Jumat, 27 Februari 2026

30 Paspor The Peacekeepers' Journey


Mahasiswa diwajibkan memiliki paspor, kemudian diminta pergi sendirian ke satu atau dua negara yang memiliki bahasa dan budaya berbeda dengan Indonesia. Tidak boleh ditemani. Segala persiapan diurus secara mandiri, tidak boleh dibantu keluarga atau teman. Sebaliknya, di negara tujuan mereka diminta membantu siapa saja yang ditemui. Membawa pesan damai dengan cara sederhana. Hasil berpergian itu dibuat laporan dalam bentuk makalah dan dipresentasikan. 

Metode belajar yang unik dan 'gila' itu diterapkan oleh Rhenald Kasali, untuk mata kuliah Pemasaran Internasional di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tentu saja metode itu diprotes pihak kampus maupun orangtua mahasiswa. Metode itu tidak ada di silabus, mengganggu perkuliahan dosen lain, kecemasan orangtua karena anaknya harus sendirian di luar negeri, dan tentu saja biaya yang tidak sedikit. Itu beberapa hal yang dikeluhkan.

"Ibarat eksplorasi Columbus, anak-anak muda yang pertama kali pergi ke luar negeri seorang diri akan berhadapan dengan banyak ketidakpastian, kegundahan, ketidakberdayaan, dan segala keterbatasan" kata Rhenald Kasali dalam prolog buku ini. Dirinya yakin dalam keterbatasan itu mereka mampu mencari 'pintu keluar' dari kesulitan yang mereka hadapi dan kelak mereka akan menjadi rajawali.

Banyak cerita seru, hangat, dan mengagumkan yang dibawa oleh mahasiswa sepulangnya dari belajar kesasar di luar negeri. Ada yang salah beli tiket kereta di Denmark karena dipikirnya harga tiket memang sedang murah, ternyata harga tiket itu berlaku untuk anjing. Ada yang bertemu teman perjalanan namun terasa seperti pacar di Nepal. Ada pula yang membantu pedagang manisan mangga berjualan di Kyoto, Jepang. Namun keesokannya pasar itu ditutup total saat dia kembali datang. Perjalanan yang mengubah persepsi dan menumbuhkan kebijaksanaan.

Buku berjudul 30 Paspor The Peacekeepers' Journey ini ditulis oleh J.S. Khairen, novelis muda Indonesia yang sangat produktif. Salah satu bukunya yang populer Dompet Ayah Sepatu Bunda akan diadaptasi menjadi film. Saat itu dirinya menjadi Asisten Pengajar dari Rhenald Kasali. Cerita-cerita dalam buku setebal 392 halaman terbitan Naura tahun 2017 ini dia tulis berdasarkan presentasi mahasiswa yang didengarnya di dalam kelas dan obrolan di luar kelas. Cara penulisannya sangat menarik karena narasi disusun berdasarkan sudut pandang mahasiswa sendiri.

Membaca buku ini membuatku berfantasi seakan ikut melanglang buana ke banyak negara yang belum pernah kukunjungi. "Ah, seandainya aku mahasiswa yang diajar oleh Prof. Rhenald Kasali itu" khayalku.


-Bekasi, 27 Februari 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar