Jumat, 05 April 2013

Kumpulan Sajak Wiji II

SEORANG BURUH MASUK TOKO

Masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap

sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku

aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup
aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap

10 september 1991
----------------------

Kumpulan Sajak Wiji I

SAJAK SUARA

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
Mulut bisa dibungkam
Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku?!

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
Di sana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu: pemberontakan!

Sesungguhnya suara itu bukan perampok
Yang ingin merayah hartamu
Ia ingin bicara
Mengapa kau kokang senjata
Dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?!

Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
Ialah yang mengajari aku bertanya
Dan pada akhirnya tidak bisa tidak
Engkau harus menjawabnya
Apabila engkau tetap bertahan
Aku akan memburumu seperti kutukan!
---------------------------------------

Senin, 25 Februari 2013

Soesilo Toer - Doktor Pemulung

Oleh Gunawan Budi Susanto

Soesilo Toer
DIA terhitung pendek, tak lebih dari 160 cm, dengan wajah bercambang keputihan. Dan, tak lagi muda. Kini, dia berusia 76 tahun. Namun jangan menyangka dia lemah. Macam keladi, tua-tua makin menjadi. Berkali ulang dia, misalnya, bersepeda motor berboncengan dengan sang istri, pergi-pulang dari Blora ke rumah mertua di Yogyakarta. Juga saat menjadi narasumber di Semarang, Kudus, atau Surabaya, dia pun berboncengan motor. Lagi-lagi dengan istri. Fisik oke. Psikis? Diehard, keras kepala! Dia pun keras kemauan, keras bersikap, menghadapi tantangan kehidupan. Pada usia, yang kebanyakan orang lebih memilih duduk manis menikmati masa senja dalam kehidupan, dia justru tak henti-henti bekerja: mencangkul, memulung, menulis, dan memotivasi siapa pun untuk menulis dan terus menulis. Dan, itu dia lakukan di sebuah rumah tua di pojok kota, di Jalan Sumbawa, Jetis, 40 Blora.
 
Di pekarangan rumah itulah, di lahan seluas lebih dari 3.000 m2, dia menanam ratusan pohon jati. Dia juga menanam berbagai pohon buah dan tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai sayur dan obat-obatan. Di rumah itulah dia membangun perpustakaan. Dan, di perpustakaan itulah dia menerima dan menjamu para tamu, tua dan muda, dari berbagai pelosok kota, dari berbagai negara. Dari empat benua sudah, para tamu berdatangan. Tinggal dari Benua Afrika yang belum.

Jumat, 01 Februari 2013

Liputan Berita Sahabat

Dua liputan berita ini merupakan karya sahabatku Ariehta Eleison [KO3] yang baru saja memasuki dunia jurnalistik. Kupublikasikan melalui Blog ini sebagai bentuk penghargaanku kepadanya.

KPK Menolak Permintaan Hartati
POLITIK & HUKUM, 30 Jan 2013

JAKARTA, KOMPAS - Komisi Pemberantasan Korupsi memutuskan mengembalikan sembilan tahanannya dari Rumah Tahanan Cabang KPK di Kompleks Pomdam Jaya, Guntur, Jakarta Selatan, ke Rutan KPK di Kuningan, Jakarta Selatan. Permintaan terdakwa kasus suap Bupati Buol, Hartati Murdaya, kepada KPK untuk tidak dikembalikan ke Rutan KPK tidak dikabulkan.

Senin, 21 Januari 2013

Peristiwa 65: Kita Adalah Korban

Airlangga Pribadi Kusman, Pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga, Kandidat Doktor Asia Research Center Murdoch University

SAAT menelusuri memori traumatik terbesar dalam kehidupan kolektivitas kitaberbangsa, yaitu peristiwa kekerasan massal yang berlangsung pasca 1965, narasi penafsiran kita terhadap peristiwa tersebut seringkali melupakan pertanyaan penting untuk melengkapi historiografi sejarah Indonesia dan  membantu kita menerangi jalan rekonsiliasi antar setiap elemen kebangsaan yang pada masa lalu menjadi aktor sejarah di dalamnya. Pertanyaan penting tersebut adalah apa tujuan politik utama dari kekerasan massal yang mengorbankan 300 ribu-2,5 juta jiwa manusia Indonesia itu?

