Rabu, 10 Juni 2026

Terra Viva


"Apa yang kita makan, cara kita menumbuhkan bahan pangan, dan cara kita mendistribusikannya akan menentukan apakah umat manusia akan terus hidup atau mendorong dirinya sendiri dan spesies-spesies lainnya menuju kepunahan" tulis Vandana Shiva, ilmuwan sekaligus aktivis lingkungan asal India. Kutipan pernyataannya itu cukup mewakili memoar perjuangannya menjaga lingkungan dan merebut kedaulatan pangan yang tercatat dalam buku ini. 

Sosok Vandana Shiva muncul sebagai pengkritik revolusi hijau paling terkemuka. Dengan dalih meningkatkan produksi pangan, revolusi hijau justru merusak keanekaragaman hayati dengan pertanian monokultur, penggunaan bahan kimia, dan monopoli benih pangan oleh raksasa industri pertanian. Terinspirasi gaya perlawanan anti kekerasan Gandhi dan gerakan Chipko, Shiva secara konsisten melawan kedigdayaan perusahaan raksasa semacam Bayer-Monsanto atau Gates Foundation yang disebutnya sebagai Kartel Racun yang merusak.

Menurut Shiva, pangan yang sejatinya merupakan sumber kehidupan direduksi menjadi sekadar komoditas oleh industri pertanian. Itu kenapa meskipun revolusi hijau meningkatkan produksi pangan tetapi tidak mampu menanggulangi kelaparan. Sebab orientasi produksinya sekadar mencari keuntungan melalui perdagangan. Petani kecil yang mengandalkan sumber pangan pada hutan/pertanian tradisional dan keanekaragaman hayatinya, menjadi terpinggirkan dan miskin. Benih yang dipatenkan, penggunaan pestisida berbahan kimia, atau pertanian monokultur adalah biang kerok dari kerusakan lingkungan dan kemiskinan petani.