Rabu, 26 Juni 2013

Peluru untuk Perawat Alam

Oleh : Afidah

Di Negeri ini, mencintai alam cukup dengan upacara simbolis menanam mangrove oleh Pemimpinnya

Para petani yang mempertahankan alam untuk menanam tumbuhan.
Tumbuhan yang akan menghidupi dirinya dan banyak orang
dianggap tak perlu ada
Sebab jika tanahnya yang mengandung pasir besi diambil
diubah jadi tambang lalu mereka lantang menentang
Maka peluru dan penjara penguasa
Siap beraksi!!!!!!

Media pun sayup-sayup hanya sesekali berkabar
Tentang mereka

--Solidaritas untuk Petani Cianjur yang tertembak karna menolak tambang pasir besi--

Jumat, 14 Juni 2013

Curhat

Adakalanya aku lebih banyak terasing di satu tempat,
namun terbebas di tempat yang lain
Pengorbananku tak setebal mereka
yang menikmati kebebasannya dalam pertarungan,
meski di satu titik iman kami sama

Siapa Kami? Apa yang Kami imani?
Siapapun yang bermimpi bersatunya manusia-manusia kalah
hingga di tengah-tengah perpecahan para penguasa,
terjadilah keadaan itu,
dimana bukan (lagi) manusia yang ditindas, namun keserakahan

Ya, di sinilah diriku..
melakukan sesuatu yang diterima akal sehatku
dan dengan apapun yang kumampu

- Semarang, 14 Juni 2013 -

Rabu, 22 Mei 2013

Panen

Panen lalu, uang hasil penjualan belum juga lunas dibayar tengkulak kecil
Kata tengkulak kecil dia tidak dibayar lunas oleh tengkulak besar
Kata tengkulak besar harga turun drastis
Jadi bayaran ke tengkulak kecil dikurangi berpersen-persen
Petani tak tahu apa saja yang terjadi dengan tengkulak
Petani hanya tahu apa yang ditanamnya menuai jalan berliku untuk menjadi uang

Petani membutuhkan uang
Karena tidak bisa bertukar barang lagi untuk memenuhi segala kebutuhan
Makan, kesehatan, pendidikan anak, tetek bengek

Kali ini musim tanam
Serombongan tikus selalu menyerbu tiap malam
Ratusan ribu untuk obat tikus
Setelah jutaan rupiah untuk pupuk
Dan obat serangga

Petani harap-harap cemas
Apakah tanaman padinya akan tersisa untuknya
Petani menghitung waktu
Menuju musim panen

Saat panen tiba
Tikus-tikus jenis lain kembali menyerbu
Petani-pun kembali menanam lagi
Pada tanah yang tidak pernah menjadi
Kedaulatannya
Untuk kehidupan

--Afidah--

Rabu, 01 Mei 2013

Mereka yang dikuasai..

Mereka yang menciptakan kekayaan,
Mereka pula yang merasakan kemiskinan
Mereka yang menciptakan gedung-gedung mewah,
Mereka pula yang tinggal di gubuk dan rumah kontrakan

"Alam diciptakan untuk kami. Mesin, Kain, Benang, Besi, Tanah semua milik Kami, kalian yang mengerjakannya, Ingat! hanya mengerjakannya, atas perintah kami!" kata Para Penguasa, "Syukurilah apa yang kalian terima!"

"Tidak!" bantah Mereka yang dikuasai, "Tuhan menciptakan alam semesta untuk semua, dan itu takkan cukup untuk memenuhi keserakahan satu saja diantara kalian. Kelak Kami akan membaginya, Kami akan mengerjakan apa yang kami mampu dan mau, serta memperoleh yang kami butuh"

-- Mayday, 1 Mei 2013 --

Senin, 29 April 2013

Rumah Buku 'Di Balik Frekuensi' [Sesi I]


Minggu, 28 april 2013. Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang. Sekitar 50 orang buruh sedang berkumpul membahas persiapan aksi Mayday ketika Aku dan Afidah tiba di Kantor Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Aneka Industri Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPAI SPMI) Kota Semarang di Jalan Sidomulyo Raya No.19 Tlogosari Semarang. Sebagian besar orang berada di dalam, namun nampak juga yang mendengarkan pembahasan rapat dari luar. Di Kantor Serikat Pekerja inilah film ‘Di Balik Frekuensi’ karya Ucu Agustin akan kami putar.

‘Di Balik Frekuensi’ merupakan sebuah film dokumenter yang menggambarkan bagaimana media massa -khususnya televisi- befungsi sebagai alat atau corong bagi kepentingan pemiliknya. Itu digambarkan melalui 2 cerita : Pertama, tentang Luviana seorang wartawan Metro TV yang di PHK oleh perusahaan (Media Group) lantaran hendak memperjuangkan hak-haknya sebagai buruh. Kedua, tentang Hari Suwandi dan Harto, dua warga korban lumpur lapindo yang melakukan aksi protes dengan berjalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta.

Kamis, 25 April 2013

Hari Kartini di Rumah Buku

Di bulan Oktober
Daun-daun tembakau dipanen
Dipilah diiris
Ditata diharap
Sambil mengenang kepergian para isteri
dan anak perempuan yang belum pulang

Ini Oktoberke-2
Ini Oktober ke-5
Ini Oktober ke-10
Para perempuan bermigrasi
ke Jepang
ke Arab
ke Taiwan
ke Korea
ke Singapur
ke Malaysia

Berharap dapat uang
untuk sepetak tanah
tanam tembakau

Itu pun jika harga pupuk tak terus memuncak
Kalau keuntungan tak terus mengucur ke gudang-gudang pabrik rokok
dan saku-saku para tengkulak

Kamis, 18 April 2013

Dua tahun yang lalu..*

2 Tahun yang lalu..
Kita memulainya dengan penolakan sebuah tradisi menginjak sebutir telur tanpa alas kaki oleh lelaki, yang jika dilakukan, si perempuan diharuskan membasuh kaki si lelaki dari bercak pecahan telur.

2 Tahun yang lalu..
Kita memulainya dengan penolakan tradisi mencium tangan lelaki oleh perempuan.

2 Tahun yang lalu..
Upacara yang disakralkan Kita jalani dengan canda yang seakan  menjadi sebuah sindiran dan itu begitu menyenangkan.

Malam ini, untuk mengenang peristiwa 2 tahun yang lalu itu,
Kukirim pelukan hangat untukmu dari Kota Hujan.

-- Bogor, 16 April 2013 --

* Tulisan untuk Isteriku dalam rangka mengenang hari pernikahan Kami pada 17 April 2011