Jumat, 13 Maret 2026

Na Willa

 

"Quand je more tourne vers mes souvenirs, je revois la maison où j'ai grandi" sebuah kutipan lagu milik penyanyi perempuan Prancis, Françoise Hardy. Artinya kurang lebih begini: saat aku mengenang masa lalu, aku melihat rumah tempatku dibesarkan. Kutipan itu ada di halaman bagian depan buku Na Willa karya Reda Gaudiamo. Kutipan yang cukup mewakili isi buku setelah kubaca sampai akhir. Bernostalgia. 

Bercerita tentang seorang anak bernama Na Willa, seusia anak Taman Kanak-Kanak (TK), yang menjalani kehidupannya di sebuah gang di Kota Surabaya. Hidup di rumah bersama Mak dan Mbok, sementara Pak kerap pergi berlayar. Bermain bersama Farida, yang tak bisa mengucap huruf 'r', Bud, yang suka mengeluarkan ingus, juga Dul, yang jago main kelereng dan layang-layang. Willa anak paling kecil di antara kawan-kawannya itu.

Jalan cerita diambil dari sudut pandang Na Willa, mengajakku melihat cara pandang anak-anak. Banyak hal lucu, misalnya ketika Willa merasa heran dengan Radio yang bisa mengeluarkan suara orang bernyanyi dan berbincang-bincang. Didorong rasa ingin tahu yang besar, dibongkarnya radio itu menggunakan obeng untuk memastikan apakah ada orang di dalamnya.

Atau ketika Willa yang beragama kristen ikut melihat Farida bersama anak-anak lain mengaji. Farida memakai penutup kepala dan baju serba putih. Karena ingin menyamai Farida, Willa pulang dan kembali membawa kain putih untuk menutup kepalanya. Mak tiba-tiba datang dan murka, sebab Willa membawa sprei putih yang baru terpasang di kasur.

Ah, buku yang menarik dan menyenangkan. Terasa seperti mendengarkan cerita anak, yang jarang menyimpulkan dan tidak menghakimi. Semua peristiwa dalam cerita dideskripsikan dengan baik oleh Reda Gaudiamo selaku penulis.

Ada persoalan kompleks dalam cerita yang dilihat dengan sederhana oleh anak-anak, seperti Willa yang heran melihat Mbak Tin, sang pengantin muda, menangis tersedu di kamarnya. Lalu setelahnya Willa tidak suka melihat sosok pria tua berjenggot dan bergigi emas yang menjadi pasangan Mbak Tin. Sebagai pembaca aku menduga itu perkawinan yang dipaksakan. Ada juga seorang guru yang menertawakan Na Willa ketika memperkenalkan namanya di kelas dan menyebutnya anak nakal, sehingga membuat Willa kabur dari sekolah di hari pertamanya. Aku menyimpulkan itu terkait dengan isu pengajaran atau pendidikan yang bermasalah.

Buku ini merupakan buku pertama dari tiga buku seri Na Willa. Yang lainnya berjudul Na Willa dan Rumah dalam Gang, serta Na Willa dan Hari-Hari Ramai. Buku setebal 114 halaman terbitan Post Press ini secara visual jadi tambah menarik berkat ilustrasi atau skesta karya Cecilia Hidayat.

Na Willa telah diadaptasi menjadi sebuah film yang disutradarai Ryan Adriandhy. Sosok yang juga menyutradarai film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa, Jumbo. Film Na Willa yang diproduksi Visinema Studio itu akan tayang secara serentak di bioskop pada tanggal 18 Maret 2026.


-Bekasi, 13 Maret 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar