk dilatih sebelum diterjunkan ke Aceh. Saat di Magelang inilah Jez bertemu dengan gadis penjaga warung yang rupawan, Toemirah. Keduanya mabuk asmara dan terikat cinta, membuat jengkel Soembino, lelaki kontet dengan muka prongos yang sudah memiliki delapan istri. Pasalnya Soembino yang seorang pengusaha ini telah lama menaksir Toemirah, dan berniat menjadikannya istri ke sembilan. Setelah kepergian Jez dan pasukan ke Aceh meninggalkan Toemirah yang sudah dinikahi secara mendadak, Soembino merencanakan kejahatan yang kelak membuat nestapa hidup Toemirah, bapaknya, Ngatiman, dan ibunya, Soetirah.

Minggu, 25 Januari 2026

Metamorfosa Samsa


Di kehidupan yang serba sulit, apakah keluarga benar-benar menerima dan mencintai kita apa adanya? Persoalan itulah yang menjadi inti cerita dari karya fiksi klasik berjudul Metamorfosa Samsa karangan Franz Kafka, novelis asal Praha, Ceko. Buku yang kubaca merupakan terjemahan Sigit Susanto (orang Kendal, Jawa Tengah, yang bermukim di Jerman) dari karya asli berbahasa jerman berjudul Die Verwandlung

Setelah mengalami mimpi buruk, Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya berubah menjadi kumbang raksasa yang menjijikan di atas kasurnya. Gregor panik. Bukan karena perubahan wujudnya, tapi karena takut terlambat kerja sebagai penjual keliling di sebuah agensi. Pembukaan cerita yang menurutku sangat absurd alias tidak masuk akal.  Tapi bagaimanapun ini fiksi.

Lima tahun sebelumnya bisnis Ayahnya bangkrut, Gregor mengambilalih menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Menghidupi Ayah, Ibu, dan adik perempuannya, Grete. Tentu saja keluarga merasa bingung atas perubahan diri Gregor. Agar tak diketahui orang lain, Gregor diisolasi di kamarnya. Ekonomi keluarga terguncang. Tiga anggota keluarga lain mencari jalan keluar, sambil merawat si kumbang Gregor.

Kamis, 22 Januari 2026

Lelaki Harimau


Margio, pemuda kampung itu telah membunuh Anwar Sadat, lelaki tua yang merupakan tetangganya. Peristiwa itu menggemparkan. Bukan saja menimbulkan tanya kenapa Margio sampai hati melakukan itu? Tapi juga sebuah keanehan, karena terbunuhnya Anwar akibat gigitan Margio yang mengoyak tenggorokannya. 

Terbunuhnya seorang seniman kapiran, Anwar Sadat, menjadi pembuka cerita karangan Eka Kurniawan dalam novelnya Lelaki Harimau. Ini perdana aku membaca karya penulis kelahiran Tasikmalaya itu. Karya-karyanya populer di jagat sastra Indonesia, terutama novel pertamanya Cantik Itu Luka, yang kerap muncul di lini masa media sosialku.

Tadinya kepergianku ke Perpustakaan di Taman Ismail Marzuki Jakarta untuk mengembalikan dua buku yang kupinjam, Si Anak Savana (Tere Liye) dan Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis), sekaligus meminjam dua buku baru, salah satunya Cantik Itu Luka. Namun karena koleksi yang tersedia sedang dipinjam, aku justru mendapatkan judul lain, yaitu novel yang baru saja kutamatkan ini.

Setelah kubaca memang terlihat gaya penulisan Eka Kurniawan sangat menarik. Piawai merinci situasi dan menggunakan diksi yang membuatku larut dalam imajinasi. Alur cerita novel Lelaki Harimau ini mengingatkan pada film Memento garapan sutradara Christopher Nolan. Bergerak mundur ke belakang secara bertahap.

Sabtu, 10 Januari 2026

Harimau! Harimau!


Novel berjudul Harimau! Harimau! ini karangan Mochtar Lubis, wartawan dan sastrawan yang pernah dipenjara oleh dua rezim, era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Ini pertama kalinya aku membaca fiksi karyanya. Ceritanya mengalir dan enak dibaca. Aku membacanya dari buku terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia cetakan kesebelas berisi 214 halaman. Kupinjam dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Bercerita tentang tujuh orang yang pergi ke hutan untuk mencari dan mengumpulkan damar. Terdiri dari tiga orang yang dituakan di kampung: Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, dan Pak Balam. Serta empat pemuda kampung yang dianggap sopan dan baik: Buyung, Sanip, Sutan, dan Talib.

Di tengah hutan mereka bertemu dan diburu oleh seekor harimau tua lapar. Pak Balam menjadi korban pertama. Sekujur badannya tercabik-cabik, namun berhasil diselamatkan. Peristiwa itu meniciptakan ketakutan sekaligus menjadi awal mula terbongkarnya rahasia mereka masing-masing, yang membuat perseteruan di tengah upaya bertahan hidup di rimba raya.

Kamis, 08 Januari 2026

Madiba, Kayo, dan Buku

 

Awalnya anak bungsuku, Kayo (9 tahun), yang mulai berminat membaca buku-buku fiksi terjemahan karangan Roald Dahl. Seperti Jari Ajaib atau Mr. Fox yang Fantastis. Sementara anak sulungku, Madiba (11 tahun), nampak tak berminat dengan buku-buku itu. Lalu aku mulai mencari beberapa pustaka lewat internet yang kuanggap cocok untuk remaja. Bertemulah dengan serial Bumi karya Tere Liye. Aku membelikan novel Bumi, buku pertama dari serial itu.

Setidaknya ada tiga cara untuk mempertahankan daya tahan mereka membaca buku. Pertama,  novelis Amerika Serikat, James Baldwin, pernah mengatakan "children have never been good at listening to their elder, but they have never failed to imitate them".  Seorang anak tak pernah benar-benar mendengarkan kata-kata orang tua, tapi mereka tak pernah gagal menirunya. Teladan. Itu yang dibutuhkan oleh anak-anak. Maka aku pun harus membaca. Saat itu aku membaca seri Majapahit karangan Langit Kresna Hariadi.

Kedua, menyediakan bukunya. Kubeli dari lokapasar atau meminjam di perpustakaan. Perpustaakan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki dua tempat peminjaman buku yang sering kukunjungi. Ketiga, meminta anak-anakku menceritakan ulang apa yang telah dibacanya. Biasanya untuk setiap satu atau dua bab yang sudah dibaca. Proses ini oleh Charlotte Mason, pendidik asal Inggris, disebut narasi. Tujuannya untuk memastikan anak memahami apa yang mereka baca. Sebaliknya, aku harus memberi perhatian untuk mendengarkan cerita mereka.

Minggu, 04 Januari 2026

Namaku Alam


Dada sesak lantaran merasakan pilu dan mendongkol, sekaligus larut dalam kehangatan hubungan keluarga dan persahabatan dari kehidupan tokoh utama dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Sebegitu emosionalnya membaca novel yang sebetulnya sudah kumulai di akhir tahun 2025 lalu ini, menjadikannya buku fiksi pertama yang kutamatkan di awal tahun 2026. Aku membaca cetakan keduabelas buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2025 yang berisi 438 halaman dengan sampul warna merah bergambar burung nasar.

Segara Alam, tokoh utama dalam novel fiksi ini, adalah anak dari Hananto Prawiro, tahanan politik (tapol) yang ditembak mati pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Hananto seorang wartawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi yang oleh rezim saat itu dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia,  partai yang dituduh melakukan gerakan kudeta itu.

Sebagai anak bungsu yang hidup bersama Ibu dan kedua kakak perempuannya, Segara Alam tidak banyak mengetahui kisah kelam keluarganya. Alam lahir di tahun yang sama saat terjadinya Gerakan 30 September. Alam yang masih bayi turut dibawa ke ruang tahanan bersama kedua kakaknya saat Ibunya diinterogasi, mengalami pelecehan dan penyiksaan lantaran bapaknya menghilang. Bapaknya tertangkap saat Alam berusia tiga tahun. Kemudian ditembak mati saat Alam berusia lima tahun.

Selasa, 02 Desember 2025

Laut Bercerita


Setiap hari minggu di rumah, Bapak, Ibu, Biru Laut, dan Asmara Jati makan bersama masakan Ibu sambil memutar piringan hitam mendengarkan lagu The Beatles. Sebuah tradisi keluarga yang bermukim di Ciputat. Kelak Bapak selalu menyediakan satu piring yang akan tetap kosong hingga waktu makan berakhir, karena Biru Laut tak pernah lagi hadir, hilang sejak Maret 1998. 

Novel Laut Bercerita ini buku kedua karya Leila S. Chudori yang kubaca setelah Pulang. Berkisah tentang sekelompok mahasiswa yang hilang di penghujung Orde Baru, serta kegetiran keluarga yang ditinggalkan. Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, buku ini termasuk paling digemari pembaca. Di bulan September-November 2025, status ketersediaannya selalu kosong saat aku melakukan pencarian di mesin atau menanyakannya kepada petugas penjaga.  

Buku setebal 379 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2017 ini berisi dua bagian dari dua sudut pandang. Bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, sebagai tokoh utama dalam cerita. Dengan alur cerita yang maju-mundur, bercerita tentang sekolompok mahasiswa Jogja yang membentuk kelompok diskusi rahasia dan melakukan perlawanan kepada penguasa bersama buruh dan petani. Kegiatan yang dilakukan di bawah bayang-bayang militer. Intimidasi dan kekerasan senantiasa menyertai, hingga masa penculikan, penyekapan, dan penyiksaan itu tiba.  

Sementara bagian kedua dilihat dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Bercerita tentang upaya keluarga yang tak pernah lelah mencari dan mempertanyakan anggota keluarganya yang hilang.