Rabu, 24 Juni 2026

Cantik Itu Luka


Novel Cantik Itu Luka terbitan Gramedia Pustaka Utama, cetakan ke-48 tahun 2026, yang terdiri dari 508 halaman ini merupakan buku ketiga karya Eka Kurniawan yang pernah kubaca. Sebelumnya aku membaca Lelaki Harimau, novel kedua Eka, serta Cinta Tak Ada Mati, kumpulan cerita pendek. 

"Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin" ucap Dewi Ayu setelah melahirkan anak perempuan keempatnya yang buruk rupa dan diberi nama Cantik. Beberapa hari setelahnya Dewi Ayu mati lalu bangkit dari kuburnya 21 tahun kemudian. 

Dewi Ayu, tokoh utama dalam novel ini, cucu dari seorang perempuan pribumi yang dijadikan gundik oleh lelaki Belanda di era kolonialisme negeri kincir angin itu di Hindia Belanda. Saat Jepang datang menggantikan penjajah Belanda, Dewi bersama puluhan gadis dibawa ke rumah pelacuran dijadikan budak seks, dipaksa memuaskan nafsu berahi tentara Jepang. Itu terjadi di Halimunda, wilayah pesisir pantai selatan Jawa, diatur oleh Mama Kalong, perempuan pribumi setengah baya, pelacur yang naik posisi menjadi germo.

Pasca perang usai, meski telah beranak tiga Dewi Ayu masih memiliki reputasi pelacur terbaik di Halimunda. Ia bertemu dengan Maman Gendeng, seorang pendekar dan bandit bekas veteran perang yang mengalahkan semua preman di Halimunda. Pertemuan mereka terjadi di rumah pelacuran Mama Kalong. "Tak seorang pun boleh meniduri Dewi Ayu di tempat pelacuran Mama Kalong kecuali aku" kata Maman menyampaikan maklumat di hadapan orang-orang.

Kliwon, seorang pemuda tampan yang mampu membuat banyak gadis tergila-gila padanya, sangat terobsesi kepada satu perempuan yang sulit ditaklukannya, Dewi Ayu. Saat bertandang ke rumah Dewi Ayu dengan tujuan merayunya, Kliwon justru bertemu dengan gadis kecil usia delapan tahun bernama Alamanda, anak pertama Dewi Ayu. Kliwon berpaling kepada Alamanda dan membuatnya menjadi gila. Untuk mendapatkan cinta Alamanda, Kliwon bersaing dengan Shodancho, mantan tentara pemberontak yang bergerilya melawan penjajah Jepang dan Belanda.

Membaca novel ini, sulit bagiku untuk percaya karangan itu merupakan karya debut Eka Kurniawan yang dirilis tahun 2002. Sebab, ceritanya sangat kompleks dengan alur yang tidak sederhana. Tapi sungguh menghanyutkan ketika membacanya. Eka sebagai penulis memiliki imajinasi yang hebat dan liar. 

Dibalut dengan kisah absurd, nafsu berahi, mistik, dan mitos, novel ini mengajakku melewati babak demi babak sejarah bangsa Indonesia. Dirajut dalam bingkai beragam peristiwa, dimulai dari penjajahan Belanda, perbudakan seks oleh tentara Jepang atau dikenal juga dengan istilah Jugun Ianfu, tumbuh kembangnya komunisme di Indonesia, peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan pembantaian massal, pendudukan Timor-Timor, hingga penembakan misterius (petrus). 

Buku ini mengandung banyak unsur kekerasan fisik dan seksual, membuatnya tidak mudah dibaca semua kalangan, terutama mereka yang memiliki pengalaman traumatis.


-Bekasi, 24 Juni 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar