Belajar sejarah dan memperkaya kosakata. Itu kesanku setelah membaca empat buku karya Remy Sylado (Novel Pengeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata).
Remy Sylado selalu menyisipkan fakta-fakta sejarah dalam karya fiksinya. Misalnya dalam buku Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata ini yang latar waktu ceritanya di sekitar tahun 1920-1930, selain mengenalkan sejarah gedung dan nama-nama jalan pada masa itu, khususnya di Bandung, Remy Sylado juga memotret tumbuhnya pergerakan kemerdekaan Indonesia, semacam Indische Partij atau Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).
Penggunaan kosakata bahasa Indonesia yang tak lazim juga ditemukan dalam novel ini seperti kata melembak, pedar, bestari, bernala-nala, cewang, cunihin, walakin, galan, tulat, atau tubin. Semua kata itu sesungguhnya ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hanya kebetulan aku yang miskin kata, sehingga merasa menemukan kosakata baru.
Sebagai penulis lelaki, Remy Sylado tampak memiliki kepekaan dan keberpihakan pada persoalan kaum perempuan. Ini terlihat dari narasi-narasi cerita yang dambil dari sudut pandang perempuan.
Sekilas ada kemiripan gaya bertutur Remy Sylado dengan Pramoedya Ananta Toer. Hanya pada karya-karya Pram aku kerap merasakan dominasi gambaran hidup yang murung, sementara pada karya-karya Remy Sylado aku menemukan sisi hidup yang liar.
-Jakarta, 28 November 2025-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar