Rabu, 18 Maret 2026

Negeri Senja

 

Aku, tokoh utama dalam novel ini, musafir yang telah mengembara selama 30 tahun, melintasi berbagai negara. Tak ada tujuan selain melupakan kesedihan yang tak kunjung redam. Sampai tibalah dia di Negeri Senja, negeri di mana matahari tak pernah benar-benar tenggelam. Langit selalu menyemburatkan warna jingga keemasan, tanpa siang, tanpa malam. 

Negeri yang berada dalam kuasa perempuan buta bernama Tirana, yang bisa membaca pikiran orang dan memenjarakan roh orang mati. Tiada kebebasan, tiada pengetahuan. Rakyatnya hidup dalam kegelapan, kesunyian, dan ketakutan. Setiap protes meski masih dalam pikiran dapat diketahui Tirana dan langsung ditindas, dengan hukuman mati.

Masa lalu membentuk kediktatoran Tirana, yang semula pemberontak terhadap penguasa sebelumnya. Selama 300 tahun Tirana berkuasa, pemberontakan yang menentang kekuasaannya senantiasa hadir dan bergerak di bawah tanah. Semua berhasil ditumpasnya. Muncul penantian rakyat akan kehadiran sang juru selamat, Penunggang Kuda dari Selatan.

Jumat, 13 Maret 2026

Na Willa

 

"Quand je more tourne vers mes souvenirs, je revois la maison où j'ai grandi" sebuah kutipan lagu milik penyanyi perempuan Prancis, Françoise Hardy. Artinya kurang lebih begini: saat aku mengenang masa lalu, aku melihat rumah tempatku dibesarkan. Kutipan itu ada di halaman bagian depan buku Na Willa karya Reda Gaudiamo. Kutipan yang cukup mewakili isi buku setelah kubaca sampai akhir. Bernostalgia. 

Bercerita tentang seorang anak bernama Na Willa, seusia anak Taman Kanak-Kanak (TK), yang menjalani kehidupannya di sebuah gang di Kota Surabaya. Hidup di rumah bersama Mak dan Mbok, sementara Pak kerap pergi berlayar. Bermain bersama Farida, yang tak bisa mengucap huruf 'r', Bud, yang suka mengeluarkan ingus, juga Dul, yang jago main kelereng dan layang-layang. Willa anak paling kecil di antara kawan-kawannya itu.

Jalan cerita diambil dari sudut pandang Na Willa, mengajakku melihat cara pandang anak-anak. Banyak hal lucu, misalnya ketika Willa merasa heran dengan Radio yang bisa mengeluarkan suara orang bernyanyi dan berbincang-bincang. Didorong rasa ingin tahu yang besar, dibongkarnya radio itu menggunakan obeng untuk memastikan apakah ada orang di dalamnya.

Senin, 09 Maret 2026

The Accusation, Kisah Terlarang dari Korea Utara

 

Setelah membaca novel 1984 karya George Orwell yang mencekam itu, membuatku penasaran dengan kehidupan sehari-hari di Korea Utara, negara yang saat ini masih menutup diri dari dunia luar dan penguasanya dikenal menjalankan kepemimpinan dengan tangan besi. Rasa penasaran itu mempertemukanku dengan buku terjemahan berjudul The Accusation, Kisah Terlarang dari Korea Utara

Buku setebal 248 halaman, terbitan Sociality tahun 2018 itu berisi tujuh cerita pendek (cerpen) yang ditulis oleh Bandi, nama pena dari penulis yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan. Bandi dalam bahasa Korea berarti kunang-kunang. Cerita-cerita itu ditulis oleh Bandi dalam rentang waktu sekitar 1989-1995, saat Korea Utara masih dalam kepemimpinan Kim Il-Sung dan masa peralihan ke kepemimpinan Kim Jong Il. Keduanya adalah Kakek dan Ayah dari Kim Jong-Un, Pemimpin Tertinggi Korea Utara saat ini.

Saat buku ini diterbitkan pertama kali di Korea Selatan, Bandi masih berada di Korea Utara. Tinggal bersama istri dan anaknya. Naskah aslinya berhasil diselundupkan berkat kerabat dan kawan-kawannya. Sebab mustahil menerbitkan cerita itu di Korea Utara. Meski fiksi tapi apa yang diceritakan oleh Bandi dipercaya menggambarkan kehidupan nyata di Korea Utara, serta kritik tersurat terhadap rezim yang totaliter.