Karya-karyanya adalah sayup suara di rumah-bahasanya sendiri
Oleh : Fahri Salam, Penulis Lepas
Oleh : Fahri Salam, Penulis Lepas
”Saya punya minat khusus dengan dia karena [dia]
realistis,” kata Sujiyati, merujuk alasan dia mencintai karya-karya
Pram, dengan mimik serius dan nada tegas.
Sujiyati mengajar bahasa Indonesia kelas tiga SMU Negeri 3 Yogyakarta
di bilangan Kota Baru. Dia berusia paruh baya, kulit hitam coklat,
senada dengan setelan jas dan pantolan hitam keabu-abuan yang dia
kenakan saat saya menemuinya awal Mei 2006. Kami duduk di kursi kayu
berlapis busa di hall depan.
Sujiyati tampak serius menanggapi nasib kepengarangan Pram. Dalam
kurikulum sastra yang dikenalkan kepada siswa sekolah menengah, nama
Pram tak sekalipun tercatat, sebagai referensi maupun ujian. Hanya
karena minat khusus Sujiyati serta inisiatif sendiri, nama Pram
terlontar di ruang kelas. Sujiyati juga minta siswa membaca karya Pram.
Pernah satu kejadian dia bikin soal ujian tentang karya Pram. Kolega
mengajar dia terheran. Sujiyati tanya alasan. Kolega dia menjawab dengan
menghubungkan “Pram” dan “komunis”.




