Syahdan,
tercium aroma tak sedap rasuah. Bebek terjerat. Bebek lain ciut
nyali. Tapi bergembiralah, sebab Babi siap berkuasa lagi.
Babak II - Mimpi Buruk.
"Kepada seluruh rakyat yang saya cintai, ayo giatkan membaca! ayo berorganisasi! sampaikan aspirasi saudara-saudara. Pemerintah siap melayani" pidato Babi berkobar-kobar penuh semangat.
Sukacita
menyambut seruan itu. Rakyat berbondong-bondong pergi ke perpustakaan. Petani
berkumpul. Buruh berhimpun. Muda-Mudi berdiskusi di kedai kopi. Mimbar bebas di
setiap sudut desa dan kota.
Ketukan pintu kamar itu menyadarkan Babi dari mimpi buruknya. Peluh bercucuran. Setengah bingung. Kelinci, sang pelayan, masuk sambil meletakkan menu sarapan kegemarannya di meja sebelah ranjang lalu mengingatkan "Pak, jangan lupa lho! Pagi ini ada pertemuan dengan pengusaha sawit, nikel, dan batubara. Minggu lalu mereka sudah memberi Bapak hadiah sepasang kuda jantan." Babi tersenyum. Genit mengedipkan sebelah mata pada Kelinci. Mimpi buruk pun berlalu begitu saja.
Babak III - Gerombolan Serdadu.
Sepanjang
karirnya Babi hanya tahu keserdaduan. Dia canggung membicarakan dunia lain. Itu
sebab di lingkaran kekuasaanya, melimpah jabatan untuk para serdadu bangkotan.
Membuatnya tetap patriotik di zona nyaman.
Sesekali
diundangnya pewarta untuk berbincang tentang banyak hal. Alih-alih menampakkan
kepemimpinan nan perwira, justru membuatnya terlihat pandir yang patut
ditertawakan. Berulang kali pidato di depan publik, aduh, sungguh memuakkan.
Hanya barisan penjilat yang setia bertepuk tangan dan melempar pujian.
Tapi Babi
punya mimpi besar. Menjadi yang pertama dan satu-satunya kepemimpinan
gerombolan serdadu di dunia yang bisa maju dan berkembang menuju masa keemasan
bangsa. Rakyat diminta patuh dan tenang. Jangan membangkang!
Babak IV - Senja Kala Kekuasaan.
Kemarahan Bangsa Binatang pada kepemimpinan Babi membuncah, lantaran harga-harga pangan melonjak, Babi juga suka berfoya-foya untuk kesenangan pribadi dan program kerja yang ada hanya menguntungkan kroni-kroninya.
Melalui
kepemimpinan Semut Rangrang dan Lebah Hutan, semua binatang turun ke jalan.
Mereka menyeret Babi dan Para Petinggi secara paksa dan akan mengaraknya dalam
keadaan setengah telanjang di sepanjang jalan hutan. "Silakan umpat dan
ludahi Bajingan ini!" tertulis pada papan yang dikalungkan pada leher
Babi. Semua binatang berkumpul di sisi kiri-kanan jalan, mengumpulkan dahak dan
ludah di mulut siap untuk dimuntahkan.
Sebelum
dimulai Semut Rangrang didampingi Lebah Hutan menyampaikan pidato:
"Saudara-saudara, dalam situasi tentram, perbuatan yang akan kita lakukan
ini keji dan melanggar hak binatang. Tapi dalam tatanan yang sudah bobrok
adakah cara terbaik membuat ciut nyali dan menghancurkan watak culas mereka?
Maka kata-kata kasar sekalipun menjadi revolusioner untuk situasi saat
ini."
"Bangsaaat!
Bajingaaan!" teriak para binatang. Arak-arakan pun dimulai.
-Mei-Juni 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar