Minggu, 23 Agustus 2026

Mata Yang Enak Dipandang


Jebris sudah jadi pelacur. Selentingan itu menyusup ke setiap rumah di dusun. Membuka kembali aib lama dusun yang dulu dikenal melahirkan pelacur-pelacur. Padahal surau sudah dibangun, pengajian rutin dilakukan. Konon, Pak RT dan hansip sudah menasihati Jebris. Sar, tetangga Jebris, khawatir hidupnya menjadi tak berkah lantaran bertetangga dengan Jebris. Namun suaminya, Ratib, imam surau dan seksi pembinaan rohani, yang diajaknya bicara justru berpendapat: "Bila kamu tak keberatan, Jebris kita coba ajak bekerja di rumah kita. Mungkin dia bisa masak dan cuci pakaian" kata Ratib. 

Itu merupakan cerita pendek (cerpen) berjudul Bila Jebris Ada di Rumah Kami. Cerpen yang paling kusuka dari lima belas cerpen karya Ahmad Tohari dalam buku Mata yang Enak Dipandang. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama, Tahun 2013, yang terdiri dari 216 halaman. Buku yang kupinjam dan baca dari iPusnas, perpustakaan digital buatan Perpustakaan Nasional.

Melalui cerpen itu, menurutku Ahmad Tohari melalui tokoh Ratib hendak mengajak melihat pelacuran tidak sekadar menganggapnya aib atau hina dina, tapi lebih dari itu yaitu mencarikan jalan keluar yang konkret. Di cerpen-cerpen yang lain, Ahmad Tohari, konsisten mengangkat kehidupan dan sudut pandang orang-orang kampung, pinggiran, dan melarat.

Di cerpen Mata yang Enak Dipandang, misalnya, menceritakan seorang pengemis buta yang kerap diperas oleh penuntunnya. Ada juga cerpen berjudul Dawir, Turah, dan Totol, tentang  kehidupan lumpenproletariat di kawasan terminal yang kerap dirazia aparat. Di cerpen Sayur Bleketupuk, seorang ibu membuat anaknya tertidur dengan diberi makan sayur bleketupuk, lantaran tak bisa membawanya berkunjung ke komedi putar di hari terakhir. Anaknya terus menagih janji, membuatnya panik karena tak punya uang, sementara suaminya tak kunjung pulang.

Kepekaaan dan kepiawaian Ahmad Tohari dalam menulis, membuat realitas sosial yang mungkin dianggap sepele bagi kebanyakan orang, menjadi sebuah cerita yang begitu hidup dan membuatnya tidak sekadar jadi adegan figuran dalam panggung kehidupan. Sehingga setiap karyanya selalu menarik untuk dibaca dan berpotensi membuat pembacanya merefleksikan diri dan bersyukur akan hidup.


-Argo Muria, 22 Agustus 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar