Isabella telah menikah lagi dengan lelaki Spanyol, Pierre Durant, yang berkuasa dan menghuni Benteng El Amoran, di Uwuran, Minahasa. Mereka memiliki anak bernama Fidel Durant. Pepito kerap mendapat perlakuan buruk dari Pierre Durant, ayah tirinya itu.
Pepito minggat dari rumah dan bertekad mencari pembunuh ayahnya dan balas dendam. Selama pencariannya, Pepito beberapa kali diserang atau dimusuhi orang karena mengira dirinya Paolo Pascoal. Pepito pun bertanya-tanya siapa gerangan Paolo yang konon rupanya mirip dengan Dia. Adakah sangkut-pautnya dengan pembunuh ayahnya.
Jika pada novel-novel lainnya (seperti Cau-Bau-Kan, Kerudung Merah Kirmizi, Parijs van Java, Malaikat Lereng Tidar, Namaku Mata Hari, atau Inani Keke) Remy Sylado tidak memberi kejutan di akhir cerita, di Trabar Batalla justru cerita diakhiri dengan sebuah kejutan.
Buku Trabar Batalla terbitan Shira Media tahun 2026 ini terdiri dari 214 halaman, sedikit lebih tebal dari prekuelnya, Inani Keke. Dua buku itu diterbitkan bersamaan yang jika sampulnya disatukan akan membentuk satu gambar utuh yang menarik.
Remy dalam Trabar Batalla mengangkat soal Mamuis, mitos populer di Minahasa tentang hantu penculik pemenggal kepala yang digunakan untuk menakut-nakuti anak agar tidak bermain jauh atau pulang larut malam. Namun Remy dalam cerita menarasikan mamuis sebagai tradisi laki-laki yang memenggal kepala untuk menunjukkan seberapa jagoan dirinya.
Membaca Inani Keke dan Trabar Batalla jadi cara asik dan ringan mempelajari sejarah budaya masyarakat Minahasa dan penjajahan yang terjadi di abad 16. Lewat buku itu juga diberitahu asal-usul nama Amurang, sebuah kecamatan di Minahasa Selatan. Juga asal usul nama Manado, ibukota Sulawesi Utara saat ini.
-Serang, 27 Mei 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar