Sabtu, 02 Mei 2026

Knight of Cydonia dalam Realitas

 

Knight of Cydonia berputar dari penyuara telinga saat bersepeda pagi tadi menyusuri jalanan wilayah Bekasi bagian utara. Lagu milik band asal Inggris, Muse, dari album Black Holes and Revelations (2006) itu salah satu lagu kesukaanku. Musiknya megah dengan lirik satire. 

"Come ride with me through the veins of history. I'll show you how God falls asleep on the job | And how can we win, when fools can be kings? Don't waste your time or time will waste you | No one's gonna take me alive, time has come to make things right. You and I must fight for our rights. You and I must fight to survive."

Lirik pembuka lagu menyentak keimanan. "Come ride with me through the veins of history. I'll show you how God falls asleep on the job." Tuhan tertidur saat bekerja. Ini membuatku teringat pandangan Albert Einstein dan Stephen Hawking yang menganggap tuhan berperan manakala yang ada di semesta belum terjawab oleh ilmu pengetahuan, semata-mata sebagai penawar kegelisahan manusia, namun ketika alam sudah bisa dijelaskan, maka peran tuhan tidak diperlukan lagi. Inti pandangan itu kubaca dari salah satu tulisan Franz Magnis-Suseno dalam buku Demokrasi, Ateisme, dan Seksualitas.

"And how can we win, when fools can be kings?" Bagaimana kita bisa menang dan hidup sentosa saat orang yang tidak berkompeten menjadi raja. Bagian lirik itu mengingatkan pada realita kepemimpinan saat ini di Indonesia dan di tingkat global. Prabowo Subianto dan Donald Trump, dua sosok pemimpin yang sepak terjangnya menimbulkan kegelisahan dan mengancam kebebasan.

Lirik itu juga mengingatkan pada kutipan pidato Charlie Chaplin melalui tokoh Hynkel dalam film satire The Great Dictator"Let us fight for a new world - a decent world that will give men a chance to work - that will give youth a future and old age a security. By the promise of these things, brutes have risen to power. But they lie! ... Dictators free themselves but they enslave the people!" Pemimpin-pemimpin itu menjanjikan kehidupan yang layak, tapi mereka bohong. Mereka membebaskan diri mereka sendiri tapi memperbudak banyak orang.

"No one's gonna take me alive, time has come to make things right. You and I must fight for our rights. You and I must fight to survive." Bagian lirik itu mengingatkan pada kutipan ayat Surat Ar-Ra'd ayat 11 dalam kitab suci umat islam "innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim." Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. 

Serupa dengan ajaran dalam Budha "Atta hi attano natho, atta hi attano gati" yang berarti diri sendiri adalah tuan bagi diri sendiri. Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri. Aduh, berat ya. Padahal bisa saja Matt Bellamy, vokalis Muse, tidak berpikir serumit itu saat menulis liriknya. 

Oiya, hari ini diperingati sebagai hari pendidikan nasional, hari lahirnya tokoh pendidikan Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara yang menciptakan semboyan "Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" yang berarti di depan memberi teladan, di tengah memberikan semangat, di belakang memberikan dorongan. Selamat Hari Pendidikan Nasional.


-Bekasi, 2 Mei 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar