Tadinya kepergianku ke Perpustakaan di Taman Ismail Marzuki Jakarta untuk mengembalikan dua buku yang kupinjam, Si Anak Savana (Tere Liye) dan Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis), sekaligus meminjam dua buku baru, salah satunya Cantik Itu Luka. Namun karena koleksi yang tersedia sedang dipinjam, aku justru mendapatkan judul lain, yaitu novel yang baru saja kutamatkan ini.
Setelah kubaca memang terlihat gaya penulisan Eka Kurniawan sangat menarik. Piawai merinci situasi dan menggunakan diksi yang membuatku larut dalam imajinasi. Alur cerita novel Lelaki Harimau ini mengingatkan pada film Memento garapan sutradara Christopher Nolan. Bergerak mundur ke belakang secara bertahap.
Jawaban atas pertanyaan kenapa Margio mengakhiri hidup Anwar Sadat kutemukan di ujung setelah mengikuti peristiwa-peristiwa sebelumnya yang mengorek kegetiran hidup Margio dan keluarganya, serta laku hidup tokoh-tokoh lainnya. Kemiskinan serta kekerasan fisik dan seksual dalam potret tatanan masyarakat patriarki menyelimuti jalan cerita dalam novel ini.
Dendam yang bersemayam dalam batin Margio terhadap bapak kandungnya, Komar, memupuk niat dalam pikirannya untuk membunuh bapak yang selama ini telah membuat sinting ibunya, Nuraeni. Lantas kenapa justru Anwar Sadat yang menjadi korbannya? "Bukan aku," kata Margio tenang dan tanpa dosa. "Ada harimau di dalam tubuhku"
-Bekasi, 22 Januari 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar