Selasa, 24 Februari 2026

Koloni


Membaca novel Koloni karya Ratih Kumala ini mengingatkan pada buku Animal Farm karya George Orwell. Keduanya sama-sama fabel yang mengangkat soal perebutan kekuasaan. Jika di Animal Farm menggunakan karakter hewan yang beragam dengan karakter utama seekor babi, sementara Koloni menggunakan karakter semut api. 

"Kupersembahkan Koloni, dongeng tentang semut untuk pembaca yang lelah hidup di dunia manusia" ujar Ratih pada unggahan di Instagramnya. Dalam cerita karangannya, Ratih mengelompokkan semut api menjadi empat golongan, yaitu semut ratu, semut pekerja, semut prajurit, dan semut jantan. Semuanya memiliki peran masing-masing.

Semut ratu adalah semut yang bertugas bertelur dan memastikan kehidupan koloni terus berlangsung dan tidak punah. Dari golongan inilah pemimpin koloni berasal dengan sebutan Ratu. Semut pekerja adalah semut yang bertugas mencari dan menyimpan makanan, merawat telur, dan melayani Ratu. Semut prajurit adalah semut yang bertugas menjaga keamanan. Ketiga golongan tersebut diampu oleh semut betina. Sementara golongan terakhir adalah semut jantan, yang tugasnya hanya menghabiskan makanan, kawin sekali di musimnya lalu mati.

Gegana, sebagai Ratu, enggan menelurkan semut ratu di koloninya lantaran Dia tidak mau mendapatkan pesaing. Dia begitu menikmati kekuasaannya. Sehingga dirinya lebih banyak menelurkan semut jantan yang tidak banyak peran dalam koloni dan hanya menghabiskan makanan. Sikap Ratu Gegana itu membuat khawatir Mak Momong, seekor semut pekerja tua. Dia khawatir koloninya akan punah, jika tidak ada lagi semut ratu yang ditelurkan.

Pada situasi demikian muncul Darojak, semut ratu yang berasal dari koloni lain. Dia tersesat di koloni Ratu Gegana setelah berhasil menyelematkan diri dari koloni asalnya yang dirusak oleh manusia. Mak Momong merawat Darojak dan berambisi menjadikannya Ratu baru yang bisa menelurkan semut ratu. 

Gegana menolak mengakhiri kekuasaannya, apalagi menyerahkannya kepada Darojak yang merupakan semut pendatang. Sebaliknya Darojak dengan dukungan Mak Momong berusaha merebutnya.

Alur cerita maju-mundur dibangun oleh Ratih, persis seperti novel perdananya Tabula Rasa yang belum lama ini kubaca. Alur demikian dibuat untuk mejelaskan latar belakang  tiap karakter dan kejadian yang ada dalam cerita. Dalam novel Koloni ini, aku sangat suka dengan karakter Mak Momong.

Melalui fabel itu, Ratih menarasikan kedigdayaan betina dengan memiliki banyak peran dalam kehidupan koloni. Ini kebalikan dari kehidupan patriarki dalam dunia nyata. Tema demikian juga mengemuka dalam Gadis Kretek karya lain Ratih Kumala (aku belum membaca bukunya tapi menonton film adaptasinya yang digarap oleh sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah), di mana seorang perempuan berusaha membuat racikan rokok kretek yang realitasnya dominasi pekerjaan laki-laki.

Buku setebal 246 terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2025 itu juga menambah pengetahuanku tentang anatomi semut.


-Bekasi, 23 Februari 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar