Suatu ketika di sekitar tahun 2009, aku membaca berita seputar musik. Dalam berita itu, Arian, vokalis grup musik metal Seringai, menyebut nama sebuah grup musik yang lagunya menurut Arian menarik untuk didengarkan. Grup itu bernama Efek Rumah Kaca (ERK). Seingatku, itulah pertama kalinya aku tahu ada grup yang personilnya terdiri dari Cholil (vokal, gitar), Adrian (Bass), dan Akbar (Drum) itu.
Sekitar tahun 2010 saat ERK tampil di sebuah acara musik di Semarang aku menyaksikannya, karena kebetulan aku tinggal di Semarang. Adrian, sang bassist yang mengalami gangguan mata, saat itu masih bisa tampil berdiri meski untuk berjalan menuju panggungnya harus didampingi. Itu konser ERK satu-satunya yang pernah kutonton. Selebihnya aku hanya mengikuti karya-karyanya melalui berita dan media sosial.
Hingga saat ini, grup musik yang kugemari ini telah merilis empat album studio: Efek Rumah Kaca (2007), Kamar Gelap (2008), Sinestesia (2015), dan Rimpang (2023), serta satu mini album Jalam Enam Tiga (2020) yang direkam di Amerika Serikat.


