Kamis, 13 Agustus 2026

Corat-Coret di Toilet

 

Peter Pan punya kebiasaan mencuri buku dari perpustakaan di seluruh pelosok kota dan toko-toko buku. Ia tahu tindakan itu terkutuk, tapi itu dilakukannya dengan harapan bisa ditangkap, sehingga Ia tahu pemerintah memang mencintai buku dan membenci pencuri buku. Sayangnya, Ia tak pernah ditangkap meski sudah ribuan buku dicurinya. Dengan alasan itu Ia mengumumkan perang gerilya melawan pemerintah. 

Itu sekelumit isi cerpen berjudul Peter Pan, satu dari dua belas cerpen yang mengisi buku ini. Beragam keabsurdan mewarnai beberapa cerita, ciri khas penulisan Eka Kurniawan. Dua cerpen lain yang kusuka: Pertama, Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam, tentang gadis remaja yang memberontak akibat dikekang oleh Ayahnya. Kedua, Siapa Kirim Aku Bunga? tentang seorang kontrolir Belanda pengirim tahanan ke Boven Digoel yang kerap mendapat kiriman bunga dari orang misterius. Semua cerpen ditulis di rentang tahun 1999-2000, sebelum Eka menerbitkan novel pertamanya yang mendunia, Cantik Itu Luka.

Cerpen lain bukan berarti tidak menarik. Alamanda tak kuasa melawan kehendak Ayahnya yang menjodohkan dirinya dengan kakak sepupunya, lelaki yang tak dicintainya. Beberapa saat sebelum perkawinan Alamanda meminta kepada calon suaminya itu untuk mendengarkan dirinya mendongeng sebelum mereka bercinta di malam pertama. Kisah Petualangan Alice di Negeri Ajaib membuat mereka gagal bercinta hingga bulan madu usai. Itu merupakan isi cerpen Dongeng Sebelum Bercinta.

Corat-Coret di Toilet, yang dijadikan sebagai judul buku, merupakan cerpen ketiga yang menurutku juga unik dan lucu. Menyadari dinding toilet baru dicat, usai berak seorang mahasiswa mencoret dinding menggunakan spidol dengan tulisan "Reformasi gagal total, Kawan! Mari tuntaskan revolusi demokratik!". Coretan itu memancing reaksi mahasiswa lainnya dan membuat coretan baru "Jangan memprovokasi! Revolusi tak menyelesaikan masalah. Bangsa kita mencintai kedamaian. Mari melakukan perubahan secara bertahap." Dua coretan itu memancing lagi reaksi mahasiswa lainnya sehingga terjadi percakapan secara terus-menerus melalui dinding. Melihat dinding penuh coretan, seorang mahasiswa jengkel dan menulis di dinding itu "Kawan-Kawan, tolong jangan coret-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan."

Sebagai penulis Eka memiliki imajinasi hebat. Banyak ide cerita yang membuatku "kok bisa kepikiran ya?" dengan gaya penulisan yang ciamik. Kemampuan itu juga tercermin dalam buku kumpulan cerpen lainnya, Cinta Tak Ada Mati, juga novel Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau yang pernah kubaca. Kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet merupakan buku kelima karya Eka yang kubaca, setelah Pramoedya Ananta Toer dan Realisme Sosialis, buku non-fiksi yang awalnya adalah naskah skripsinya di Fakutas Filsafat Universitas Gajah Mada.

Buku Corat-Coret di Toilet ini kupinjam dari perpustakaan digital, iPusnas. Terbitan Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, tahun 2014, terdiri dari 149 halaman. iPusnas sungguh membantuku yang sedang berhasrat membaca, tapi enggan membeli buku. Ketimbang berselancar di media sosial yang penuh informasi dan kerap memicu stres, aku lebih memilih membaca buku di dalam kereta saat perjalanan pergi-pulang kerja, meski pernah membuatku kebablasan stasiun.


-Bekasi, 13 Agustus 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar