Selasa, 14 Juli 2026

E n t r o k


Entrok, bahasa Jawa untuk menyebut kutang atau bra. Menjadi judul novel pertama karya Okky Madasari yang mengambil latar cerita di Magetan, tanah kelahirannya. Menceritakan kehidupan pedesaan di bawah rezim totaliter pada masa Orde Baru. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama cetakan pertama Tahun 2010 ini terdiri dari 288 halaman. Kupinjam dari perpustakaan digital, iPusnas, dalam bentuk buku elektronik. 

Sumarni, perempuan desa yang terlahir dari keluarga miskin dan buta huruf. Tak pernah kenal Bapaknya lantaran minggat meninggalkan Ibunya saat Marni masih kecil. Marni dan Ibunya tinggal di rumah yang sudah reyot. Kelangsungan hidup mereka bergantung dari pekerjaan Ibunya mengupas kulit singkong di pasar. 

Didorong keinginan memiliki entrok, barang yang tak mampu dibelikan Ibunya dan jarang dipakai oleh perempuan di desanya, Marni rela menjadi kuli panggul di pasar, pekerjaan yang umumnya dilakukan laki-laki. Marni tak peduli dengan anggapan orang lain. Baginya yang penting bisa mendapatkan upah dan dikumpulkan untuk beli entrok.

Setelah uang terkumpul, alih-alih membeli entrok, Marni justru menjadikan uangnya sebagai modal berjualan sayur yang dijajakan dari rumah ke rumah. Lalu ia menikah dengan Suteja, pemuda kuli panggul di pasar. Pernikahan yang sesungguhnya tak diinginkannya. Lambat laun usahanya berhasil. Semula berniat membantu orang dengan meminjamkan uang, Marni lantas menjadikannya sumber pendapatan dengan menjadi rentenir. Lalu lahir anak perempuannya bernama Rahayu. Marni dan keluarga hidup berkecukupan, memiliki berhektar-hektar lahan tebu.

Kesuksesan tidak lantas membuat hidup Marni tentram. Ia dituduh melakukan pesugihan dan menjerat orang dengan bunga utang. Marni diperas oleh perangkat desa dan tentara tanpa berkesudahan. Suaminya selingkuh tapi enggan cerai. Dan yang paling menyakitkan, Ia ditinggalkan dan dilupakan anaknya, Rahayu.

Dengan alur cerita mundur-maju, novel ini menggambarkan ketekunan sekaligus kegetiran sosok perempuan desa yang miskin dan buta huruf berjuang mengubah nasib meski harus menabrak sekat-sekat budaya dan kekuasaan. Okky melalui penuturannya mampu menciptakan suasana batin di mana pembaca bisa ikut merasakan kepedihan nasib perempuan seperti dialami tokoh Sumarni, Rahayu, atau Sundari.

Beberapa peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru menyelimuti jalannya cerita. Seperti besarnya keterlibatan tentara dalam masyarakat, mulai dari memenangkan Pemilu, pembantaian dalam tragedi Tanjung Priok, hingga mengontrol kehidupan sosial di masyarakat. Ada juga peristiwa diskriminasi terhadap komunitas Tionghoa karena dibatasi ekspresi ibadahnya, pemboman Candi Borobudur, penembakan misterius (petrus), atau penggusuran warga terkait pembangunan Waduk Kedung Ombo.

Membaca novel ini di tahun 2026 sangat relevan dengan kondisi Indonesia kekinian, terutama terkait militerisme di bawah kekuasaan Presiden Prabowo Subianto yang kembali dibangkitkan. Mulai dari pemberian jabatan sipil pada tentara aktif atau mantan tentara, keterlibatan tentara pada program-program pemerintah, teror kepada aktivis, pembubaran kegiatan warga nonton film Pesta Babi, dan yang paling mutakhir adalah menghalang-halangi penegakan hukum dalam kasus korupsi yang melibatkan petinggi Kejaksaan.


-Bekasi, 13 Juli 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar