Senin, 21 Januari 2013

Peristiwa 65: Kita Adalah Korban

Airlangga Pribadi Kusman, Pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, Kandidat Doktor Asia Research Center Murdoch University

SAAT menelusuri memori traumatik terbesar dalam kehidupan kolektivitas kitaberbangsa, yaitu peristiwa kekerasan massal yang berlangsung pasca 1965, narasi penafsiran kita terhadap peristiwa tersebut seringkali melupakan pertanyaan penting untuk melengkapi historiografi sejarah Indonesia dan  membantu kita menerangi jalan rekonsiliasi antar setiap elemen kebangsaan yang pada masa lalu menjadi aktor sejarah di dalamnya. Pertanyaan penting tersebut adalah apa tujuan politik utama dari kekerasan massal yang mengorbankan 300 ribu-2,5 juta jiwa manusia Indonesia itu?

Memang penelusuran historiografi kekerasan massal pasca 1965 menjadi sesuatu yang masih sumir. Hal ini juga dipengaruhi oleh proses konsolidasi kekuasaan rezim Orde Baru yang membutuhkan pemusatan narasi hegemonik yang menempatkan PKI sebagai pihak yang disalahkan, aktor utama yang merongrong baik kehidupan berbangsa, sendi-sendi dasar Pancasila dan melakukan kejahatan terhadap negara. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Orde Baru dan narasi hegemonik yang melekat dengannya, muncullah narasi-narasi alternatif dalam pembacaan terhadap peristiwa kekerasan massal pasca 1965.

Rabu, 16 Januari 2013

Liburan Di Tempat Lahir Kartini dan Kota Ukir [30-31 Desember 2012]

Oleh : Afidah

Tidak masuk dalam rencana Liburan

Penulis
Berlibur ke Jepara, sesuatu yang tidak terduga di akhir tahun 2012. Sebelumnya sekitar bulan Mei 2011 aku pernah berlibur kesana bersama rekan-rekan kerjaku saat itu dan karena Jepara letaknya tidak terlalu jauh dari kampung halamanku, maka saat masih kecil seingatku sudah beberapa kali aku mengunjungi Kota Jepara. 

Namun ini adalah kali pertama aku mengunjungi Jepara bersama suamiku untuk berwisata dengan menggunakan transport umum (bus), suamiku sudah pernah datang kesana namun untuk urusan kerja dan saat itu diantar mobil dan sopir kantor, begitupun aku selalu datang ke Jepara dengan kendaraan pribadi. Naik transport umum adalah ideku. Menurutku ide ini adalah hal yang sudah jarang kami lakukan dalam rutinitas sehari-hari, jadi akan memberi sensasi berbeda saat liburan. Selain itu naik bus berdesak-desakan juga berfungsi untuk mengolah rasa. Lebih banyak ketidaknyamanan di dalam bus akan membuat kami tetap dekat dengan realitas masyarakat.

Berkenalan Dengan Nelson Mandela

Oleh : Asep Mufti

Di penghujung akhir tahun 2012, Pameran Buku sedang berlangung di Gedung Wanita Jl.Sriwijaya Kota Semarang. Sebagai pecinta buku, event tersebut tidak mungkin kulewati begitu saja. Meluncurlah diriku ke lokasi pameran buku sepulang dari aktifitas kerja.

Setelah berkeliling dari stand satu ke stand yang lain, kaki-pun terasa pegal pertanda perburuan buku harus diakhiri. Beberapa buku kuboyong pulang untuk kujadikan tambahan koleksi perpustakaan pribadi yang oleh isteriku diberi nama Rumah Buku.

Salahsatu buku menarik yang kubeli dari pameran tersebut berjudul “Nelson Mandela, Langkah Menuju Kebebasan, Surat-Surat Dari Bawah Tanah” sebuah buku yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1993. Sampul buku ini berwarna kuning.

Nelson Mandela [Mandela] adalah Mantan Presiden Afrika Selatan yang sebelumnya terlibat dalam perjuangan rakyat Afrika Selatan meraih kemerdekaan dari penjajahan kolonial inggris berikut dengan sistem apartheid-nya. Hanya itu yang kuketahui tentang Mandela -- padahal namanya sudah begitu tersohor. Sedikit sekali pengetahuanku ya, hehe. Karena alasan keterbatasan pengetahuan itulah aku membeli buku tentang Mandela, sambil berharap pengetahuanku tentang Mandela nantinya akan bertambah. 

Buku tersebut terdiri dari 5 Bab dimana tiap bab terdiri dari Sub-bab-Sub-bab. Berisi makalah, pidato, maupun pembelaan dalam sidang pengadilan yang kesemuanya merupakan pikiran-pikiran Mandela selama masa 10 tahun, sejak tahun 1953 sampai dengan tahun 1963. 


Sabtu, 01 Desember 2012

Sekilas Tentang Buku “Semua Manusia Bersaudara” (Timbangan buku yang belum sempurna- Bag. I)

Oleh : Afidah

Membaca tulisan-tulisan Mahatma Gandhi yang dihimpun dalam buku berjudul All Men Are Brother atau Semua Manusia Bersaudara memberi kesan tersendiri bagi saya, salah satu kesan saya adalah pernyataan Gandhi bahwa dia merasa begitu sedih karna mendapat gelar “Mahatma” yang artinya manusia suci, gelar ini memberi beban yang dirasa berat olehnya dan dia tidak terlalu suka dipuja-puja seperti Dewa. Setelah sekian lama mendengar nama besarnya dan ajaran anti kekerasan atau yang dikenal dengan ahimsa yang terus dipegang dalam perjuangan Gandhi baru sekarang saya berkesempatan mempelajari pikiran-pikirannya, dalam kalimat-kalimat selanjutnya kupanggil saja dia Gandhi agar dia tidak merasa keberatan.


Buku ini terdiri 12 Bab dengan beragam tema dan persoalan, diantaranya : (I) Otobiografi (yakni biografi yang ditulisnya sendiri),(II) Agama dan Kebenaran, (III) Cara dan Tujuan (IV) Ahimsa atau paham pantang kekerasan (V) Pengendalian diri (VI) Perdamaian Dunia (VII) Manusia dan Mesin (VIII) Kemiskinan di tengah-tengah kelimpahan (IX) Demokrasi dan Rakyat (X) Pendidikan (XII) Kaum Wanita (XII) Serba-serbi –----berisi beragam pikiran yang tidak focus pada satu tema.

Sekilas ketika membaca buku ini Gandhi terkesan bukan sebagai sosok Intelektual yang tulisannya dipenuhi data-data (misalnya tahun dan tanggal sebuah peristiwa), analisis dan rujukan-rujukan para tokoh pemikir sebelumnya. Di dalam buku ini ada dua tokoh yang sering disebut Gandhi dan menjadi inspirasinya dalam berjuang dan juga ketika di memutuskan menulis perjalanan hidupnya, mereka berdua adalah Thoreu dan Tolstoy.

Kamis, 29 November 2012

Fleksibilitas Pasar Kerja dan Tanggung Jawab Negara [1]

Hari Nugroho & Indrasari Tjandraningsih[2]

Abstract: This article critically discusses the positive assumptions of the concept of labour market flexibility and the roles of state in labour market policy based on current empirical facts.  Labour market flexibility is a liberalist concept that is taken as one of policy strategies for promoting investment, increasing employment opportunities and poverty reduction. In reality, the practice of labour market flexibility poses a number of unfavourable impacts on workers such as degradation of working conditions, raising job insecurity, increasing welfare uncertainty and weakening union power. These negative impacts indicate some internal contradictions within the concept of labour market flexibility. At the same time the declining role of the state to provide protection and social welfare in the middle of forceful liberalisation stream has made the negative consequences worse. By assuming that the labour market flexibility is unavoidable forceful stream, the responsibility of the state in determining more secure labour market policy is crucial. This article proposes ideas on how state and labour should respond such situation.

Kata dan frase kunci: asumsi dan realitas fleksibilitas pasar kerja, dualisme pasar kerja, kontradiksi internal sistem fleksibilitas pasar kerja, ketidakpastian kerja, pelemahan serikat buruh, peran negara

PENDAHULUAN

Dewasa ini sistem pasar kerja di banyak negara mengalami perubahan sebagai akibat perubahan orientasi ekonomi global.  Pasar kerja kini didorong ke arah bentuk yang lebih fleksibel (flexible labour market) bersamaan dengan menguatnya liberalisasi perekonomian dunia.  Pasar kerja yang fleksibel – berikut sistem produksi yang fleksibel (flexible production) – diyakini oleh para pendukungnya dapat lebih merangsang pertumbuhan ekonomi serta memperluas pemerataan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat di tengah iklim kompetisi ekonomi global yang semakin ketat. 

Sejalan dengan perubahan tersebut, peran negara dalam mengatur bekerjanya pasar kerja serta bentuk tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan warganya pun mengalami perubahan.  Peran dan tanggung jawab negara tersebut cenderung menyurut. Hal ini terlihat dari menurunnya alokasi anggaran untuk tanggung jawab negara yang berkaitan dengan kesejahteraan warganya (lihat Lindert, 2004). Demikian pula regulasi negara yang mengatur bekerjanya pasar tersebut berkurang. Sebaliknya, bekerjanya pasar kerja dan penyelenggaran kesejahteraan tersebut lebih banyak diserahkan kepada mekanisme pasar itu sendiri. Dinamikanya diserahkan langsung kepada hubungan antara pemodal dengan para pekerja atau pencari kerja. Melalui praktek hubungan-hubungan kerja di tingkat perusahaan, fleksibilitas pasar kerja diasumsikan dapat menghasilkan efek-efek positif bagi pertumbuhan ekonomi maupun keadilan sosial. Oleh sebab itu fleksibilitas kini menjadi modus utama operasi modal di banyak sektor.

Paradoks Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja

oleh : Martin Manurung

Rasyidi Bakri telah menulis perihal Revisi Undang-Undang (UU) No. 23 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam globalisasi. Tulisan ini akan menyoroti khusus perihal paradoks argumen ‘fleksibilitas pasar tenaga kerja’.

Rekomendasi terbaru dari International Monetary Fund tertanggal 22 Februari 2006 dapat dikatakan sebagai desakan dari lembaga internasional itu agar pemerintah segera melaksanakan revisi UU dimaksud. Rekomendasi tersebut mengatakan;
“Kemajuan [kebijakan ekonomi] melambat dari yang diharapkan pada area-area lain, termasuk memecahkan perselisihan investor dan fleksibilitas pasar kerja… [Dewan Direktur IMF] menegaskan keterdesakan yang penting untuk reformasi struktural dalam rangka mendorong kepercayaan investor… Dalam hal ini, [Dewan Direktur IMF] menyambut ketegasan pemerintah untuk reformasi perpajakan dan pasar tenaga kerja…” (Diterjemahkan secara bebas, huruf miring dari penulis.)

Kerangka Teori

Secara teoretis argumen ‘fleksibilitas pasar tenaga kerja’ dan ‘pasar bebas’ dapat ditilik sejarahnya pada tesis keunggulan komparatif yang diajukan oleh David Ricardo, ekonom liberal neoklasik di Inggris hampir dua abad yang lalu.

Senin, 26 November 2012

Enam Mitos Keuntungan Investasi Asing

Coen Husain Pontoh, mahasiswa ilmu politik di City University of New York (CUNY)

BEBERAPA waktu lalu, Fitch Rating, sebuah lembaga pemeringkat yang berbasis di Hongkong, mengeluarkan daftar peringkat utang luar negeri  jangka panjang Indonesia. Dalam laporannya, Fitch mengatakan bahwa terjadi peningkatan positif utang luar negeri jangka panjang Indonesia, dari BB+ (plus) menjadi BBB- (minus).

Kenaikan peringkat ini, dalam waktu singkat segera direspon oleh menteri koordinator perekonomian Hatta Rajasa, yang sesumbar mengatakan bahwa akan ada banjir investasi asing di Indonesia. ‘Tahun 2012, Indonesia akan semakin mantap dengan kenaikan rating (peringkat utang) ini. Apalagi Indonesia memang sudah memiliki MP3EI (Rencana Induk Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia),’ ujarnya. ‘Apalagi, proyek-proyek yang ada di MP3EI adalah proyek-proyek yang nyata. Mereka sudah melihat bahwa Indonesia terus memangkas hambatan-hambatan untuk berinvestasi. Apalagi nanti akan diperkuat lagi oleh penurunan suku bunga perbankan,’ tambahnya (Kompas, 15/12/2011).