Bahlul, pemuda yang gandrung berselancar di media sosial, tanpa jeda mendapat berita buruk, membuatnya frustasi akibat banyak hal dipikirkannya.
"Bangsat! Pemerintah macam apa ini? Saat warga Aceh masih kesulitan untuk bangkit, gempa memorak-porandakan Flores, asap mengepung langit Kalimantan, tanpa empati mereka malah asik karnaval dengan segala kemewahan. Dan ketololan itu menjadi berlipat lantaran mereka menggalang dana bantuan di acara itu, yang hasilnya tidak mencapai target pula" umpat Bahlul bersungut-sungut di warung kopi Mbak Surti.
Gemblung yang sedang bernyanyi di sampingnya terkejut. "Eh, Santai aja, Bro!" sahut Gemblung merespon umpatan sohibnya itu. Lalu melanjutkan bermain gitar dan menyanyikan lagu Desa karya Iwan Fals yang sempat terputus. "Untuk apa punya pemerintah kalau hidup terus-terusan susah" Gemblung lanjut berdendang.
"Hus, Gemblung! Lagumu itu lho, Anarkis. Nanti kalau didengar aparat bisa diculik kamu" protes Mbak Surti seraya mengingatkan Gemblung.
"Halah! aku cuma nyanyi, Mbak. Lagipula sekarang bukan zaman Orde Baru"
"Betul. Bukan lagi zaman Orde Baru, tapi wataknya masih bersemayam dan sedang tumbuh subur"
Bahlul masih asik menatap layar ponselnya tak mengacuhkan pembicaraan Gemblung dan Mbak Surti. Ia lalu mengunggah gambar bertuliskan Pray for Flores dan Pray for Kalimantan, lantas merasa diri paling peduli akan kesulitan warga di belahan pulau lain itu.
-Argo Muria, 22 Agustus 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar