Setelah menerima hukuman cambuk, dalam keadaan sempoyongan Wai memutuskan untuk meninggalkan desanya, pergi ke selatan menuju wilayah Bolaang Mongondow. Wai yang tak kuat lagi menegakkan kakinya, jatuh terguling dari atas bukit. Tubuhnya ditemukan oleh keluarga Macapoga di kaki Gunung Simbalang.
Wai jatuh cinta pada Seistu, anak perempuan Macapoga yang telah merawatnya. Tapi Wai teringat ramalan ayahnya bahwa sebelum usianya 27 tahun Wai akan mengalami malapetaka setiap berkencan dengan perempuan. Wai yang saat itu baru berusia 22 tahun memercayai ramalan itu, lalu pergi meninggalkan Seistu dan keluarga penolongnya itu melanjutkan perjalanan ke selatan dengan janji akan kembali lagi.
Bertemulah Wai dengan dua nelayan, Paparro dan Nisayo, bapak dan anak yang sedang mencari orang Spanyol pembunuh Niyari, anak perempuan Paparro atau adik Nisayo. Orang Spanyol itu bernama Manuel Rosas, orang yang dibebaskan oleh Paparro dari tahanan Portugis di Tidore.
Selama lima tahun berikutnya Wai yang jago beladiri bekerja sebagai nelayan bersama Paparro dan Nisayo, sambil membantu mereka menemukan dan membalaskan dendamnya pada Manuel Rosas. Lantas bagaimana kehidupan Wai Ranoyapo selanjutnya? Apakah Dia akan terbebas dari ramalan ayahnya dan menemukan cinta sejatinya?
Penggalan cerita itu merupakan kisah Wai Ranoyapo, tokoh utama dalam novel Inani Keke karya Remy Sylado. Untuk sekian kalinya aku hanyut dalam fiksi karangan penulis keturunan Minahasa itu. Inani Keke yang dijadikan judul buku adalah sebuah lagu Minahasa yang populer. Saat kecil aku pernah mendengar lagu itu tanpa mengetahui artinya. Dalam cerita novel ini, Wai Ranoyapo menyanyikannya dalam sebuah perlombaan.
Inani Keke memang tidak setebal novel-novel lain Remy Sylado yang pernah kubaca seperti Cau-Bau-Kan, Kerudung Merah Kirmizi, Parijs van Java, atau Melaikat Lereng Tidar yang semuanya lebih dari 500-600 halaman. Meski hanya setebal 166 halaman, novel terbitan baru dari penerbit Shira Media tahun 2026 ini mampu menyajikan sejarah asal-usul orang Minahasa dan kolonialisme Spanyol di sana melalui sebuah roman yang menyentuh.
Shira Media menerbitkan novel Inani Keke berpasangan dengan sekuelnya Trabar Batalla. Sampul kedua buku itu jika disatukan menjadi sebuah gambar sketsa utuh yang menarik. Baru kuketahui Inani Keke dan Trabar Batalla ternyata karya lama atau dibuat saat Remy Sylado muda. Terbit pertama kali di tahun 1966 dan 1968.
Catatan Seno Gumira Ajidarma (pernah dimuat oleh Tempo pada tahun 2024) yang ada pada novel Inani Keke sebetulnya menarik, tapi menurutku sedikit mengganggu karena diletakkan di bagian depan atau pembuka. Karena isinya memberikan ringkasan (bocoran) tiap-tiap bab. Aku menyadari itu saat sudah melewati tiga halaman. Lalu kuabaikan dan langsung melompat ke bagian isi. Namun setelah menuntaskan cerita, aku membaca ulang tulisan Seno itu.
Jika dalam buku-buku lain umumnya penulis menambahkan ilustrasi berupa sektsa atau gambar, Remy Sylado dalam Inani Keke menghadirkan sebuah foto drama sebagai ilustrasi cerita, di mana dirinya bersama aktor-aktor lain yang menjadi model foto drama itu.
-Bekasi, 23 Mei 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar