Apakah dunia sedang berubah menjadi rumah sakit jiwa dan kita ada di dalamnya? Sebuah pertanyaan reflektif dari pementasan teater dengan judul Rumah Sakit Jiwa tadi malam, Jumat, 31 Juli 2026, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Ruang pementasan diisi penuh oleh penonton. Di antaranya ada Aku dan anak sulungku, Madiba, yang duduk di kursi C.34 dan C.35 di bagian balkon. Selama tiga jam naskah karya mendiang Nano Riantiarno (1949-2023) itu dipentaskan oleh Teater Koma.
Rogusta, dokter muda yang idealis. Ia menemukan keanehan di tempat kerja barunya, rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Profesor Sidarita. Pasien-pasiennya terbelenggu rasa takut, bicara seadanya, dan tak kunjung sembuh. Gagasan Rogusta berupa metode penyembuhan yang lebih bersahabat ditentang. Menurut Sidarita dan dokter lain, gagasan Rogusta dapat menciptakan kegaduhan dan ketidakteraturan.
Rogusta kesepian dan frustasi mengikuti aturan yang tidak masuk akal. Kedatangan Nyonya Marlinah, pemilik rumah sakit, mengubah keadaan. Marlinah merasa ada kejanggalan dengan kondisi pasien yang menurutnya tidak ada perubahan sejak dua puluh tahun silam. Rumah sakit juga tak kunjung memberinya keuntungan. Ia berniat untuk tinggal dan mencari tahu apa yang terjadi.