Memang penelusuran historiografi kekerasan massal pasca 1965 menjadi sesuatu yang masih sumir. Hal ini juga dipengaruhi oleh proses konsolidasi kekuasaan rezim Orde Baru yang membutuhkan pemusatan narasi hegemonik yang menempatkan PKI sebagai pihak yang disalahkan, aktor utama yang merongrong baik kehidupan berbangsa, sendi-sendi dasar Pancasila dan melakukan kejahatan terhadap negara. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Orde Baru dan narasi hegemonik yang melekat dengannya, muncullah narasi-narasi alternatif dalam pembacaan terhadap peristiwa kekerasan massal pasca 1965.

Rabu, 16 Januari 2013

Liburan Di Tempat Lahir Kartini dan Kota Ukir [30-31 Desember 2012]

Oleh : Afidah

Tidak masuk dalam rencana Liburan

Penulis
Berlibur ke Jepara, sesuatu yang tidak terduga di akhir tahun 2012. Sebelumnya sekitar bulan Mei 2011 aku pernah berlibur kesana bersama rekan-rekan kerjaku saat itu dan karena Jepara letaknya tidak terlalu jauh dari kampung halamanku, maka saat masih kecil seingatku sudah beberapa kali aku mengunjungi Kota Jepara. 

Namun ini adalah kali pertama aku mengunjungi Jepara bersama suamiku untuk berwisata dengan menggunakan transport umum (bus), suamiku sudah pernah datang kesana namun untuk urusan kerja dan saat itu diantar mobil dan sopir kantor, begitupun aku selalu datang ke Jepara dengan kendaraan pribadi. Naik transport umum adalah ideku. Menurutku ide ini adalah hal yang sudah jarang kami lakukan dalam rutinitas sehari-hari, jadi akan memberi sensasi berbeda saat liburan. Selain itu naik bus berdesak-desakan juga berfungsi untuk mengolah rasa. Lebih banyak ketidaknyamanan di dalam bus akan membuat kami tetap dekat dengan realitas masyarakat.

Berkenalan Dengan Nelson Mandela

Oleh : Asep Mufti

Di penghujung akhir tahun 2012, Pameran Buku sedang berlangung di Gedung Wanita Jl.Sriwijaya Kota Semarang. Sebagai pecinta buku, event tersebut tidak mungkin kulewati begitu saja. Meluncurlah diriku ke lokasi pameran buku sepulang dari aktifitas kerja.

Setelah berkeliling dari stand satu ke stand yang lain, kaki-pun terasa pegal pertanda perburuan buku harus diakhiri. Beberapa buku kuboyong pulang untuk kujadikan tambahan koleksi perpustakaan pribadi yang oleh isteriku diberi nama Rumah Buku.

Salahsatu buku menarik yang kubeli dari pameran tersebut berjudul “Nelson Mandela, Langkah Menuju Kebebasan, Surat-Surat Dari Bawah Tanah” sebuah buku yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1993. Sampul buku ini berwarna kuning.

Nelson Mandela [Mandela] adalah Mantan Presiden Afrika Selatan yang sebelumnya terlibat dalam perjuangan rakyat Afrika Selatan meraih kemerdekaan dari penjajahan kolonial inggris berikut dengan sistem apartheid-nya. Hanya itu yang kuketahui tentang Mandela -- padahal namanya sudah begitu tersohor. Sedikit sekali pengetahuanku ya, hehe. Karena alasan keterbatasan pengetahuan itulah aku membeli buku tentang Mandela, sambil berharap pengetahuanku tentang Mandela nantinya akan bertambah. 

Buku tersebut terdiri dari 5 Bab dimana tiap bab terdiri dari Sub-bab-Sub-bab. Berisi makalah, pidato, maupun pembelaan dalam sidang pengadilan yang kesemuanya merupakan pikiran-pikiran Mandela selama masa 10 tahun, sejak tahun 1953 sampai dengan tahun 1963.