Malaikat Lereng Tidar ini buku fiksi kelima karya Remy Sylado (1945-2022) yang kutamatkan membacanya, setelah sebelumnya Novel Pangeran Diponegoro, Kerudung Merah Kirmizi, Cau-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa, dan Parijs van Java: Darah Keringat Airmata. Selalu menyenangkan membaca karya-karya penulis serba bisa ini.
Buku terbitan Kompas tahun 2014 dengan 544 halaman itu berisi cerita tentang lika-liku kehidupan dua tokoh, Jehezkiel Tambayong dan Toemirah. Jez, panggilan Jehezkiel, seorang pemuda dari Minahasa yang direkrut menjadi marsose oleh Belanda. Sebuah pasukan militer khusus yang terdiri dari orang-orang Jawa, Manado, dan Ambon yang dibentuk pada tahun 1890 untuk menghadapi perlawanan sengit rakyat Aceh dalam Perang Aceh (1873-1904). Perang itu sendiri telah membuat pusing dan menguras keuangan pemerintah kolonial Belanda.
Dari Minahasa, Jez beserta pasukannya dibawa ke Magelang untuk dilatih sebelum diterjunkan ke Aceh. Saat di Magelang inilah Jez bertemu dengan gadis penjaga warung yang rupawan, Toemirah. Keduanya mabuk asmara dan terikat cinta, membuat jengkel Soembino, lelaki kontet dengan muka prongos yang sudah memiliki delapan istri. Pasalnya Soembino yang seorang pengusaha ini telah lama menaksir Toemirah, dan berniat menjadikannya istri ke sembilan. Setelah kepergian Jez dan pasukan ke Aceh meninggalkan Toemirah yang sudah dinikahi secara mendadak, Soembino merencanakan kejahatan yang kelak membuat nestapa hidup Toemirah, bapaknya, Ngatiman, dan ibunya, Soetirah.
