Minggu, 18 Oktober 2026

Kumpulan Budak Setan


Abdullah Harahap, penulis yang sangat produktif di era tahun 80-90an, ia menulis banyak cerita horor berbalut seks yang kerap dianggap picisan. Namanya baru kudengar setelah membaca buku kumpulan cerita pendek (cerpen) ini. Para penulisnya, Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, masing-masing membuat empat cerpen yang terinspirasi dari gaya penceritaan penulis kelahiran Siporok, Tapanuli Selatan itu. 

Kumpulan Budak Setan. Sekilas judul buku ini terdengar menyeramkan. Membuatku teringat film Pengabdi Setan garapan sutradara Joko Anwar yang saat menontonnya menciptakan ketegangan sepanjang film dan menyisakan pertanyaan. Begitu pula cerita-cerita dalam buku ini, meski ternyata tidak begitu menakutkan seperti film itu, tapi beberapa cerita memancing pertanyaan dan rasa penasaran.

Kamis, 08 Oktober 2026

Pementasan Delirium Amangkurat

 

Selasa malam, 6 Oktober 2026, aku dan anak sulungku, Madiba, menyaksikan pementasan teater dengan judul Delirium Amangkurat oleh kelompok Teater diRI di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Lakon yang diadaptasi dari naskah drama Amangkurat, Amangkurat karya Goenawan Mohamad. 

Tentang akhir hidup Raja Mataram, Amangkurat I, pada masa pengungsian di sekitar pantai utara Jawa setelah kekuasaannya digulingkan oleh Pangeran Madura, Trunojoyo. Amangkurat I dikenal sebagai penguasa kejam dan otoriter. Alur cerita sesuai naskahnya bergerak maju-mundur, dengan properti yang mininalis, namun ada beberapa adegan improvisasi.

Pementasan lakon ini adalah pertunjukan kedua dari rangkaian Festival Teater Jakarta yang rencananya akan menghadirkan 15 pertunjukan dalam rentang waktu 5-23 Oktober 2026 di Teater Kecil, TIM.

Pada waktu yang bersamaan di lantai 2 Gedung Trisno Seomardji TIM juga diselenggarakan Jakarta Bienale 2026 yang bertajuk Kebal. Kami menyempatkan berkunjung sambil menghabiskan waktu tunggu pertunjukan teater. Jakarta Biennale akan berlangsung mulai 4 Oktober 2026 hingga 28 November 2026.

Tuhan Tak Punya Welas Asih



Aku bersila dan tafakur menyaksikan raga lelaki muda di depanku terbujur kaku di lantai ruang tengah rumah sederhana. Tiga lembar kain putih wangi membalut tubuhnya yang diikat di bagian kepala, dada, pinggang, lutut, dan kaki. Diselimuti kain batik cokelat. Kulihat matanya terpejam, lubang hidungnya tertutup kapas, dan wajahnya pucat.

Persis di sebelah kananku seorang perempuan bersimpuh dan merobohkan diri melepas tangis sambil memeluk tubuh itu tanpa menghiraukan keberadaanku. Orang di sekitarnya menenangkan, memintanya untuk ikhlas.

Kerumunan orang berwajah murung duduk mengelilingi sambil bersandar di tembok rumah. Sebagian dari mereka merapalkan doa. Di sudut ruangan, seorang perempuan sedang bercerita kepada lainnya musabab sebuah kejadian.

Selasa, 22 September 2026

Aroma Karsa


Membaca novel karya Dee Lestari ini membawaku menjelajahi dunia parfum yang magis. Mengunjungi Grasse, sebuah kota di Prancis bagian tenggara yang dikenal sebagai ibu kota parfum dunia. Mampir ke pabrik-pabrik legendarisnya semacam Galimard, Molinard, dan Fragonard. 

Jati Wesi, pemuda yang tinggal di Bantar Gebang Bekasi, kerap dipanggil 'hidung tikus' karena memiliki kemampuan membaui segala aroma. Berkat kemampuannya itu ia berhasil menemukan mayat di bawah tumpukan bukit sampah, suatu hal yang dianggap tidak masuk akal oleh kepolisian setempat yang hampir gagal melakukan penyidikan kasus pembunuhan. 

Jati bekerja di toko parfum isi ulang sebagai peracik yang membuatnya ditangkap dan ditahan oleh polisi lantaran dituduh membuat dan menjual parfum imitasi produk perusahaan komestik besar bernama Kemara. Raras Prayagung, pemilik perusahaan Kemara, menegosiasikan kasus itu kepada Jati dan memberikan dua pilihan: dipenjara atau bekerja untuk Kemara seumur hidup. Demi membebaskan majikan dan teman kerjanya di toko parfum yang ikut ditahan akibat kesalahannya, Jati terpaksa memilih bekerja bersama Raras Prayagung.

Minggu, 06 September 2026

Kritikus Adinan


Sinting! lebih gila ketimbang cerita-cerita dalam buku Orang-Orang Bloomington yang pernah kubaca. Barangkali memang gaya Budi Darma (1937-2021) menciptakan karakter tokoh yang janggal dan asosial. Tipikal karya fiksi yang tak mudah dinikmati, tapi mengajak untuk merefleksikan diri serupa saat membaca Gagal Menjadi Manusia (Osamu Dazai) atau Metamorfosa Samsa (Franz Kafka). 

Buku Kritkus Adinan ini berisi kumpulan cerpen. Judul buku diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Bentang tahun 2017, yang terdiri dari 274 halaman. Kupinjam dari Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki.

Ada 15 cerita yang serba absurd. Misalnya cerpen berjudul Krematorium Itu Untukku, tentang seorang yang datang ke pembakaran jenazah kerabatnya, tapi ketika tiba di lokasi dirinya justru ikut dikremasi. Pada cerpen Salipan, seorang lelaki yang mengetahui istrinya pergi berselingkuh mendatangi rumah lelaki selingkuhan istrinya yang ternyata kosong. Ia membakar diri di atas kasur kamar lelaki itu. Lalu saat istri dan selingkuhannya tiba di rumah itu dan melihat terkapar mereka cuek tak nampak terkejut, lalu melanjutkan kemesraannya dengan mandi bersama di sebuah bak.

Jumat, 04 September 2026

Sihir Perempuan


Cara Intan Paramaditha meracik kisah horor dan mistis dengan persoalan kaum perempuan dari perspektif feminis dalam buku kumpulan cerita pendek ini menurutku sangat menarik. Pengalaman pertamaku membaca karya penulis yang juga salah satu pendiri Sekolah Pemikiran Perempuan.

Ada sebelas cerpen dalam buku yang diberi judul Sihir Perempuan ini. Buku cetakan pertama terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2017 yang terdiri dari 158 halaman. Sebelumnya kumpulan cerpen itu pernah diterbitkan oleh penerbit Kata Kita pada tahun 2005.

Tiga cerpen yang paling kusuka adalah Pemintal Kegelapan, Mak Ipah dan Bunga-Bunga, serta Misteri Polaroid. Dalam cerpen Pemintal Kegelapan seorang anak selalu diceritakan dongeng oleh ibunya tentang hantu perempuan penghuni loteng rumahnya. Loteng yang tak boleh dijamahnya. Namun dongeng itu tak lagi menarik setelah ibunya berpisah dengan ayahnya. Setelah menjanda beragam stigma negatif dilekatkan pada ibunya oleh para tetangga, lantaran kerap gonta-ganti pasangan tanpa menikah.

Minggu, 23 Agustus 2026

Bahlul, Gemblung, dan Mbak Surti


Bahlul, pemuda yang gandrung berselancar di media sosial, tanpa jeda mendapat berita buruk, membuatnya frustasi akibat banyak hal dipikirkannya. 

"Bangsat! Pemerintah macam apa ini? Saat warga Aceh masih kesulitan untuk bangkit, gempa memorak-porandakan Flores, asap mengepung langit Kalimantan, tanpa empati mereka malah asik karnaval dengan segala kemewahan. Dan ketololan itu menjadi berlipat lantaran mereka menggalang dana bantuan di acara itu, yang hasilnya tidak mencapai target pula" umpat Bahlul bersungut-sungut di warung kopi Mbak Surti.


Gemblung yang sedang bernyanyi di sampingnya terkejut. "Eh, Santai aja, Bro!" sahut Gemblung merespon umpatan sohibnya itu. Lalu melanjutkan bermain gitar dan menyanyikan lagu Desa karya Iwan Fals yang sempat terputus. "Untuk apa punya pemerintah kalau hidup terus-terusan susah" Gemblung lanjut berdendang.

Mata Yang Enak Dipandang


Jebris sudah jadi pelacur. Selentingan itu menyusup ke setiap rumah di dusun. Membuka kembali aib lama dusun yang dulu dikenal melahirkan pelacur-pelacur. Padahal surau sudah dibangun, pengajian rutin dilakukan. Konon, Pak RT dan hansip sudah menasihati Jebris. Sar, tetangga Jebris, khawatir hidupnya menjadi tak berkah lantaran bertetangga dengan Jebris. Namun suaminya, Ratib, imam surau dan seksi pembinaan rohani, yang diajaknya bicara justru berpendapat: "Bila kamu tak keberatan, Jebris kita coba ajak bekerja di rumah kita. Mungkin dia bisa masak dan cuci pakaian" kata Ratib. 

Itu merupakan cerita pendek (cerpen) berjudul Bila Jebris Ada di Rumah Kami. Cerpen yang paling kusuka dari lima belas cerpen karya Ahmad Tohari dalam buku Mata yang Enak Dipandang. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama, Tahun 2013, yang terdiri dari 216 halaman. Buku yang kupinjam dan baca dari iPusnas, perpustakaan digital buatan Perpustakaan Nasional.

Melalui cerpen itu, menurutku Ahmad Tohari melalui tokoh Ratib hendak mengajak melihat pelacuran tidak sekadar menganggapnya aib atau hina dina, tapi lebih dari itu yaitu mencarikan jalan keluar yang konkret. Di cerpen-cerpen yang lain, Ahmad Tohari, konsisten mengangkat kehidupan dan sudut pandang orang-orang kampung, pinggiran, dan melarat.