Sabtu, 10 Januari 2026

Harimau! Harimau!


Novel berjudul Harimau! Harimau! ini karangan Mochtar Lubis, wartawan dan sastrawan yang pernah dipenjara oleh dua rezim, era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Ini pertama kalinya aku membaca fiksi karyanya. Ceritanya mengalir dan enak dibaca. Aku membacanya dari buku terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia cetakan kesebelas berisi 214 halaman. Kupinjam dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Bercerita tentang tujuh orang yang pergi ke hutan untuk mencari dan mengumpulkan damar. Terdiri dari tiga orang yang dituakan di kampung: Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, dan Pak Balam. Serta empat pemuda kampung yang dianggap sopan dan baik: Buyung, Sanip, Sutan, dan Talib.

Di tengah hutan mereka bertemu dan diburu oleh seekor harimau tua lapar. Pak Balam menjadi korban pertama. Sekujur badannya tercabik-cabik, namun berhasil diselamatkan. Peristiwa itu meniciptakan ketakutan sekaligus menjadi awal mula terbongkarnya rahasia mereka masing-masing, yang membuat perseteruan di tengah upaya bertahan hidup di rimba raya.

Kamis, 08 Januari 2026

Madiba, Kayo, dan Buku

 

Awalnya anak bungsuku, Kayo (9 tahun), yang mulai berminat membaca buku-buku fiksi terjemahan karangan Roald Dahl. Seperti Jari Ajaib atau Mr. Fox yang Fantastis. Sementara anak sulungku, Madiba (11 tahun), nampak tak berminat dengan buku-buku itu. Lalu aku mulai mencari beberapa pustaka lewat internet yang kuanggap cocok untuk remaja. Bertemulah dengan serial Bumi karya Tere Liye. Aku membelikan novel Bumi, buku pertama dari serial itu.

Setidaknya ada tiga cara untuk mempertahankan daya tahan mereka membaca buku. Pertama,  novelis Amerika Serikat, James Baldwin, pernah mengatakan "children have never been good at listening to their elder, but they have never failed to imitate them".  Seorang anak tak pernah benar-benar mendengarkan kata-kata orang tua, tapi mereka tak pernah gagal menirunya. Teladan. Itu yang dibutuhkan oleh anak-anak. Maka aku pun harus membaca. Saat itu aku membaca seri Majapahit karangan Langit Kresna Hariadi.

Kedua, menyediakan bukunya. Kubeli dari lokapasar atau meminjam di perpustakaan. Perpustaakan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki dua tempat peminjaman buku yang sering kukunjungi. Ketiga, meminta anak-anakku menceritakan ulang apa yang telah dibacanya. Biasanya untuk setiap satu atau dua bab yang sudah dibaca. Proses ini oleh Charlotte Mason, pendidik asal Inggris, disebut narasi. Tujuannya untuk memastikan anak memahami apa yang mereka baca. Sebaliknya, aku harus memberi perhatian untuk mendengarkan cerita mereka.

Minggu, 04 Januari 2026

Namaku Alam


Dada sesak lantaran merasakan pilu dan mendongkol, sekaligus larut dalam kehangatan hubungan keluarga dan persahabatan dari kehidupan tokoh utama dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Sebegitu emosionalnya membaca novel yang sebetulnya sudah kumulai di akhir tahun 2025 lalu ini, menjadikannya buku fiksi pertama yang kutamatkan di awal tahun 2026. Aku membaca cetakan keduabelas buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2025 yang berisi 438 halaman dengan sampul warna merah bergambar burung nasar.

Segara Alam, tokoh utama dalam novel fiksi ini, adalah anak dari Hananto Prawiro, tahanan politik (tapol) yang ditembak mati pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia. Hananto seorang wartawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi yang oleh rezim saat itu dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia,  partai yang dituduh melakukan gerakan kudeta itu.

Sebagai anak bungsu yang hidup bersama Ibu dan kedua kakak perempuannya, Segara Alam tidak banyak mengetahui kisah kelam keluarganya. Alam lahir di tahun yang sama saat terjadinya Gerakan 30 September. Alam yang masih bayi turut dibawa ke ruang tahanan bersama kedua kakaknya saat Ibunya diinterogasi, mengalami pelecehan dan penyiksaan lantaran bapaknya menghilang. Bapaknya tertangkap saat Alam berusia tiga tahun. Kemudian ditembak mati saat Alam berusia lima tahun.

Selasa, 02 Desember 2025

Laut Bercerita


Setiap hari minggu di rumah, Bapak, Ibu, Biru Laut, dan Asmara Jati makan bersama masakan Ibu sambil memutar piringan hitam mendengarkan lagu The Beatles. Sebuah tradisi keluarga yang bermukim di Ciputat. Kelak Bapak selalu menyediakan satu piring yang akan tetap kosong hingga waktu makan berakhir, karena Biru Laut tak pernah lagi hadir, hilang sejak Maret 1998. 

Novel Laut Bercerita ini buku kedua karya Leila S. Chudori yang kubaca setelah Pulang. Berkisah tentang sekelompok mahasiswa yang hilang di penghujung Orde Baru, serta kegetiran keluarga yang ditinggalkan. Di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, buku ini termasuk paling digemari pembaca. Di bulan September-November 2025, status ketersediaannya selalu kosong saat aku melakukan pencarian di mesin atau menanyakannya kepada petugas penjaga.  

