Apa yang disampaikan oleh Farid Gaban dan kawan-kawan bukan berasal dari menara gading atau sekadar asumsi mereka, tapi hasil pengamatan langsung melalui tiga kali ekspedisi keliling Indonesia dengan sepeda motor bekas yang dimodali sebuah koperasi. Di beberapa tempat mereka tidur di rumah-rumah warga, kadang mendirikan tenda. Dengan metode ini, denyut nadi kehidupan rakyat serta daya juangnya bertahan hidup dapat diketahui dari dekat.
Tak hanya itu, untuk sebuah gagasan mereka menggunakan sumber acuan dari pemikiran seperti Muhammad Hatta, Mahatma Gandhi, Ernst Friedrich Schumacher, atau Vandana Shiva. Dilengkapi dengan penyajian data-data hasil penelitian dari lembaga kredibel. Latar belakang para penulis yang merupakan jurnalis membuat banyak persoalan yang disampailkan dalam tulisan, yang sesungguhnya kompleks, jadi mudah dibaca dan dicerna.
Indonesia dan mayoritas negara di dunia menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tolok ukur kemajuan. Mengandalkan pemodal besar untuk membangun industri tambang, perkebunan monokultur, serta usaha-usaha lain yang berorientasi pada produksi massal. Sebaliknya, meminggirkan kehidupan sosial rakyat dan usaha-usaha kecil. Modal besar itupun cenderung menghancurkan keragaman hayati, baik di daratan, hutan, maupun laut. Wabah Covid-19 pada akhirnya membongkar borok rapuhnya hasil pembangunan semacam itu.
Mengambil seperlunya dari alam dan memproduksi sesuai kebutuhan dengan menggerakan kekuatan dan kemandirian ekonomi rakyat. Setidaknya itu intisari dari gagasan tanding yang ditawarkan dalam buku setebal 488 halaman dengan 56 tulisan ini. Memang bukan hal baru, tapi dengan adanya pengalaman praktik disertai keberhasilan di banyak daerah yang ditemukan Farid Gaban dan kawan-kawan selama ekspedisi, memberi harapan dan optimisme bahwa ada cara hidup dan ukuran kemajuan yang menjadi acuan dari pembangunan lebih adil dan berkelanjutan.
Membaca setiap halaman buku ini berpotensi menyebabkan resah atau mungkin juga sinis. Keduanya lebih baik ketimbang tidak membaca. Dandhy Laksono dalam prolognya menegaskan "Tak perlu selalu setuju. Tapi, setidaknya ada percakapan publik dan bahan pengetahuan baru."
-Bekasi, 7 Februari 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar