Kamis, 18 September 2025

Rumah Kertas


Buku tipis yang terdiri dari 79 halaman terbitan Marjin Kiri, berjudul Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez yang kubawa dalam perjalanan kerja ke Jayapura, Papua. Buku yang bercerita tentang sosok Aku, sebagai tokoh utama, yang harus menggantikan posisi Blumma Lennon, Profesor pada jurusan sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge, yang meninggal tertabrak mobil saat berjalan sambil membaca buku 'Poems' karya Emily Dickinson. 

Aku menemukan paket yang berasal dari Uruguay (tanpa identitas pengirim) dan dialamatkan kepada mendiang Blumma di ruang kerjanya. Paket tersebut berisi buku 'La linea de sombra' terjemahan spanyol dari 'The Shadow Line' karya Joseph Condrad. Buku lawas yang ternoda serpihan semen.

Aku kemudian mencari tahu siapa pengirimnya dan berniat mengembalikan buku tersebut, itu dia lakukan sembari pulang kampung ke Buenos Aires, Argentina. Dalam pencariannya, Aku bertemu dengan para penggila buku untuk sampai menuju pada sosok Carlos Brauer, sang pengirim buku.

Membaca buku ini seperti membuka kontak pandora yang berisi daftar pustaka sastra karya-karya penulis tersohor. Buku ini juga menceritakan tingkah-tingkah 'aneh' penggila buku. (Jayapura, 4 Desember 2024)

Selasa, 09 September 2025

Efek Rumah Kaca, Realitas Sosial Dalam Lagu


Suatu ketika di sekitar tahun 2009, aku membaca berita seputar musik. Dalam berita itu, Arian, vokalis grup musik metal Seringai, menyebut nama sebuah grup musik yang lagunya menurut Arian menarik untuk didengarkan. Grup itu bernama Efek Rumah Kaca (ERK). Seingatku, itulah pertama kalinya aku tahu ada grup yang personilnya terdiri dari Cholil (vokal, gitar), Adrian (Bass), dan Akbar (Drum) itu. 

Sekitar tahun 2010 saat ERK tampil di sebuah acara musik di Semarang aku menyaksikannya, karena kebetulan aku tinggal di Semarang. Adrian, sang bassist yang mengalami gangguan mata, saat itu masih bisa tampil berdiri meski untuk berjalan menuju panggungnya harus didampingi. Itu konser ERK satu-satunya yang pernah kutonton. Selebihnya aku hanya mengikuti karya-karyanya melalui berita dan media sosial.

Hingga saat ini, grup musik yang kugemari ini telah merilis empat album studio: Efek Rumah Kaca (2007), Kamar Gelap (2008), Sinestesia (2015), dan Rimpang (2023), serta satu mini album Jalam Enam Tiga (2020) yang direkam di Amerika Serikat.

Kamis, 04 September 2025

Perunggu, for Revenge, dan Koil


Beberapa hari lalu dalam perjalanan dari bandara menuju rumah, sambil menyetir mobil bosan mendengar radio, lalu kubuka spotify dengan earbuds terpasang di telinga. Kuputar lagu-lagu dari Perunggu dan for Revenge, dua grup musik yang namanya sering terdengar di skena musik indie, tapi lagu-lagunya tidak pernah kudengarkan, kecuali lagu yang hit seperti "33x" dan "Serana".

Secara acak kuputar lagu-lagu Perunggu. Mulai dari 33x, Pikiran Yang Matang, Pastikan Riuh Akhiri Malammu, Tapi, dan Kalibata 2019. Ah, aku tidak suka dengan karakter suara vokalnya, susah menikmati musiknya dan terasa menjemukan, tapi sebetulnya gaya penulisan dan tema-tema liriknya menarik.

Lalu kuganti dengan lagu-lagu for Revenge. Mulai dari Serana, Jentaka, Jakarta Hari Ini, Sadrah, dan Penyangkalan. Musik dan suara vokalnya bisa kunikmati, meski lirik-liriknya kebanyakan seputar cinta-cintaan yang melankolis dan kurang variatif. 

Karena merasa kurang terhibur, kuputar lagu Koil yang nampaknya agak religius, tapi belum pernah kudengar. Dimulai dengan percakapan tiga orang batak "bertobatlah engkau umat beragama" begitu kata terakhirnya. Kemudian lagu dimulai. "Beragama yang kau anut menjanjikan surga"

Ada penggalan lirik yang membuatku ketawa "kabar yang kuterima, tak ada wifi di alam baka, tak ada sosial media, hanya bidadari tujuh dua, yang entah gunanya apa" langsung terbayang sosok Otong, sang vokalis, yang serius tapi lucu. Maju terus musik Indonesia. (30 Agustus 2025)

Siapa Dia, Sejarah Film di Indonesia


Aktor Nicholas Saputra diidolakan banyak perempuan, termasuk istriku, Afidah. Ini bukan catatan lelaki kalem nan tampan itu, tapi film terbarunya "Siapa Dia" garapan sutradara Garin Nugroho, yang semalam kutonton di bioskop di Summarecon Mall Bekasi. Film musikal yang menarasikan sejarah perkembangan seni pertunjukan atau perfilman di Indonesia. Sejak era kolonial belanda sampai pasca reformasi. 

Kisah tentang Layar (Nicholas Saputra) seorang sutradara, yang mengalami kebuntuan ide pasca kesuksesan film sebelumnya. Lalu dia berkunjung ke rumah tantenya, Kenes (Sita Nursanti) dan menemukan koper peninggalan keluarga yang berisi dokumen perjalanan hidup buyut, kakek, dan ayahnya. Dari situlah muncul inspirasi membuat film. 

