Minggu, 06 September 2026

Kritikus Adinan


Sinting! lebih gila ketimbang cerita-cerita dalam buku Orang-Orang Bloomington yang pernah kubaca. Barangkali memang gaya Budi Darma (1937-2021) menciptakan karakter tokoh yang janggal dan asosial. Tipikal karya fiksi yang tak mudah dinikmati, tapi mengajak untuk merefleksikan diri serupa saat membaca Gagal Menjadi Manusia (Osamu Dazai) atau Metamorfosa Samsa (Franz Kafka). 

Buku Kritkus Adinan ini berisi kumpulan cerpen. Judul buku diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Bentang tahun 2017, yang terdiri dari 274 halaman. Kupinjam dari Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki.

Ada 15 cerita yang serba absurd. Misalnya cerpen berjudul Krematorium Itu Untukku, tentang seorang yang datang ke pembakaran jenazah kerabatnya, tapi ketika tiba di lokasi dirinya justru ikut dikremasi. Pada cerpen Salipan, seorang lelaki yang mengetahui istrinya pergi berselingkuh mendatangi rumah lelaki selingkuhan istrinya yang ternyata kosong. Ia membakar diri di atas kasur kamar lelaki itu. Lalu saat istri dan selingkuhannya tiba di rumah itu dan melihat terkapar mereka cuek tak nampak terkejut, lalu melanjutkan kemesraannya dengan mandi bersama di sebuah bak.

Ada kutipan dari cerpen berjudul Bambang Subali Budiman yang menurutku sangat reflektif: "Orang kawin karena cinta, yaitu cinta pada diri sendiri ... dia ingin menimang anak kecil untuk kepuasan dirinya sendiri ... dan akhirnya, dia ingin menggantungkan diri pada anaknya kalau dia sudah tua dan mendekati liang kuburnya ... katanya orang ingin menjadi pemimpin untuk membina masyarakat. Ini benar. Tapi yang lebih benar adalah keinginannya untuk menikmati kekuasaan ... kita bersembahyang bukan hanya menyembah Tuhan, melainkan juga untuk memohon rezeki, pahala, dan penghindaran dari malapetaka ... akuilah bahwa sebetulnya kita adalah abdi kepentingan kita sendiri."

Saat membaca satu per satu cerpen, sulit sekali menebak akhir cerita yang kerap menggantung. Seringkali aku terheran-heran dengan tabiat tokohnya. Usai merampungkan satu cerpen dahi berkernyit mencoba memahami apa yang dimaksud penulis. Merenungkannya lebih dulu sebelum lanjut ke cerpen berikutnya. Membaca karangan Budi Darma ini seperti menelusuri soal-soal eksistensialisme yang ditulis dengan gaya reportase.


-Bekasi, 6 September 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar