Selasa, 03 November 2026

Rigor Mortis


Tubuh kehilangan kelenturan. Otot-otot mulai kaku.

Ada dua jalan kematian. Dinantikan atau tiba-tiba datang. Kematianku menempuh jalan kedua. Saat sedang berlatih teater di kampus sebagai persiapan pementasan naskah drama Mastodon dan Burung Kondor karya W.S. Rendra, dadaku terasa nyeri dan nafasku sesak, dialog yang seharusnya kuucapkan terhenti. Samar-samar kudengar suara kawanku yang panik "Ris, kamu kenapa?" Tubuhku ambruk tak sadarkan diri.

"Mohon maaf, nyawanya tak bisa diselamatkan. Ia sudah meninggal sebelum tiba di rumah sakit ini" kata dokter perempuan itu kepada kawan-kawanku yang ikut mengantarku ke Rumah Sakit Panti Rapih. Malam itu juga ambulans mengantar jenazahku pulang ke Bekasi.

Kulihat bendera kuning terpasang di gapura gang menuju rumah. Di halaman rumah  sudah banyak tetangga-tetangga berkumpul untuk menyambut kedatanganku. Dari dalam rumah ibu keluar sambil menangis histeris dalam pelukan bapak yang berusaha tegar. Anak satu-satunya yang berusia 20 tahun akhirnya pulang.

***

Tubuhku dibungkus kain kafan. Terbujur di ruang sempit dan gelap. Tertutup papan di bawah timbunan tanah. Di atas permukaan tersebar beragam bunga yang sudah mengering dilengkapi batu nisan. Teduh dipayungi pohon mengkudu. 

Aku masih menantikan suara yang akan bertanya siapa Tuhanku, Agamaku, atau Nabiku? Tapi suara itu tak kunjung datang. Dalam sepi hinggap rasa bosan.

Aku berkunjung ke rumah. Kulihat sekumpulan laki-laki melantunkan doa bersama di teras dan ruang tengah. Di antaranya ada bapakku. Sementara para perempuan sibuk menyiapkan segala hidangan untuk para pendoa. Tapi tak kulihat ibu.

Kukunjungi kamarku. Saat kubuka pintu, tampak ibu terbaring di atas kasurku sambil mendekap Rara Mendut karangan Y.B. Mangunwijaya, salah satu buku kesukaanku. Wajahnya kuyu menahan pilu. Terdengar pelan lagu Putih milik Efek Rumah Kaca yang sengaja diputar dari ponsel ibu.

“... dan kematian hanya perpindahan, dan kematian awal kekekalan, karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian”

***

Ibuku, Martinah, seorang pustakawan yang bekerja sebagai pegawai honorer di perpustakaan daerah. Sebelum aku dilahirkan ibu pernah mengandung dua kali dan sebanyak itu pula mengalami keguguran. Saat usianya menginjak 35 tahun atau di usia  ketujuh perkawinannya ibu berhasil melahirkan anak ketiganya melalui bedah sesar. Setelah itu ibu tak pernah bisa hamil lagi.

Bapakku seorang guru, namanya Ismail Hasan. Saat aku lahir usianya 40 tahun. Ia mengajar Seni Budaya di sekolah dasar negeri. Bapak pecinta musik keroncong dan bisa memainkan beberapa instrumen, tapi Ukulele yang sangat ia gemari. Bersama teman-temannya ia membentuk kelompok musik Suaraloka. Setiap minggu pagi, bapak dan kelompok musiknya berlatih di rumah Paman Bagus, pemain kontrabas Suaraloka. Penyanyi dari kelompok itu adalah Martinah, ibuku.

Sejak kecil aku sering ikut bapak dan ibu berlatih musik. Bengawan Solo, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Jembatan Merah adalah tembang-tembang yang sering mereka mainkan. Bapak dan ibu selalu terlihat bahagia. Hubungan antar personil Suaraloka terlihat akrab dan seperti keluarga. Hangat dan menyenangkan.

Pekerjaan dan hobi kedua orang tuaku memengaruhi tumbuh kembangku. Aku menjadi pribadi yang suka membaca buku dan mendengarkan musik. Saat kecil ibu sering membacakan dongeng dan mengajakku ke perpustakaan tempatnya bekerja, membuatku akrab dengan cerita silat karangan Kho Ping Hoo atau karya-karya penulis luar negeri seperti semesta Kelinci Peter karangan Beatrix Potter, petualangan Lima Sekawan karangan Enid Blyton, atau kisah-kisah ajaib karangan Roald Dahl.  Sementara musik yang kugandrungi bukan keroncong. Sebagai generasi Z aku lebih suka mendengar lagu-lagu pop-rok semacam karya dari kelompok musik dalam negeri seperti Efek Rumah Kaca atau Barasuara, sementara dari luar negeri aku suka kelompok musik asal Inggris, Coldplay.

Bagi bapak dan ibu, seorang anak bukanlah gelas kosong atau plastisin, yang diisi atau dibentuk sesuai kehendak orang tua. Tapi pribadi utuh yang juga punya selera dan pemikiran layaknya orang dewasa. Itu alasan kenapa sebagai anak aku tak pernah mereka sepelekan dan kerap dilibatkan dalam diskusi-diskusi mereka mengenai banyak hal terkait sejarah, filsafat, budaya, atau keadaan politik kekinian. Tentu saja banyak hal kutanyakan, tapi selalu dijawab oleh bapak dan ibu secara bergantian. Jika mereka tak yakin dengan kebenaran jawabannya, mereka selalu mengatakannya dan mengajak untuk saling mencari tahu bersama.

“Nak, kamu sudah besar dan dewasa, tetaplah jadilah pribadi yang haus akan pengetahuan dan mampu menaklukkan hal-hal besar. Tapi ingat! imbangi itu dengan sikap rendah hati dan kesahajaan hidup” nasihat ibu kepadaku saat mengantarku ke terminal. Hari itu aku hendak pergi merantau menuju Yogya menggunakan bus. Aku diterima sebagai mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 

Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu ibu dan bapak secara langsung. Aku terlalu sibuk dengan perkuliahan dan menikmati kegiatan-kegiatanku di Yogya. Ibu kerap protes saat sedang melakukan panggilan video. “Ibu dan bapak kangen, Nak. Pulanglah saat senggang” pintanya suatu saat. Pada akhirnya aku pulang, meski tak seperti yang diharapkan.

***

Tak tahan melihat ibu bersedih, aku kembali ke kuburan. Saat baru saja tiba, aku mendengar suara rintihan pelan. "Suara siapa itu?" tanyaku sedikit berteriak. Rintihannya semakin terdengar nyaring tapi tak menjawab. Aku mengira ada yang sedang mengalami siksa kubur. Munkar dan Nakir menyiksanya lantaran sulit menjawab pertanyaan yang mereka ajukan. Orang itu semasa hidupnya pasti banyak berbuat maksiat dan kejahatan.

Rintihan itu tak kunjung usai. Terkadang semakin nyaring, terkadang memelan. Karena penasaran aku pergi ke atas permukaan. Sesekali angin berembus mengibaskan dedaunan. Aroma tanah lembab dan kembang kamboja menyeruak hidung. Aku melihat ada sosok laki-laki berbusana rapi sedang bersimpuh dan menunduk di samping kuburan. Ia sedang menangis. Sepertinya aku menemukan sumber rintihan yang tadi kudengar. Kudekati dia dari arah belakang.

"Halo!" aku mulai menyapanya. Ia membalikkan badannya dan terkejut. "Allah, Islam, Muhammad" ucapnya tiba-tiba dan cepat, terlihat begitu panik. "Bukan. Saya bukan malaikat. Saya Riswan, kuburan saya ada di sebelah sana di bawah pohon mengkudu. Saya baru meninggal dua hari yang lalu" kataku sambil menunjuk arah kuburanku.