Film terdiri dari 5 babak, terdiri dari: (1) Prolog yang mengawali cerita tentang isi koper; (2) kisah buyut; (3) kisah kakek; (4) kisah ayah; dan (5) Epilog. Dari film ini aku jadi tahu, ada kelompok teater keliling bernama Komedi Stamboel di era penjajahan kolonial belanda. Tidak sekadar menghibur, kelompok ini memiliki peran politik karena menjadi alat pengalih perhatian pemerintah belanda dari pergerakan buruh kereta dan sarekat islam yang saat itu sedang berkembang. Di dalam film digambarkan Nurlela (Monita Tahalia) aktris dari Komedi Stamboel, kekasih tak sampainya kakek buyut Layar, dihukum mati dengan cara ditembak. 

Di era kolonial belanda juga muncul film Loetoeng Kasaroeng, yang konon merupakan film pertama di Indonesia. Di masa penjajahan jepang, ada upaya pengajaran pembuatan film tapi untuk kepentingan propaganda rezim fasis jepang. Ah, rasanya lebih nikmat menonton langsung daripada menceritakan film bagus ini. (31 Agustus 2025)

Invictus, Rekonsiliasi Melalui Olahraga


Tiga tahun setelah referendum yang hasilnya menghentikan rezim apartheid, Afrika Selatan menjadi tuan rumah perhelatan Piala Dunia Rugby Tahun 1995. Suasana dendam terhadap supremasi kulit putih juga berdampak pada tim nasional rugby Afrika Selatan, Springboks, yang prestasinya sedang menurun dan mayoritas pemainnya berkulit putih.

Mayoritas rakyat kulit hitam membencinya dan ingin membubarkan tim tersebut, namun Nelson Mandela (Morgan Freeman), Presiden terpilih yang mengusung semangat rekonsiliasi justru memilih arus yang berseberangan. Ia justru mempertahankan Springboks. Bahkan urusan kenegaraan lain kerap dikesampingkan Mandela hanya untuk memberi perhatian kepada tim rugby itu. Bagi orang-orang terdekatnya, keputusan Mandela tak masuk akal.

Sekretarisnya, Brenda (Adjoa Andoh), berulang kali memberi peringatan "kau mempertaruhkan kedudukan politikmu, kau mempertaruhkan masa depanmu sebagai pemimpin kami" katanya. Mandela bergeming, teguh dengan pendiriannya.

Itu merupakan sepenggal cerita dari film "Invictus" garapan sutradara favoritku, Clint Eastwood. Film yang dirilis tahun 2009 itu juga menampilkan aktor Matt Damon dengan peran sebagai Pienaar, Kapten Springboks. Film yang sudah berkali-kali kutonton, terakhir Sabtu lalu (30/08/2025) saat di pesawat Garuda penerbangan Pangkalpinang-Jakarta.

Buatku film yang diadaptasi dari kisah nyata ini sangat emosional dan inspiratif. Berhasil menggambarkan betapa keras kepalanya sosok Mandela, serta kebesaran hatinya untuk memaafkan demi membangun pemerintahan yang demokratis tanpa membedakan ras. (1 September 2025)

Kamis, 07 Agustus 2025

Manusia dan Semesta


Bosan melihat media sosial, sembari menunggu pesawat penerbangan Boven Digoel ke Jayapura, aku menelusuri beberapa tulisan tentang Alam Semesta.

Alam semesta yang kasat mata hanya berupa warna kebiruan berbaur awan dan kabut pada siang hari, serta gulita dengan titik-titik cahaya bintang pada malam hari. Sesungguhnya ada ratusan juta galaksi (sekumpulan bintang) terhambur di angkasa dan Bimasakti menjadi salah satunya. Di galaksi Bimasakti sendiri ada satu bintang berupa bola yang berpijar sangat panas, Matahari. Sementara Bumi, satu dari sekian planet yang mengelilingi matahari pada galaksi Bimasakti. Dan kita, Manusia, spesies tengil penghuni Bumi.

Menurut teori Big Bang, bintang pada akhirnya akan menjadi dingin dan runtuh, dengan begitu semesta pun lambat laun berakhir. Tapi menurut teori Steady State, semesta akan terus-menerus mengalami pembentukan sepanjang masa atau abadi.

Aku yang tidak mempelajari kosmologi (ilmu tentang alam semesta) dengan polos berpikir "bukan tidak mungkin ada spesies dari planet lain -yang rupanya tak seperti manusia- menganggap kita sebagai makhluk asing aneh dan menjijikan yang cara komunikasinya tidak dimengerti". Ah, betapa kecilnya kita di semesta. (Boven Digoel, 7 Agustus 2025)

Jumat, 01 Agustus 2025

Sawadikap, Bangkok!


Pergi ke Bangkok kali ini merupakan pengalaman kedua buatku dan istriku, Afidah. Sebelumnya aku mengunjungi Ibukota negara Thailand itu pada awal tahun 2024 untuk keperluan kerja di bidang kepemiluan. Sementara Afidah pernah ke Bangkok pada tahun 2010 mewakili organisasi yang bergerak di isu perempuan. Bagi kedua anak kami, Madiba (11 tahun) dan Kayo (9 tahun), Bangkok adalah pengalaman pertama mereka.

"Ayah, kapan-kapan aku pengen ke Bangkok" kata Kayo memberi tahu keinginannya suatu waktu di bulan Mei 2025.

"Bangkok sama aja kayak Jakarta, Yo" jawabku.

"Lah! Tapi kan beda negara" kilahnya.

Berawal dari percakapan sederhana itu, aku mulai merencanakan wisata saat masa liburan sekolah anak-anak. Seperti lagu Sal Priadi “kan kukenalkan penampilan hujan di tempat lain, pemandangan bagus di tempat yang jauh” bertepatan dengan hari ulang tahun Kayo.