Kamis, 04 September 2025

Perunggu, for Revenge, dan Koil


Beberapa hari lalu dalam perjalanan dari bandara menuju rumah, sambil menyetir mobil bosan mendengar radio, lalu kubuka spotify dengan earbuds terpasang di telinga. Kuputar lagu-lagu dari Perunggu dan for Revenge, dua grup musik yang namanya sering terdengar di skena musik indie, tapi lagu-lagunya tidak pernah kudengarkan, kecuali lagu yang hit seperti "33x" dan "Serana".

Secara acak kuputar lagu-lagu Perunggu. Mulai dari 33x, Pikiran Yang Matang, Pastikan Riuh Akhiri Malammu, Tapi, dan Kalibata 2019. Ah, aku tidak suka dengan karakter suara vokalnya, susah menikmati musiknya dan terasa menjemukan, tapi sebetulnya gaya penulisan dan tema-tema liriknya menarik.

Lalu kuganti dengan lagu-lagu for Revenge. Mulai dari Serana, Jentaka, Jakarta Hari Ini, Sadrah, dan Penyangkalan. Musik dan suara vokalnya bisa kunikmati, meski lirik-liriknya kebanyakan seputar cinta-cintaan yang melankolis dan kurang variatif. 

Karena merasa kurang terhibur, kuputar lagu Koil yang nampaknya agak religius, tapi belum pernah kudengar. Dimulai dengan percakapan tiga orang batak "bertobatlah engkau umat beragama" begitu kata terakhirnya. Kemudian lagu dimulai. "Beragama yang kau anut menjanjikan surga"

Ada penggalan lirik yang membuatku ketawa "kabar yang kuterima, tak ada wifi di alam baka, tak ada sosial media, hanya bidadari tujuh dua, yang entah gunanya apa" langsung terbayang sosok Otong, sang vokalis, yang serius tapi lucu. Maju terus musik Indonesia. (30 Agustus 2025)

Siapa Dia, Sejarah Film di Indonesia


Aktor Nicholas Saputra diidolakan banyak perempuan, termasuk istriku, Afidah. Ini bukan catatan lelaki kalem nan tampan itu, tapi film terbarunya "Siapa Dia" garapan sutradara Garin Nugroho, yang semalam kutonton di bioskop di Summarecon Mall Bekasi. Film musikal yang menarasikan sejarah perkembangan seni pertunjukan atau perfilman di Indonesia. Sejak era kolonial belanda sampai pasca reformasi. 

Kisah tentang Layar (Nicholas Saputra) seorang sutradara, yang mengalami kebuntuan ide pasca kesuksesan film sebelumnya. Lalu dia berkunjung ke rumah tantenya, Kenes (Sita Nursanti) dan menemukan koper peninggalan keluarga yang berisi dokumen perjalanan hidup buyut, kakek, dan ayahnya. Dari situlah muncul inspirasi membuat film. 

Film terdiri dari 5 babak, terdiri dari: (1) Prolog yang mengawali cerita tentang isi koper; (2) kisah buyut; (3) kisah kakek; (4) kisah ayah; dan (5) Epilog. Dari film ini aku jadi tahu, ada kelompok teater keliling bernama Komedi Stamboel di era penjajahan kolonial belanda. Tidak sekadar menghibur, kelompok ini memiliki peran politik karena menjadi alat pengalih perhatian pemerintah belanda dari pergerakan buruh kereta dan sarekat islam yang saat itu sedang berkembang. Di dalam film digambarkan Nurlela (Monita Tahalia) aktris dari Komedi Stamboel, kekasih tak sampainya kakek buyut Layar, dihukum mati dengan cara ditembak. 

Di era kolonial belanda juga muncul film Loetoeng Kasaroeng, yang konon merupakan film pertama di Indonesia. Di masa penjajahan jepang, ada upaya pengajaran pembuatan film tapi untuk kepentingan propaganda rezim fasis jepang. Ah, rasanya lebih nikmat menonton langsung daripada menceritakan film bagus ini. (31 Agustus 2025)

Invictus, Rekonsiliasi Melalui Olahraga


Tiga tahun setelah referendum yang hasilnya menghentikan rezim apartheid, Afrika Selatan menjadi tuan rumah perhelatan Piala Dunia Rugby Tahun 1995. Suasana dendam terhadap supremasi kulit putih juga berdampak pada tim nasional rugby Afrika Selatan, Springboks, yang prestasinya sedang menurun dan mayoritas pemainnya berkulit putih.

Mayoritas rakyat kulit hitam membencinya dan ingin membubarkan tim tersebut, namun Nelson Mandela (Morgan Freeman), Presiden terpilih yang mengusung semangat rekonsiliasi justru memilih arus yang berseberangan. Ia justru mempertahankan Springboks. Bahkan urusan kenegaraan lain kerap dikesampingkan Mandela hanya untuk memberi perhatian kepada tim rugby itu. Bagi orang-orang terdekatnya, keputusan Mandela tak masuk akal.

Sekretarisnya, Brenda (Adjoa Andoh), berulang kali memberi peringatan "kau mempertaruhkan kedudukan politikmu, kau mempertaruhkan masa depanmu sebagai pemimpin kami" katanya. Mandela bergeming, teguh dengan pendiriannya.

Itu merupakan sepenggal cerita dari film "Invictus" garapan sutradara favoritku, Clint Eastwood. Film yang dirilis tahun 2009 itu juga menampilkan aktor Matt Damon dengan peran sebagai Pienaar, Kapten Springboks. Film yang sudah berkali-kali kutonton, terakhir Sabtu lalu (30/08/2025) saat di pesawat Garuda penerbangan Pangkalpinang-Jakarta.

Buatku film yang diadaptasi dari kisah nyata ini sangat emosional dan inspiratif. Berhasil menggambarkan betapa keras kepalanya sosok Mandela, serta kebesaran hatinya untuk memaafkan demi membangun pemerintahan yang demokratis tanpa membedakan ras. (1 September 2025)

Kamis, 07 Agustus 2025

Manusia dan Semesta


Bosan melihat media sosial, sembari menunggu pesawat penerbangan Boven Digoel ke Jayapura, aku menelusuri beberapa tulisan tentang Alam Semesta.

Alam semesta yang kasat mata hanya berupa warna kebiruan berbaur awan dan kabut pada siang hari, serta gulita dengan titik-titik cahaya bintang pada malam hari. Sesungguhnya ada ratusan juta galaksi (sekumpulan bintang) terhambur di angkasa dan Bimasakti menjadi salah satunya. Di galaksi Bimasakti sendiri ada satu bintang berupa bola yang berpijar sangat panas, Matahari. Sementara Bumi, satu dari sekian planet yang mengelilingi matahari pada galaksi Bimasakti. Dan kita, Manusia, spesies tengil penghuni Bumi.

Menurut teori Big Bang, bintang pada akhirnya akan menjadi dingin dan runtuh, dengan begitu semesta pun lambat laun berakhir. Tapi menurut teori Steady State, semesta akan terus-menerus mengalami pembentukan sepanjang masa atau abadi.

Aku yang tidak mempelajari kosmologi (ilmu tentang alam semesta) dengan polos berpikir "bukan tidak mungkin ada spesies dari planet lain -yang rupanya tak seperti manusia- menganggap kita sebagai makhluk asing aneh dan menjijikan yang cara komunikasinya tidak dimengerti". Ah, betapa kecilnya kita di semesta. (Boven Digoel, 7 Agustus 2025)

Jumat, 01 Agustus 2025

Sawadikap, Bangkok!


Pergi ke Bangkok kali ini merupakan pengalaman kedua buatku dan istriku, Afidah. Sebelumnya aku mengunjungi Ibukota negara Thailand itu pada awal tahun 2024 untuk keperluan kerja di bidang kepemiluan. Sementara Afidah pernah ke Bangkok pada tahun 2010 mewakili organisasi yang bergerak di isu perempuan. Bagi kedua anak kami, Madiba (11 tahun) dan Kayo (9 tahun), Bangkok adalah pengalaman pertama mereka.

"Ayah, kapan-kapan aku pengen ke Bangkok" kata Kayo memberi tahu keinginannya suatu waktu di bulan Mei 2025.

"Bangkok sama aja kayak Jakarta, Yo" jawabku.

"Lah! Tapi kan beda negara" kilahnya.

Berawal dari percakapan sederhana itu, aku mulai merencanakan wisata saat masa liburan sekolah anak-anak. Seperti lagu Sal Priadi “kan kukenalkan penampilan hujan di tempat lain, pemandangan bagus di tempat yang jauh” bertepatan dengan hari ulang tahun Kayo.

 

Rabu, 09 Juli 2025

Orang Orang Proyek


Malam takbir lalu telah sampai pada halaman terkahir novel ini. Yang menarik dari karya Ahmad Tohari adalah latar ceritanya. Beranjak dari kondisi pedesaan. Sama seperti buku lainnya, macam Ronggeng Dukuh Paruk atau Bekisar Merah

Buku “Orang-Orang Proyek” mengangkat isu budaya korupsi yang sudah laten dan parah, melalui kisah proyek pembangunan jembatan di sebuah desa di bawah pimpinan Kabul, seorang insinyur yang mantan aktivis. Dari hulu hingga hilir anggaran pembangunan dilambungkan lalu bocor. Standar mutu bangunan dipertaruhkan. Pak Tarya, pensiunan PNS yang gemar memancing di sekitar proyek menjadi sahabat Kabul. 

Pak Tarya tahu betul bagaimana korupsi dilakukan dan sulit bagi siapa saja menentangnya, termasuk Kabul. Wati, satu-satunya perempuan pekerja proyek, anak seorang anggota DPRD, jatuh cinta dengan Kabul, menghadirkan kisah asmara dalam cerita ini. (2 April 2025)

Dendam


Ketika Rini mengetahui Ibunya telah diperkosa saat menjadi tahanan politik. Sikap Rini tiba-tiba berubah, terutama kepada suaminya, Mardani, yang seorang Lurah. Mardani harus menghadapi sikap diam Rini kepadanya. Meski istri seorang lurah, Rini memutuskan menjadi buruh migran ke Hongkong meninggalkan suami dan anak tunggal mereka, Tinuk. Suatu hari, Tinuk kemudian menyaksikan bapaknya membawa perempuan lain ke rumah dan di kamar Ibunya. Tinuk muak dan tak lagi menghormati bapaknya.

Novel karya Kang Putu, panggilan akrab Gunawan Budi Susanto, meskipun fiksi namun melalui kisah Rini dan Tinuk, memotret beberapa peristiwa nyata. Seperti, perjuangan masyarakat Rembang dan Pati yang menolak pertambangan semen di Pegunungan Kendeng, kehidupan Soesilo Toer (adik kandung Pramoedya Ananta Toer) yang memulung sampah pada malam hari di Blora, serta kegiatan kelas menulis dan membaca di sebuah kedai di Semarang yang diampu oleh Kang Putu sebagai pemilik kedai.

Apa hubungannya kisah Tinuk dengan peristiwa-peristiwa itu? Jawabannya ada di dalam novel. Yang kusuka dari membaca karya-karya Kang Putu, selalu menghadirkan diksi-diksi yang jarang digunakan, jadi pembaca bisa memperkaya kosakatanya.