Laki-laki itu terdiam, mulai menatap dan mengamatiku. "Maaf, saya tadi kaget. Saya kira malaikat yang datang" katanya sambil mengusap air matanya dan perlahan merasa tenang. "Nama saya Heru. Heru Perdana. Baru dikuburkan sehabis magrib tadi."

"Ya, salam kenal. Saya Riswan Putra. Panggil saja Riswan. Maaf, kalau boleh tahu, apa sebab bapak meninggal?" tanyaku padanya.

Pak Heru lalu bercerita. Kemarin pagi, 29 Juni 2026, sebuah truk boks yang bergerak dari arah Rawa Panjang menuju terminal mengalami rem blong kemudian menabrak dari belakang mobil yang ia kendarai dan belasan sepeda motor. Peristiwa itu terjadi di Jalan Cut Mutia, Bekasi, sebuah persimpangan dekat kampus. Kepalanya membentur kemudi di depannya yang tidak mengeluarkan kantung udara. Pak Heru yang bekerja sebagai kepala cabang sebuah bank himbara, saat itu ia seorang diri di dalam mobil sedang dalam perjalanan berangkat menuju tempat kerjanya di Jalan Juanda, Bekasi. Karena benturan sangat keras, nyawanya tak tertolong. Ia tewas di usia 50 tahun, meninggalkan seorang istri dan satu anak perempuan yang masih berusia 15 tahun.

Pak Heru laki-laki yang taat ajaran agama dan bertanggungjawab. Sejak menikah 20 tahun lalu, istrinya yang semula seorang pramuniaga tak diperbolehkan lagi bekerja karena sebagai kepala keluarga ia merasa sanggup menafkahinya dan mencukupi kebutuhan hidup mertuanya di desa, yang sebelumnya menjadi tanggungan istrinya. Setelah itu kehidupan istri, anak, dan mertuanya sangat bergantung pada hasil jerih payahnya. Kematiannya yang datang tiba-tiba, membuatnya cemas akan masa depan mereka.

"Apa yang membuat bapak cemas? Sebagai kepala cabang, bapak pasti meninggalkan kekayaaan yang cukup untuk digunakan keluarga" tanyaku.

"Kamu benar, Ris. Saya sudah siapkan tabungan yang cukup dan rumah mewah. Kematian pun diasuransikan. Tapi kesalahan saya, membuat istri terjebak di kehidupan dalam rumah sejak menikah. Saya cemas, apakah dia masih memiliki kemampuan untuk menjadi pencari nafkah selanjutnya."

Pernah sekali waktu saat anaknya sudah menginjak usia remaja, istrinya merasa bosan hanya tinggal di rumah dan meminta persetujuannya agar diperbolehkan bekerja. Pak Heru tak memberi persetujuan. Ia menasihati istrinya bahwa mengurus rumah tangga dan mengasuh anak merupakan ibadah yang lebih bermakna di mata Tuhan. Sementara untuk mengobati kebosanan istrinya, ia kerap membuat rencana bertamasya, baik di dalam maupun luar negeri. Tapi keputusan itu ternyata ia sesali.

"Harta peninggalan saya bisa saja dijadikannya modal untuk membangun usaha. Tapi setahu saya, dia tidak pernah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk itu. Dengan usianya sekarang yang sudah empat puluh lima tahun, pasti sulit mencari kerja."

"Kuatkan hati ya, Pak. Kita doakan saja istri bapak mampu melanjutkan hidupnya, menemani anak sampai dewasa, dan menafkahi mertua bapak di desa" kataku mencoba menghiburnya. “Sebaiknya bapak istirahat dulu, saya akan kembali ke kuburan saya.”

Bakteri dalam tubuh mulai memecah protein. Otot berangsur melunak. Semua kaku hilang. Terjadilah pembusukan.


-Bekasi, September 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar