Jumat, 28 November 2025

Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata


Buku setebal 592 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia karya Remy Sylado ini sebuah novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama Gertruida van Veen bersama kekasihnya yang seorang pelukis, Rob Verschoor, pergi merantau dari Amsterdam menuju Hindia-Belanda setelah ditawari sebuah pekerjaan melukis untuk seorang bangsawan di Jogja dan sebuah proyek pameran lukisan di Bandung. 

Tanpa mereka sadari tawaran pekerjaan itu upaya manipulatif untuk menjerumuskan Gertruida, yang memang berparas cantik, dalam bisnis prostitusi di Bandung yang dikelola oleh seorang Belanda. Niscaya Gertruida dan Rob harus melalui jalan berliku menghadapi setiap persoalan yang akan mereka alami di Hindia-Belanda.

Belajar sejarah dan memperkaya kosakata. Itu kesanku setelah membaca empat buku karya Remy Sylado (Novel Pengeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata). 

Remy Sylado selalu menyisipkan fakta-fakta sejarah dalam karya fiksinya. Misalnya dalam buku Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata ini yang latar waktu ceritanya di sekitar tahun 1920-1930, selain mengenalkan sejarah gedung dan nama-nama jalan pada masa itu, khususnya di Bandung, Remy Sylado juga memotret tumbuhnya pergerakan kemerdekaan Indonesia, semacam Indische Partij atau Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).

Senin, 17 November 2025

Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa


Setelah membaca dua karyanya Novel Pangeran Diponegoro dan Kerudung Merah Kirmizi, aku langsung menggemari gaya penulisan Remy Sylado yang menurutku lugas, sarat informasi, dan mengenalkanku pada kosakata yang tak lazim. Aku melanjutkan membaca karya lainnya Perempuan Bernama Arjuna. Kisah mahasiswi filsafat yang kuliah di Amsterdam, Belanda. 

Sayangnya aku hanya sanggup membaca sampai setengah buku, lantaran sedang malas dengan topik berat yang diangkat dalam novel itu, yaitu filsafat. Sebenarnya buku menarik, hanya kubaca pada waktu yang tidak tepat. Buku itu serupa Dunia Shopie karya Jostein Gaarder.

Aku kembalikan buku Perempuan Bernama Arjuna ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Perpustakaan Jakarta dan menggantinya dengan Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa, buku yang pada tahun 2002 pernah diadaptasi menjadi film oleh sutradara Nia Dinata.

Bercerita tentang kisah Siti Nurhayati atau Tinung, perempuan Betawi yang buta huruf. Setelah ditinggal mati oleh lelaki yang telah menjadikannya istri kelima, keadaan memaksa Tinung terjerumus dalam dunia prostitusi di Kali Jodo, Batavia. Tinung diajarkan menari dan menyanyi sebagai bekal menjadi perempuan penghibur.

Minggu, 09 November 2025

Pangku, Cinta dan Ketabahan dalam Kemiskinan

 

Kemiskinan begitu lekat dengan masyarakat pesisir atau pinggiran, namun mereka tabah menghadapi persoalan yang silih berganti. Terutama kekuatan seorang Ibu. Kondisi itu digambarkan persis oleh Reza Rahadian dalam debutnya sebagai sutradara di film "Pangku" yang kutonton sore tadi bersama istriku, Afidah, di bioskop dekat rumah, Kota Cinema Mall (KCM) Wisma Asri Bekasi. 

Pangku merujuk pada istilah "Kopi Pangku" praktik prostitusi yang tumbuh dan kembang sejak zaman kolonialisme Belanda di sepanjang Jalan Raya Pos atau Daendles atau Pantura. Ahmad Effendi mengulas itu dengan apik melalui tulisannya "Kopi Pangku, Jejak Kolonial yang Menyala Remang di Pantura" di laman Mojok.

Sartika (Claresta Taufan), yang tak diketahui asal-usulnya, nekat pergi dari rumah seorang diri dalam keadaan hamil 8 untuk mencari pekerjaan. Truk tumpangan menurunkannya di pinggiran Jalan Pantura. Lalu dia singgah di warung kopi yang sepi milik perempuan tua, Maya (Christine Hakim). Lantaran iba hati, Maya mengajak Sartika hidup bersama dan menganggapnya sebagai anak. Sartika bekerja serabutan. Anak yang dikandungnya lahir dan diberi nama Bayu (Shakeel Aisy). Terdesak oleh kebutuhan ekonomi, Sartika pada akhirnya terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi Maya dan jatuh di setiap pangkuan pelanggan lelaki. Warung menjadi ramai. Hingga suatu hari datang Hadi (Fedi Nuril), sopir mobil muatan ikan, pelanggan yang memberi cinta dan harapan kepada Sartika dan Bayu. 

Film itu terbilang minim dialog, tapi peran Claresta Taufan, Fedi Nuril, Shakeel Aisy, dan Christine Hakim menjadikannya begitu nyata dan hidup, membuatku larut dalam suasana haru dan menahan tangis (Bekasi, 8 November 2025).

Minggu, 02 November 2025

Nonton Efek Rumah Kaca di Bekasi


Konser musik Specteve 2025 di Revo Mall Bekasi, Sabtu, 1 November 2025, menjadi penawar hasratku menonton penampilan langsung grup musik kesukaanku, Efek Rumah Kaca (ERK). 

Dalam durasi sekitar satu jam dari Panggung Specters, ERK mendendangkan sembilan lagu memicuku bernyanyi lantang bersama, meski tak diikuti lompatan lantaran aku masih dalam masa pemulihan pasca operasi. Dibuka dengan Seperti Rahim Ibu, lagu yang liriknya ditulis oleh jurnalis perempuan, Najwa Shihab.

Begitu lagu usai, tanpa basa-basi  Cholil (vokal, gitar), Poppy (bass), Akbar (drum), dan personil tambahan lainnya melanjutkan dengan Mosi Tidak Percaya. Kemudian Di Udara, lagu yang didedikasikan untuk mendiang Munir, membuat penonton yang mayoritas generasi Z mengepalkan tangan ke atas dan bernyanyi bersama. Lalu dilanjutkan Sebelah Mata, Balerina, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Cinta Melulu, Putih, dan ditutup manis dengan lagu Desember. Tak ada lagu dari album Rimpang dinyanyikan pada konser ini.

Konser ini mengingatkanku pada kenangan lima belas tahun lalu, kala ERK masih memiliki dua album, saat itu aku bersama kawanku, Ruly, menonton konser mereka di Semarang tahun 2010. Konser saat ini aku ditemani istriku, Afidah. Menikmati waktu kebersamaan kami tanpa anak-anak.

Sabtu, 25 Oktober 2025

Kerudung Merah Kirmizi


Terkesan akan gaya penulisan Novel Pangeran Diponegoro, aku tertarik membaca karya lain Remy Sylado, nama pena dari Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. 

Saat melakukan peminjaman buku di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Perpustakaan Jakarta, ada tiga pilihan judul buku: Cau Bau Kan, Paris Van Java, dan Kerudung Merah Kirmizi. Aku pilih judul terakhir karena memiliki cerita dengan alur waktu di sekitar era reformasi. Buku dengan tebal 674 halaman terbitan Keputakaan Populer Gramedia.

Bercerita tentang ambisi Sampurno atau Oom Sam, pengusaha pun pensiunan ABRI, yang menginginkan tanah seluas 32 ha di wilayah Gelgel, Bali. Sebab di tanah itu tertanam harta rampasan serdadu Jepang. Tanah itu milik guru besar ekonomi yang terkenal, Luc Sondak dan anaknya, Laksmi.

Melalui Dela Hastuti, orang kepercayaan sekaligus keponakan dan pemuas hasrat seksualnya, Oom Sam mendekati Luc dan Laksmi. Dalam proses negosiasi itu Luc Sondak bertemu dan menjalin kasih dengan Myrna Andriono, penyanyi klub di sebuah hotel di Jakarta.

Laksmi menolak menjual tanahya. Jelas itu membuat marah Oom Sam, orang yang bertabiat menghalalkan segala cara, termasuk menggunakan pesuruh dari kepolisian dan militer untuk melakukan kekerasan.

Operasi Ambeien dalam Hidupku


"Bisa dimasukin lagi gak?" tanya dokter perempuan di Klinik Amelia (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama), saat aku memeriksakan wasir atau ambeienku yang sedang kambuh, Senin, 20 Oktober 2025.

"Belum saya coba, Dok, tapi kayaknya udah gak bisa deh" jawabku.

"Saya kasih rujukan aja ke rumah sakit ya" saran dokter.

Lalu aku minta diberi rujukan ke Rumah Sakit Tiara Bekasi untuk hari yang sama. RS Tiara menjadi pilihan karena lokasinya yang dekat dengan rumah.

Wasir atau ambeien yang istilah medisnya hemoroid, adalah pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus. Aku sudah beberapa kali mengalami, tapi kali ini yang paling parah. Pembengkakannya sudah sampai keluar anus. 

Selasa, 21 Oktober 2025

Alkemis dan Diponegoro


Selasa lalu, 30 September 2025, berkunjung ke Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki. Mengembalikan dan meminjam dua buku baru. Alkemis karya Paulo Coelho dan Novel Pangeran Diponegoro Menggagas Ratu Adil karya Remy Sylado. 

Alkemis bercerita tentang seorang anak penggembala domba di Andalusia atau Spanyol bernama Santiago. Dia bersama domba-dombanya melakukan perjalanan untuk mencari harta karun yang berdasarkan mimpinya ada di Mesir. Paulo Coelho menuturkan kisah Santiago seperti dongeng yang penuh kebijaksanaan yang disampaikan melalui tokoh-tokoh di dalamnya.

Novel Pengeran Diponegoro ditulis mendiang Remy Sylado, orang yang serba bisa. Meskipun sudah lama kutahu sosoknya, juga buku populernya yang sudah diangkat dalam film dengan judul sama Cau Bau Kan, tapi baru kali ini aku membaca karyanya. Lantaran karena aku malas membaca buku. 

Bangsawan keraton Jogja yang melawan Belanda dalam Perang Jawa. Cuma itu yang aku tahu tentang Pangeran Diponegoro sebelum membaca karya Remy Sylado. Melalui tokoh dalam novel, Ratnaningsih, seorang jurnalis yang sedang membuat liputan, Remy Sylado menuturkan fakta-fakta tentang Ontowiryo yang selama ini kukenal sebagai Pangeran Dipenogoro. Buku ini menarik dan menambah wawasan. (Bekasi, 5 Oktober 2025)