"Ya benarlah itu, Tuhanku"
"Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang ... engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, ... kamu semua mesti masuk neraka" kata Tuhan.
Dialog itu merupakan kutipan dari cerita pendek (cerpen) berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Menggambarkan sikap seseorang yang meninggalkan urusan duniawi demi melakukan segala bentuk sembah. Saat di akhirat, alih-alih dimasukkan ke surga, Tuhan justru menjebloskannya ke bagian kerak neraka.
Buku Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan sepuluh cerpen karya sastrawan asal minang itu. Robohnya Surau Kami sebagai judul cerpen pertama diangkat menjadi judul buku. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama, cetakan ke-19, tahun 2025 yang kubaca itu terdiri dari 142 halaman. Termasuk karya sastra klasik di Indonesia yang diterbitkan pertama kali tahun 1956.
Cerpen-cerpen lainnya berjudul Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.
Setidaknya ada dua hal yang menurutku mewarnai jalan cerita. Pertama, kritik kaum muda terhadap kaum tua. Kedua, kereta sebagai transportasi. Misalnya kritik terhadap kaum tua yang mabuk agama ada dalam cerpen Robohnya Surau Kami, kaum tua yang sukanya menasihati dan gila hormat ada dalam cerpen Nasihat-Nasihat, Topi Helm, dan Dari Masa ke Masa, atau orang tua yang membangga-banggakan anak secara berlebihan dalam cerpen Anak Kebanggaan. Sementara kereta sebagai transportasi muncul dalam cerpen Topi Helm, Datangnya dan Perginya, atau Penolong.
Di beberapa cerpen aku sulit memahami maksud cerita, sehingga harus membaca ulang secara perlahan. Tapi secara umum gaya penulisan Navis sangat menarik. Kerap menggunakan diksi yang tidak umum. Beberapa cerpen memberi kejutan di akhir cerita.
-Bekasi-Jakarta, 21 Mei 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar