Awalnya anak bungsuku, Kayo (9 tahun), yang mulai berminat membaca buku-buku
fiksi terjemahan karangan Roald Dahl. Seperti Jari Ajaib atau Mr. Fox yang
Fantastis. Sementara anak sulungku, Madiba (11 tahun), nampak tak berminat
dengan buku-buku itu. Lalu aku mulai mencari beberapa pustaka lewat internet
yang kuanggap cocok untuk remaja. Bertemulah dengan serial Bumi karya Tere
Liye. Aku membelikan novel Bumi, buku pertama dari serial itu.
Setidaknya ada
tiga cara untuk mempertahankan daya tahan mereka membaca buku. Pertama,
novelis Amerika Serikat, James Baldwin, pernah mengatakan "children
have never been good at listening to their elder, but they have never failed to
imitate them". Seorang anak tak pernah benar-benar mendengarkan
kata-kata orang tua, tapi mereka tak pernah gagal menirunya. Teladan. Itu yang
dibutuhkan oleh anak-anak. Maka aku pun harus membaca. Saat itu aku membaca
seri Majapahit karangan Langit Kresna Hariadi.
Kedua, menyediakan bukunya. Kubeli dari lokapasar atau meminjam di perpustakaan. Perpustaakan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki dua tempat peminjaman buku yang sering kukunjungi. Ketiga, meminta anak-anakku menceritakan ulang apa yang telah dibacanya. Biasanya untuk setiap satu atau dua bab yang sudah dibaca. Proses ini oleh Charlotte Mason, pendidik asal Inggris, disebut narasi. Tujuannya untuk memastikan anak memahami apa yang mereka baca. Sebaliknya, aku harus memberi perhatian untuk mendengarkan cerita mereka.