Buku setebal 379 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2017 ini berisi dua bagian dari dua sudut pandang. Bagian pertama dari sudut pandang Biru Laut, sebagai tokoh utama dalam cerita. Dengan alur cerita yang maju-mundur, bercerita tentang sekolompok mahasiswa Jogja yang membentuk kelompok diskusi rahasia dan melakukan perlawanan kepada penguasa bersama buruh dan petani. Kegiatan yang dilakukan di bawah bayang-bayang militer. Intimidasi dan kekerasan senantiasa menyertai, hingga masa penculikan, penyekapan, dan penyiksaan itu tiba.  

Sementara bagian kedua dilihat dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut. Bercerita tentang upaya keluarga yang tak pernah lelah mencari dan mempertanyakan anggota keluarganya yang hilang.

Jumat, 28 November 2025

Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata


Buku setebal 592 halaman terbitan Kepustakaan Populer Gramedia karya Remy Sylado ini sebuah novel yang bercerita tentang seorang gadis bernama Gertruida van Veen bersama kekasihnya yang seorang pelukis, Rob Verschoor, pergi merantau dari Amsterdam menuju Hindia-Belanda setelah ditawari sebuah pekerjaan melukis untuk seorang bangsawan di Jogja dan sebuah proyek pameran lukisan di Bandung. 

Tanpa mereka sadari tawaran pekerjaan itu upaya manipulatif untuk menjerumuskan Gertruida, yang memang berparas cantik, dalam bisnis prostitusi di Bandung yang dikelola oleh seorang Belanda. Niscaya Gertruida dan Rob harus melalui jalan berliku menghadapi setiap persoalan yang akan mereka alami di Hindia-Belanda.

Belajar sejarah dan memperkaya kosakata. Itu kesanku setelah membaca empat buku karya Remy Sylado (Novel Pengeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata). 

Remy Sylado selalu menyisipkan fakta-fakta sejarah dalam karya fiksinya. Misalnya dalam buku Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata ini yang latar waktu ceritanya di sekitar tahun 1920-1930, selain mengenalkan sejarah gedung dan nama-nama jalan pada masa itu, khususnya di Bandung, Remy Sylado juga memotret tumbuhnya pergerakan kemerdekaan Indonesia, semacam Indische Partij atau Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).

Senin, 17 November 2025

Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa


Setelah membaca dua karyanya Novel Pangeran Diponegoro dan Kerudung Merah Kirmizi, aku langsung menggemari gaya penulisan Remy Sylado yang menurutku lugas, sarat informasi, dan mengenalkanku pada kosakata yang tak lazim. Aku melanjutkan membaca karya lainnya Perempuan Bernama Arjuna. Kisah mahasiswi filsafat yang kuliah di Amsterdam, Belanda. 

Sayangnya aku hanya sanggup membaca sampai setengah buku, lantaran sedang malas dengan topik berat yang diangkat dalam novel itu, yaitu filsafat. Sebenarnya buku menarik, hanya kubaca pada waktu yang tidak tepat. Buku itu serupa Dunia Shopie karya Jostein Gaarder.

Aku kembalikan buku Perempuan Bernama Arjuna ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Perpustakaan Jakarta dan menggantinya dengan Cau-Bau-Kan, Hanya Sebuah Dosa, buku yang pada tahun 2002 pernah diadaptasi menjadi film oleh sutradara Nia Dinata.

Bercerita tentang kisah Siti Nurhayati atau Tinung, perempuan Betawi yang buta huruf. Setelah ditinggal mati oleh lelaki yang telah menjadikannya istri kelima, keadaan memaksa Tinung terjerumus dalam dunia prostitusi di Kali Jodo, Batavia. Tinung diajarkan menari dan menyanyi sebagai bekal menjadi perempuan penghibur.

Minggu, 09 November 2025

Pangku, Cinta dan Ketabahan dalam Kemiskinan

 

Kemiskinan begitu lekat dengan masyarakat pesisir atau pinggiran, namun mereka tabah menghadapi persoalan yang silih berganti. Terutama kekuatan seorang Ibu. Kondisi itu digambarkan persis oleh Reza Rahadian dalam debutnya sebagai sutradara di film "Pangku" yang kutonton sore tadi bersama istriku, Afidah, di bioskop dekat rumah, Kota Cinema Mall (KCM) Wisma Asri Bekasi. 

Pangku merujuk pada istilah "Kopi Pangku" praktik prostitusi yang tumbuh dan kembang sejak zaman kolonialisme Belanda di sepanjang Jalan Raya Pos atau Daendles atau Pantura. Ahmad Effendi mengulas itu dengan apik melalui tulisannya "Kopi Pangku, Jejak Kolonial yang Menyala Remang di Pantura" di laman Mojok.

Sartika (Claresta Taufan), yang tak diketahui asal-usulnya, nekat pergi dari rumah seorang diri dalam keadaan hamil 8 untuk mencari pekerjaan. Truk tumpangan menurunkannya di pinggiran Jalan Pantura. Lalu dia singgah di warung kopi yang sepi milik perempuan tua, Maya (Christine Hakim). Lantaran iba hati, Maya mengajak Sartika hidup bersama dan menganggapnya sebagai anak. Sartika bekerja serabutan. Anak yang dikandungnya lahir dan diberi nama Bayu (Shakeel Aisy). Terdesak oleh kebutuhan ekonomi, Sartika pada akhirnya terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi Maya dan jatuh di setiap pangkuan pelanggan lelaki. Warung menjadi ramai. Hingga suatu hari datang Hadi (Fedi Nuril), sopir mobil muatan ikan, pelanggan yang memberi cinta dan harapan kepada Sartika dan Bayu. 

Film itu terbilang minim dialog, tapi peran Claresta Taufan, Fedi Nuril, Shakeel Aisy, dan Christine Hakim menjadikannya begitu nyata dan hidup, membuatku larut dalam suasana haru dan menahan tangis (Bekasi, 8 November 2025).