Senin, 26 Oktober 2026

Sembilan Budak Setan


"Kamu tahu kenapa aku ingin mayat-mayat itu dipotong penisnya dan diambil kedua bola matanya? Sebab bola mata laki-laki yang menggerakkan penis untuk berbuat dosa."  Sebuah kutipan dari cerita pendek (cerpen) berjudul Pembunuh Mayat Tanpa Penis karangan Tenni Purwanti. Satu dari sembilan cerpen yang ada dalam buku berjudul Sembilan Budak Setan. 

Kisah pembunuhan beruntun buah pembalasan seorang perempuan bernama Ratu kepada delapan laki-laki pelaku pelecehan. Aku suka ceritanya. Tipikal kisah horor populer yang mendebarkan dengan misteri berlapis. Di balik tindakan sadis, ada sebuah bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki yang kerap menyalahkan tubuh dan penampilan perempuan sebagai penyebab kekerasan seksual.

Buku kumpulan cerpen terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2026 yang terdiri dari 156 halaman ini menyajikan cerita-cerita horor yang menarik dan mengagumkan. Sembilan penulis, sembilan cerita. Masing-masing penulis memiliki gaya penceritaan. Sangat beragam. Ada yang lugas, metaforis, ada pula yang simbolik. 

Kisah setan hanya sebagai pembuka jalan menuju persoalan kehidupan dan konflik sosial, seperti hubungan ibu dan anak yang manipulatif (Malaikat Mama, Cyntha Hariadi), pembantaian massal (Setan Becak, Seno Gumira Ajidarma dan Jamur Lituania, Nelden Djakababa), kesepian dan keputusasaan (Kematian Lelaki Kesepian, Ken Hanggara), perseteruan kakak dan adik (Mata Sungsang, Clara Ng), penolakan pembangunan di desa (Siti Semak-Semak, Gunawan Tri Atmodjo), kekerasan seksual (Pembunuh Mayat Tanpa Penis, Tenni Purwanti), kehidupan dunia roh (Pandemonium, Leopold Adi Surya), dan kolam bekas tambang yang menelan korban (Pulang, Gunawan Maryanto).

Dibuka dengan cerpen Malaikat Mama karangan Cyntha Hariadi. Kisah seorang ibu yang hidup berdua bersama anak lelakinya. Si ibu kerap mengalami peristiwa aneh seperti kerasukan dan menganggap anaknya sebagai malaikat penyelamatnya, di sisi lain si anak merasa terancam dan membenci ibunya. Cerpen ini  memang tidak secara eksplisit menjelaskan masalah apa yang dihadapi sosok ibu, tapi aku menemukan simbolik betapa beratnya kehidupan ibu menjadi orang tua tunggal. Begitu besarnya kasih sayang ibu kepada anak, namun melalui cerpen ini ketulusan seorang ibu dipertanyakan. 

Cerpen Pulang karangan Gunawan Maryanto menjadi penutup buku dengan kisah kembalinya 12 anak setelah 34 tahun hilang tenggelam di kolam bekas tambang. Meski mengherankan namun warga dan perangkat desa berusaha untuk membuatnya tak menggeparkan. Hingga mereka menghilang kembali. Cerita ini memotret realita yang kerap terjadi di Indonesia sekaligus kritik terhadap bisnis pertambangan. Belum lama ini seorang bocah bernama Azam, berusia 12 tahun, ditemukan tewas tenggelam di kolam bekas galian tambang batubara di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Menurut catatan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), bocah SD tersebut merupakan korban tewas ke-56 akibat tenggelam di lubang bekas tambang yang ditinggalkan begitu saja oleh perusahaan.

Buku Sembilan Budak Setan ini melanjutkan proyek penulisan Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad yang pernah bersama-sama menulis buku Kumpulan Budak Setan, sebuah kumpulan cerpen horor yang terinspirasi dari gaya penceritaan Abdullah Harahap, penulis yang sangat produktif di era tahun 80-90an dengan cerita-cerita horor berbalut seks yang kerap dianggap picisan. Di tahun 2016, Eka, Intan, dan Ugoran menggagas sayembara cerpen horor. Lima cerpen terpilih pada sayembara itu menjadi bagian dalam buku Sembilan Budak Setan ini.


-Bekasi-Jakarta, 26 Oktober 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar