Tabula Rasa merupakan novel pertama Ratih Kumala, penulis yang juga menulis Gadis Kretek, novel yang telah diadaptasi dalam film oleh sepasang sutradara, Kamila Andini dan Ifa Isfansyah. Ratih juga istri dari penulis Eka Kurniawan, yang bukunya Lelaki Harimau baru selesai kubaca di bulan Januari lalu.
Aku membaca novel Tabula Rasa dalam bentuk buku digital yang kupinjam melalui aplikasi iPusnas, perpustakaan digital buatan Perpustakaan Nasional. Ini perdana aku memanfaatkan iPusnas. Memang lebih praktis, namun untuk sebuah pengalaman, sejujurnya lebih menyenangkan membaca dan menghirup aroma kertas buku fisik.
Tapi menurutku, iPusnas pilihan terbaik bagi pembaca yang: memiliki masalah keuangan untuk membeli buku, tidak punya waktu mengunjungi perpustakaan, tidak punya cukup ruangan menyimpan buku di rumah, lupa membaca buku saat perjalanan, atau sengaja tidak membawa buku demi ringkasnya barang bawaan saat perjalanan.
Alur ceritanya maju-mundur dengan narasi yang diambil dari sudut pandang banyak tokoh. Ini pertama kalinya aku membaca karya Ratih Kumala. Menurutku cerita dan gaya penulisannya sangat menarik. Hanya butuh dua hari untuk menamatkan buku setebal sekitar 190 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama ini.
Melalui perjalanan tokohnya, novel ini mengajakku berkunjung ke Red Square, sebuah alun-alun besar di Moskwa, Ibukota Uni Soviet saat itu, yang di sekitarnya terdapat Benteng Kremlin juga Mausoleum Lenin, tempat mayat Vladimir Lenin diawetkan yang bisa dikunjungi dan dilihat wisatawan.
Novel ini juga memotret tren kemajuan teknologi komunikasi yang saat itu sedang berkembang di awal tahun 2000, seperti e-mail dan Yahoo! Messenger.
-Bekasi, 4 Februari 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar