Jumat, 04 September 2026

Sihir Perempuan


Cara Intan Paramadhita meracik kisah horor dan mistis dengan persoalan kaum perempuan dari perspektif feminis dalam buku kumpulan cerita pendek ini menurutku sangat menarik. Pengalaman pertamaku membaca karya penulis yang juga salah satu pendiri Sekolah Pemikiran Perempuan.

Ada sebelas cerpen dalam buku yang diberi judul Sihir Perempuan ini. Buku cetakan pertama terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2017 yang terdiri dari 158 halaman. Sebelumnya kumpulan cerpen itu pernah diterbitkan oleh penerbit Kata Kita pada tahun 2005.

Tiga cerpen yang paling kusuka adalah Pemintal Kegelapan, Mak Ipah dan Bunga-Bunga, serta Misteri Polaroid. Dalam cerpen Pemintal Kegelapan seorang anak selalu diceritakan dongeng oleh ibunya tentang hantu perempuan penghuni loteng rumahnya. Loteng yang tak boleh dijamahnya. Namun dongeng itu tak lagi menarik setelah ibunya berpisah dengan ayahnya. Setelah menjanda beragam stigma negatif dilekatkan pada ibunya oleh para tetangga, lantaran kerap gonta-ganti pasangan tanpa menikah.

Pada cerpen Mak Ipah dan Bunga-Bunga, diceritakan sosok perempuan bernama Mak Ipah yang dianggap gila oleh para tetangga, punya kebiasaan menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya setiap hari. Suatu hari ia bercerita kepada Marini yang mampir ke rumahnya. Mak Ipah bercerita tentang dirinya, kisah tragis anak perempuannya, dan alasan ia selalu menyiram bunga. Cerita yang getir dan sadis.

Di cerpen Misteri Polaroid, diceritakan seorang fotografer yang selalu diawali menggunakan kamera polaroid dalam pemotretan di studionya sebelum menggunakan kamera digital. Suatu ketika pada sesi pemotretan, selalu muncul cahaya merah yang menutupi gambar objek pada hasil kamera polaroid. Ternyata itu bukan cahaya, tapi penampakan hantu perempuan. Hantu yang dulunya membakar diri di rumah yang kini jadi studio foto.

Cerita-cerita yang ditulis oleh Intan mengangkat isu kerentanan dan ketidaksetaraan yang dialami kaum perempuan. Melalui karakter tokoh-tokoh perempuan pembangkang dan terkadang kejam, menggungah kesadaran akan realitas sosial yang tidak menguntungkan.


-Bekasi, 3 September 2026-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar