Selasa, 02 Desember 2025

Laut Bercerita


Setiap hari minggu di rumah, Bapak, Ibu, Biru Laut, dan Asmara Jati makan bersama masakan Ibu sambil memutar piringan hitam mendengarkan lagu The Beatles. Sebuah tradisi keluarga yang bermukim di Ciputat. Kelak Bapak selalu menyediakan satu piring yang akan tetap kosong hingga waktu makan berakhir, karena Biru Laut tak pernah lagi hadir, hilang sejak Maret 1998. 

Novel Laut Bercerita ini buku kedua karya Leila S. Chudori yang kubaca setelah Pulang. Berkisah tentang sekelompok mahasiswa yang hilang di penghujung Orde Baru, serta kegetiran keluarga yang ditinggalkan. Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, buku ini termasuk paling digemari pembaca. Di bulan September-November 2025, status ketersediaannya selalu kosong saat aku melakukan pencarian di mesin atau menanyakannya kepada petugas penjaga.  

Buku setebal 379 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2017 ini berisi dua bagian dari dua sudut pandang. Bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, sebagai tokoh utama dalam cerita. Dengan alur cerita yang maju-mundur, bercerita tentang sekolompok mahasiswa Jogja yang membentuk kelompok diskusi rahasia dan melakukan perlawanan kepada penguasa bersama buruh dan petani. Kegiatan yang dilakukan di bawah bayang-bayang militer. Intimidasi dan kekerasan senantiasa menyertai, hingga masa penculikan, penyekapan, dan penyiksaan itu tiba.  

Sementara bagian kedua dilihat dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Bercerita tentang upaya keluarga yang tak pernah lelah mencari dan mempertanyakan anggota keluarganya yang hilang.

Meski fiksi, namun apa yang diceritakan oleh Leila S. Chudori sesungguhnya nyata, memotret sejarah perlawanan yang terjadi di masa senja Orde Baru. Tokoh-tokoh dalam novel, meski namanya disamarkan tapi sesungguhnya ada. Demikian pula dengan peristiwanya, seperti peristiwa kedung ombo, penggusuran warga akibat proyek pembangunan waduk di Jawa Tengah. Atau peristiwa Blangguan, penolakan petani dan mahasiswa atas pengambilalihan lahan pertanian menjadi area latihan militer di Situbondo, Jawa Timur.

Tidak melulu serius dan getir, novel ini juga menyajikan kisah percintaan yang terjalin antara tokoh Biru Laut dan Ratih Anjani, seorang pelukis perempuan yang terlibat dalam gerakan perlawanan. Pun kehangatan keluarga, kisah persahabatan, kelucuan, dan pengkhianatan.

Cerita ini akan diangkat menjadi sebuah film yang diperankan oleh Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Dian Satrowardoyo sebagai Kasih Kinanti, dan Eva Celia sebagai Ratih Anjani. Film diproduksi oleh perusahaan film Pal8 Pictures, anak perusahaan Tempo Grup.  Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen yang pernah membuat film Istirahatlah Kata-Kata, tentang biografi penyair Widji Thukul. Film Laut Bercerita rencananya akan tayang di bisokop tahun depan (2026).

Membaca novel ini atau menonton filmnya di kemudian hari merupakan perjuangan melawan lupa, meminjam istilah novelis Prancis, Milan Kundera, yaitu sebuah perlawanan terhadap penguasa yang mencoba menghapus ingatan kolektif dan memanipulasi sejarah. Laut Bercerita memiliki relevansi dengan situasi Indonesia kekinian. Prabowo Subianto saat itu disebut-sebut terlibat dalam peristiwa penculikan mahasiswa. Prabowo, selaku Presiden, juga telah memaksakan pemberian penghargaan kepada Suharto, mantan mertuanya sekaligus mantan Presiden yang problematik, sebagai Pahlawan Nasional. Keterlibatan banyak mantan tentara dalam pemerintahan pun keadaan yang patut dikhawatirkan.

Semoga Indonesia tidak kembali ke masa di mana membaca buku pun dikekang.

 

-Bali, 2 Desember 2025-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar