Selir-selir Wiraguna yang lain turut cemburu dan melempar anggapan Mendut yang urakan hanya akan merusak wibawa panglima perang itu. Bila perempuan lain merasa diangkat harkatnya dengan dijadikan selir oleh petinggi, tapi tidak bagi Rara Mendut. Baginya itu hanya akan menbuatnya menjadi barang hiburan belaka dan hidup terkurung.
Mendut lebih memilih dipulangkan dan hidup di pesisir, karena di sanalah dirinya merasakan kemerdekaan. Melabuhkan cintanya pada Pranacitra, pemuda asal Pekalongan yang pernah melaut bersamanya dan pamannya.
Kecewa akan penolakan Rara Mendut, Wiraguna memberinya hukuman berupa pembayaran pajak. Dengan harapan Mendut tak akan sanggup membayarnya dan takluk padanya. Mendut tak kehabisan akal. Untuk membayar pajak itu, Dia menjual rokok di pasar ditemani dua orang dayangnya, Ni Semangka dan Gendut Duku.
Kisah Rara Mendut itu merupakan buku pertama dari Trilogi (Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri) karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya yang selama ini kukenal sebagai Romo Mangun. Sosok yang dikenang sebagai pendeta pembela wong cilik, terutama dalam peristiwa penggusuran warga Kalicode Jogja dan pembangunan waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah.
Ini kali pertamanya aku membaca karya Romo Mangun. Novel Rara Mendut terbitan Gramedia Pustaka Utama, cetakan ketujuh tahun 2023, terdiri dari 340 halaman. Buku yang kupinjam dari Perpustakaan Jakarta.
Cara penulisan Romo Mangun dalam novel ini menurutku sangat puitis dengan alur cerita maju. Dengan latar cerita di masa Kerajaan Mataram, Rara Mendut mengambarkan sosok perempuan berdaulat dalam kepungan budaya patriarki, dengan sikap pantang menyerah dan mendambakan kesetaraan.
Rara Mendut mengingatkanku pada karakter Dasiyah atau Jeng Yah, perempuan peracik rokok dalam film seri Gadis Kretek garapan sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah. Film itu sendiri diadaptasi dari novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala.
-Bekasi, 12 Mei 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar