Dibuka dengan empat cerpen karya Eka Kurniawan: Penjaga Malam, Taman Patah Hati, Riwayat Kesendirian, dan Jimat Sero. Kisah tentang Ajo Kawir dalam cerpen Taman Patah Hati adalah yang paling kusuka. Anggota legislatif yang begitu percaya takhayul. Dukun yang ia datangi saat hendak mencalonkan diri memberi syarat, kelak setelah ia berhasil akan ada seorang perempuan datang menjadi pasangannya dan tak bisa ia putuskan hubungannya. Ajo Kawir berhasil dan menikah dengan Mia-Mia. Beberapa tahun setelah menikah, Ajo Kawir mengajak Mia-Mia pergi ke Jepang mengunjungi Taman Inokhasira, taman yang dikenal dengan mitos penghancur sebuah hubungan. Ajo Kawir hendak menceraikan Mia-Mia.
Berikutnya empat cerpen Intan Paramaditha: Goyang Penasaran, Apel dan Pisau, Pintu, serta Si Manis dan Lelaki Ketujuh. Kisah dendam Salimah pada Haji Ahmad dalam cerpen Goyang Penasaran yang paling berkesan. Tentang kemunafikan kaum beragama. Salimah menafkahi dirinya dengan menjadi penyanyi dangdut yang digemari masyarakat. Namun itu terhenti dan Salimah terusir dari kampungnya akibat provokasi Haji Ahmad yang menuduh Salimah sumber zina mata. Salimah kemudian memanfaatkan Solihin, pemuda desa yang sangat memujanya, memberikannya goyangan agar Solihin membalaskan dendam pada Haji Ahmad, dengan cara yang sadis.
Empat cerpen Ugoran Prasad menutup buku ini: Penjaga Bioskop, Hantu Nancy, Topeng Darah, dan Hidung Iblis. Pekerja salon bernama Nancy dibunuh dengan sadis oleh orang-orang suruhan Sudirja, seorang lurah yang telah menjadikan Nancy selingkuhannya. Di kursi yang berhadapan dengan cermin di tempat pelanggan salon biasanya duduk, leher Nancy dijerat tali, rambutnya dipangkas habis dan disumpalkan ke dalam mulutnya. Kematian yang mengenaskan. Nancy gentayangan memburu para pembunuhnya untuk melampiaskan dendam. Itu kisah Hantu Nancy, cerpen dari Ugoran yang paling mendebarkan.
Laku manusia yang biadab, sadis, dan psikopat lebih banyak dimunculkan dalam dua belas cerpen, alih-alih menceritakan setan sebagai makhluk tak kasat mata atau peristiwa-peristiwa mistis. Setiap perbuatan memiliki motif dan latar belakang, tidak semata-mata jahat, sebagaimana stigma terhadap setan. Membuatku sulit membedakan mana tokoh protagonis dan antagonisnya. Hal ini yang membuat cerita menjadi menarik.
Pada beberapa cerpen seperti Penjaga Malam, Jimat Sero, Apel dan Pisau, atau Topeng Darah membuatku terbengong-bengong. Pertanyaan-pertanyaan seperti "maksudnya gimana sih ini?" atau "Lah, kok gitu?" muncul di kepala usai membaca. Membuat rasa penasaran dan membalikkan lembar-lembar halaman untuk mencari jawabannya. Ada yang terjawab ada pula yang membentur tembok keabsurdan.
Buku Kumpulan Budak Setan terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) cetakan pertama Oktober 2010 ini terdiri dari 174 halaman. Kupinjam dan kubaca dari layanan aplikasi iPusnas, perpustakaan digital buatan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Buku yang menarik untuk dibaca, meski kengeriannya kalah jauh dibandingkan bayangan kelam masa depan Indonesia di bawah rezim inkompeten, Prabowo-Gibran.
Eka Kurniawan dan Intan Paramaditha, dua penulis yang karya lainnya pernah kubaca. Tapi ini kali pertama aku membaca karya Ugoran Prasad. Ketiganya memiliki gaya penulisan menarik, kadang alur cerita yang digunakan pun ajaib. Proyek penulisan cerita horor ini ternyata dilanjutkan dengan buku Sembilan Budak Setan yang baru saja diterbitkan GPU di tahun 2026 ini, meskipun dalam buku itu Eka, Intan, dan Ugoran bertindak sebagai penyunting. Buku yang menampilkan cerpen-cerpen hasil sayembara cerita horor pada tahun 2016.
-Bekasi, 18 Oktober 2026-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar