Selasa, 05 Mei 2026

Catatan Pembunuhan Sang Novelis


Misteri pembunuhan penuh teka-teki, memancing pembaca turut menerka siapa pelaku dan apa motifnya. Saat hampir tiba pada kesimpulan, pembaca dihadapkan pada misteri lain yang mengubah perkiraan sebelumnya. Itulah yang terjadi saat aku membaca novel Malice: Catatan Pembunuhan Sang Novelis karya Keigo Higashino. 

Cerita tentang terbunuhnya seorang novelis populer, Hidaka Kunihiko, di ruang kerja dalam rumahnya yang saat ditemukan dalam keadaan terkunci dan gelap. Dua orang pertama yang menemukan mayatnya adalah istrinya, Rie-san, dan sahabatnya, Nonoguchi Osamu.

Kasus tersebut diselidiki oleh Detektif Kaga Kyoichiro yang berhasil mengungkap pelakunya. Saat atasan menggangap kasus itu telah selesai, Kaga justru belum yakin dengan motif pembunuhannya. Salah satu novel karya Hidaka menjadi pintu masuk bagi Kaga menelurusi motif sebenarnya dari pelaku.

Penuturan cerita berasal dari dua sudut pandang tokoh, Nonoguchi dan Kaga Kyoichiro, secara bergantian. Ditulis dengan mengalir tanpa banyak metafora. Kekuatan novel ini ada pada ide dan alur ceritanya. Bagaimana sebuah tulisan dapat memanipulasi sekaligus mengungkap fakta.

Buku-buku karya Keigo Higashio sering kujumpai di lini masa media sosial, juga di Gramedia saat aku berkunjung. Membuatku penasaran. Dan ini pertama kalinya aku membaca karya penulis Jepang yang terkenal dengan novel-novel misterinya itu. Aku baca bukunya dalam format digital yang kupinjam di iPusnas, perputakaan digital buatan Perpustakaan Nasional. Buku terjemahan dari judul asli Akui, terdiri dari 304 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2020.


- Bekasi, 5 Mei 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar