Masa lalu membentuk kediktatoran Tirana, yang semula pemberontak terhadap penguasa sebelumnya. Selama 300 tahun Tirana berkuasa, pemberontakan yang menentang kekuasaannya senantiasa hadir dan bergerak di bawah tanah. Semua berhasil ditumpasnya. Muncul penantian rakyat akan kehadiran sang juru selamat, Penunggang Kuda dari Selatan.
Awal membaca novel karya Seno Gumira Ajidarma ini langsung membuatku teringat cerita Sang Alkemis karya penulis Brasil, Paulo Coelho. Tokoh Aku mengingatkan pada tokoh Santiago. Begitu masuk ke pertengahan, imajinasi kembali ke suasana mencekam serupa novel 1984 karya Eric Arthur Blair alias George Orwell.
Tak sekadar cerita kekelaman dan kelaliman penguasa Negeri Senja, tokoh Aku juga mengalami pergulatan batin tentang cinta. Baginya cinta adalah keajaiban sekilas lalu kemudian memudar. Cintanya kepada sosok perempuan selalu timbul dan tenggelam seiring pengembaraannya, meski dua nama perempuan, Alina dan Maneka, selalu melekat dalam ingatannya.
Membaca buku setebal 242 halaman cetakan ketiga terbitan Kepustakaan Populer Gramedia ini seakan-akan sedang mendengar dongeng dengan kalimat puitis sekaligus mencekam.
Buku yang kubaca adalah buku digital yang kupinjam dalam kesempatan pertama setelah aplikasi iPusnas, perpustakaan digital milik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, bisa kembali beroperasi setelah sekian lama mengalami permasalahan.
-Bekasi, 18 Maret 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar