Senin, 20 Juli 2026

M a n j a l i


Novel yang memadukan arkeologi, supranatural, filsafat, sejarah, dan kisah percintaan menjadi satu jalinan cerita. Ayu Utami menuturkannya dengan elok dan puitis. Buku pertama dari serial petualangan yang tokoh-tokohnya berasal dari karya Ayu sebelumnya, Bilangan Fu

Marja Manjali, gadis kota usia sembilan belas tahun, sedang berlibur bersama kekasihnya, Sandi Yuda, ke Jogja menemui sahabat mereka, Parang Jati. Karena keperluan mendadak yang dirahasiakan, Yuda harus kembali ke Bandung dan menitipkan Marja kepada Jati.

Bersama arkelog dari Prancis, Jaques, Jati mengajak Marja ikut serta melihat temuan artefak Candi Calwanarang di Desa Girah, di wilayah Jawa Timur. Sebuah candi yang terkait dengan kisah Calon Arang, janda sakti penyebar teluh yang hidup sezaman dengan Raja Airlangga pada Kerajaan Kahuripan.

Perjalanan itu menjadi pengalaman spiritual bagi Marja yang tidak tahu banyak hal. Menguak peristiwa masa lalu penuh kekerasan. Juga menumbuhkan benih-benih asmara antara Marja dan Jati. Sebuah pengkhianatan terhadap Yuda.

Setelah belasan tahun lalu membaca novel Bilangan Fu, buku yang saat itu kuanggap tebal dengan cerita yang berat, dibanding dua karya Ayu sebelumnya, Saman dan Larung, akhirnya tahun 2026 ini dipertemukan lagi dengan karya Ayu Utami. Manjali, buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, cetakan ketiga tahun 2023, teridiri dari 254 halaman. Buku yang kupinjam dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta.

"Menarik bukan soal keindahan. Menarik adalah bergantung dari seberapa banyak hal bisa diterangkan dari sesuatu" ucap Parang Jati dalam cerita. Seperti novel ini yang menurutku sangat menarik untuk dibaca. Meski fiksi tapi memberikan banyak informasi. Seperti perbedaan antara candi-candi yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Juga menunjukkan versi lain sejarah peristiwa G30S yang narasinya selama ini dihegemoni oleh militer.


-Bekasi, 20 Juli 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar