Senin, 10 Agustus 2026

Bocah Kampung Nusantara

 

Ada anak lelaki usia lima tahun namanya Bowo. Ia anak orang terkaya di Kampung Nusantara, tapi tidak disukai teman-temannya, karena dianggap aneh lantaran suka bicara melantur. Saat bermain Ia juga selalu pengin menang dan juara, apapun permainannya. Perang-perangan adalah permainan yang paling Bowo sukai. 

Meski begitu, teman-temannya itu sulit menolak ketika diajak bermain. 

"Imin, Bahlul, ayo main perang-perangan!" ajak Bowo yang dikawal dua anak lelaki, Sapri dan Daco. Keduanya anak dari babu yang bekerja di rumah Bowo.

"Gak mau ah. Gak seru main sama kamu" jawab Imin sambil mengusap ingus dengan sarung yang biasa Ia kenakan untuk mengaji.

"Ah, betul, kau maunya menang terus" tambah Bahlul yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek kucel.

Lalu Daco mendekati Imin dan Bahlul. Setengah berbisik Daco bertanya "Lu berdua mau dibeliin es krim gak? Nanti gua beliin sehabis main"

Imin dan Bahlul saling pandang lalu kompak bilang "Mau dooong!"

Lalu Sapri mengeplak kepala keduanya "Dasar, kere! ayo mulai main!" katanya. Imin dan Bahlul cuma bisa cengar-cengir.

"Nanti aku langsung mati setelah kamu tembak ya, Wo!" ujar Imin. "Kalau aku nanti biarkan lari dulu ya, Wo, begitu sudah agak jauh, baru kau tembak" pinta Bahlul.

Sapri menyerahkan pistol mainan yang Ia bawa kepada Bowo. "Sudah siap belum?" tanya Bowo. "Siaaaaap!" jawab Imin dan Bahlul kompak.

Usai bermain, Imin dan Bahlul asik menjilati es krim rasa vanila yang tadi dibeli Daco dari warung kelontong madura milik Pak Pur.


-Bekasi, 3 Agustus 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar