Sabtu, 27 Juni 2026

Petang Panjang di Central Park

 

"Poko'e maknyus!" ucap Bondan Winarno (1950-2017) usai mencicipi makanan dan membangkitkan selera penonton. Namanya melambung dan mulai kukenal saat menjadi pewara program televisi Wisata Kuliner di Trans TV. Buku ini sisi lain yang membuktikan Bondan sejatinya penulis dan jurnalis. Berisi 25 cerita pendek (cerpen) yang Ia tulis dalam rentang waktu 1983-2004. 

Membaca kumpulan cerpen Bondan ini  membuatku seakan-akan sedang melintasi waktu dan keliling dunia lantaran banyak cerita dengan latar kota di beberapa negara, seperti Bologna, Frankfurt, New York, Bombay (Mumbai), Seoul, Saigon (Ho Chi Minh), Vancouver, Swedia, Nairobu, Paris, atau Tijuana. Ada juga kota di dalam negeri seperti Jakarta, Semarang, atau Maluku Tengara.

Mayoritas narasi cerpen berasal dari sudut pandang lelaki sebagai tokoh utama, yang kebanyakan berprofesi sebagai jurnalis dan berasal dari Indonesia. Ini membuatku menduga tokoh utama itu Bondan, tapi entahlah, karena ini fiksi. Cerpen-cerpen itu, menurut Bondan, dibuat sebagai penawar jenuh di sela-sela tugas jurnalismenya. 

Semua cerpen menggunakan alur sederhana dengan gaya penulisan yang mengalir. Hampir setiap cerpen punya kejutan di akhir. Bondan tidak banyak bermain metafora, tapi kerap menggunakan diksi seperti lebuh, jemba, gapah, terjengak, atau berdekak-dekak, yang tak pernah kutemukan di karya penulis lain. Semua cerita dituturkan dengan bernas.

Dua cerpen yang paling kusuka: Rudy dan Kami dan Pada Ulang Tahun Nyonya Besar. Cerpen pertama bercerita tentang tiga pekerja hotel di New York yang dipecat akibat resesi lalu mencoba bertahan hidup dengan melacur atau berjualan makanan di pinggir jalan. Cerpen kedua tentang keluarga yang retak akibat perselingkuhan dan pengkhianatan. Seorang Nyonya Besar meninggal di hari ulang tahunnya hanya ditemani seorang babu. Selingkuhannya kabur bersama perempuan lain setelah memeloroti harta peninggalan mendiang suaminya dan anak-anaknya tak lagi peduli.

Cerpen-cerpen lainnya juga menarik dengan ragam kisah. Ada kisah asmara jurnalis saat perang Vietnam, kisah tragis imigran perempuan Meksiko di perbatasan saat hendak mengubah nasib ke Amerika Serikat, kisah kurir narkoba yang tertangkap di sebuah bandara di India, atau kisah perempuan pelacur yang mencopet di Paris. Ada juga yang memotret kisah tragis dalam Perang Bosnia dan konflik berdarah di Ambon.

Selalu ada bagian di mana tokoh-tokoh dalam cerita singgah ke restoran atau menggemari makanan. Bonda mengangkat kuliner dalam karyanya. Carne Salata di Itali, Hash-Brown Potatoes di New York, atau Cevapcici di Bosnia merupakan jenis kuliner yang turut melengkapi jalan cerita. Membuatku maklum kenapa Bondan begitu dekat dengan dunia kuliner.

Sebagian besar cerpen pernah dimuat di harian Kompas, ada juga yang dimuat di majalah seperti Horison atau Femina. Petang Panjang di Central Park yang dipilih menjadi judul buku adalah cerpen terakhir dalam buku ini. Buku terbitan Noura tahun 2016 ini terdiri dari 338 halaman. Tersedia di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta, tempatku meminjam buku ini.


-Bekasi, 27 Juni 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar