Dia pelacur yang pandai dan berbakat. Menjaga kecerdasannya dengan selalu membaca buku di perpustakaan, serta piawai menari erotis jawa yang dipelajarinya di Borobudur, Magelang, saat dia ikut suaminya, Rudolph MacLeod, tentara Belanda yang berkewarganegaraan Skotlandia, pindah bekerja di Hindia Belanda. Mata Hari juga seorang poliglot yang menguasai tujuh bahasa asing.
Saat menikmati puncak ketenarannya di tahun 1914 dengan banyak tampil di negara-negara eropa, dunia sedang menghadapi perang yang dipicu oleh terbunuhnya Pangeran Austria, Franz Ferdinand, di Sarajevo, Bosnia.
Memanfaatkan kedekatannya dengan pejabat tinggi dan jenderal serta imbalan yang menggiurkan, Mata Hari menjadi mata-mata untuk dua negara sekaligus, Prancis dan Jerman. Dua negara yang saling bermusuhan dalam perang. Mata Hari menjual informasi yang dia dapatkan dari 'dialog bantal', percakapan di atas ranjang.
Buku Namaku Mata Hari yang kubaca merupakan terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2010. Kupinjam dari aplikasi iPusnas dalam bentuk buku digital. Masa pinjamnya hanya enam hari, sehingga aku harus meminjamnya sebanyak tiga kali untuk menyelesaikan buku setebal 560 halaman itu.
Saat membaca aku dibuat penasaran dan membatin apakah kisah Mata Hari ini peristiwa nyata. Sebab di dalam buku, hampir di setiap awal bab, terdapat foto seorang perempuan yang menunjukkan itu sosok Mata Hari, selain catatan-catatan kaki yang dicantumkan oleh penulis di banyak halaman.
Benar, ternyata kisah Mata Hari ini merupakan peristiwa sejarah. Setidaknya itu kesimpulan yang kudapat setelah melakukan penulusuran di google. Ini cukup mengejutkan bagiku yang tidak memiliki banyak pengetahuan sejarah perang dunia. Kisah tentang Mata Hari ternyata pernah juga dituliskan oleh Dukut Imam Widodo melalui novelnya Sang Penari yang terbit tahun 1996.
Setelah membaca enam buku fiksinya, terdapat konsistensi Remy Sylado dalam setiap penulisan yang menjadi ciri khasnya. Pertama, nafsu berahi dalam bentuk sanggama selalu diceritakan secara lugas dalam setiap novelnya. Bagi pembaca yang menganggap itu hal tabu yang tak patut dibicarakan secara terang-terangan, tentu akan merasa risih membaca karya-karyanya. Tapi bagi Remy, nafsu berahi merupakan karunia ilahi yang menjadi dorongan hidup dan laku manusia, maka penting dibicarakan tanpa kemunafikan.
Kedua, mengangkat isu pelacuran. Bukan bermaksud untuk menghina atau melecehkan perempuan sebagai pelacur yang hanya dijadikan obyek seksual, sebaliknya Remy justru mengangkat harkat dan martabat pelacur dengan menarasikannya sebagai sosok yang memiliki prinsip hidup serta berdaulat atas tubuhnya.
Ketiga, menampilkan fakta sejarah. Meski ditulis dalam bentuk fiksi, Remy secara konsisten membuat latar cerita dari fakta-fakta sejarah berdasarkan hasil penelitiannya. Dalam novel Cau-Bau-Kan misalnya, Remy mengungkap peran masyarakat peranakan Cina dalam usaha perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sementara dalam novel Malaikat Lereng Tidar memotret Perang Aceh.
Keempat, penggunaan banyak bahasa asing dalam dialog cerita, seperti Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol, Itali, atau Arab. Serta bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, Ambon, Manado, atau Batak. Ini tentu tidak terlepas dari kemampuan Remy sebagai poliglot yang menguasai banyak bahasa.
Kelima, hampir tidak pernah membuat alur cerita yang mengejutkan di akhir cerita. Karakter tokoh dan dialog yang kuat, serta narasi sejarah beberapa hal yang membuatku betah membaca novel-novelnya yang selalu tebal.
Keenam, pengetahuan Remy akan musik yang sangat kaya, utamanya klasik dan jazz, kerap tercermin dalam tokoh-tokoh yang dibuatnya. Autumn Leaves adalah salah satu judul lagu jazz yang dipopulerkan oleh Nat King Cole, yang aku tahu setelah membaca novel Remy.
Novel-novel karya Remy Sylado akan sangat cocok bertemu pembaca yang menggemari sejarah atau bahasa. Tapi sepertinya luput dari pembaca generasi Z dan Alpha. Entah karena belum diketahui atau isi ceritanya yang tidak bertaut dengan kehidupan anak muda kekinian.
Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, serta iPusnas (perpustakaan digital buatan Perpustaakan Nasional), koleksi buku Remy Sylado selalu tersedia saat aku melakukan peminjaman, itu menandakan koleksi bukunya jarang dipinjam. Berbeda dengan buku-buku lain seperti karya Leila S. Chudori, Dee Lestari, Eka Kurniawan, Tere Liye, J.S. Khairen, atau Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang selalu kosong di rak buku.
Membaca buku memang serupa mendengarkan musik atau menonton film. Kenikmatannya bisa diraih manakala bertaut dengan selera pribadi penikmatnya.
-Bekasi, 4 April 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar